Antara Rokok dan Pelajar

loading...
loading...
Peringatan “Merokok Membunuhmu” terdapat pada spanduk iklan rokok di tahun 2014 ini, menggantikan peringatan “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. “Merokok Membunuhmu” merupakan slogan semata atau sebuah kebenaran?
Perokok aktif terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari kalangan pejabat, pengusaha, buruh, tukang ojeg, dan lain sebagainya, termasuk para pelajar. Di era modernisasi ini, tidaklah sulit menemukan pelajar yang sedang asyik merokok. Mulai dari pelajar tingkat SMP maupun SMA. Tongkrongan di pinggir jalan atau warung dekat sekolahan menjadi tempat pilihan untuk merokok. Tindakan merokok awalnya mereka lakukan sebagai wujud solidaritas dan gengsi, lama kelamaan menjadi kebiasaan sehingga menyebabkan ketagihan dan kecanduan.
Nikotin yang terdapat pada rokok, merupakan zat adiktif tinggi dan bisa menyebabkan ketergantungan bagi pengonsumsinya. Hampir setiap orang yang mencoba untuk berhenti merokok, mengalami banyak kesulitan dan kendala. Dilakukan berbagai cara demi terhenti menjadi perokok, namun kebanyakan sia-sia belaka. Mereka hanya kuat menahan kurang lebih satu minggu, setelah itu mereka kembali lagi menghisap rokok, kendala tersebut diakibatkan oleh zat adiktif yang terkandung dalam rokok.
Pergaulan dan lingkungan berperan penting dalam memengaruhi seseorang menjadi perokok. Pelajar yang awalnya tidak merokok dan bergaul di sebuah komunitas yang di dalamnya kebanyakan perokok, biasanya akan berpengaruh lebih cepat untuk mulai mencoba dan merasakan hisapan rokok. Tindakan merokok secara bersama-sama merupakan bentuk solidaritas. Sehingga, pelajar yang enggan merokok pada perkumpulan tersebut dikatakan tidak memiliki rasa solidaritas, dan kerap menjadi bahan sindiran. Sindiran yang biasa diutarakan adalah “tidak merokok, berarti bukan lelaki jantan”.
Dalam pergaulan, pelajar perokok kerap kali dikatakan sebagai lelaki jantan. Mengapa? Karena mereka berani melanggar aturan sekolah yang tidak memperkenankan merokok di lingkungan sekitar sekolah dan selama memakai atribut sekolah. Meskipun secara sembunyi-sembunyi tindakan merokok yang mereka lakukan, tetapi memberikan anggapan dari temannya bahwa dia orang pemberani. Selain itu, bintang iklan yang memerankan iklan rokok biasanya lelaki yang gagah, penuh keberanian dan siap menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, pokoknya mencerminkan “laki banget”. Hal tersebut dapat merangsang pola pikir pelajar untuk meniru dan berperilaku seperti itu. Pasalnya, perkembangan pelajar masih labil, rasa ingin mencoba hal baru lebih tinggi, dan terlihat jantan oleh orang lain merupakan impiannya.
“Merokok Membunuhmu” merupakan kampanye anti rokok yang dilakukan oleh Pemerintah dan disampingnya bertuliskan 18+. Mengapa 18+? Dimungkinkan karena rokok diperbolehkan dikonsumsi oleh orang yang telah berusia 18 tahun ke atas. Padahal secara logika, jika pemerintah ingin semua rakyatnya tidak merokok, tinggal menutup akses perijinan rokok. Dengan tidak adanya ijin peredaran rokok oleh Pemerintah, berarti rokok dikatakan “barang ilegal”. Pertanyaannya apakah Pemerintah bisa melakukannya? Rokok yang notabene digemborkan dapat merusak kesehatan manusia, malah menjadi sponsor terbesar dalam bidang olah raga seperti halnya sepak bola. Penyiaran sepak bola seperti Liga premier Ingris dan Piala Dunia membutuhkan dana yang tidak sedikit, sehingga perusahaan rokok memainkan peran kunci dalam penyiaran gratis yang dapat dinikmati oleh penggemar sepak bola di seluruh Indonesia.
Pelajar merupakan aset bangsa dan Negara yang harus dijaga akhlak dan kepribadiannya. Penjagaan aset tersebut harus dilakukan dengan kerjasama yang kuat antara orang tua, guru, masyarakat, dan Pemerintah. Demi terciptanya aset bangsa dan Negara yang berkualitas, aturan dan sanksi yang tegas harus diterapkan bagi pelajar yang diketemukan sedang merokok. Jalinan komunikasi harus dijalankan antar semua elemen, dan saling memberikan informasi serta menghimbau kepada semua penjual rokok agar tidak memperjualbelikan kepada pelajar yang masih mengenakan atribut sekolah.
Dengan adanya jalinan komunikasi dan kerjasama yang baik, dipastikan aset tersebut dapat terjaga sehingga terhindar dari bahaya rokok. Sulit memang, namun melalui pendekatan dan pengarahan yang tepat, pasti lambat laun dapat menemukan titik terang. Bahaya rokok selain memengaruhi terhadap kesehatan, juga memengaruhi terhadap ekonomi. Harga rokok yang melebihi harga satu kilogram beras, kerap tak menjadi guyonan dan perdebatan. Namun, bagi pelajar yang belum mempunyai penghasilan, dipastikan mereka meminta jatah kepada orang tuanya untuk membeli rokok. Meskipun orang tua tak memberikan jatah buat rokok, pasti bagi perokok akan selalu ada jalan supaya bisa merokok, termasuk mengelabui orang tuanya sendiri. Wallohu a’lam…
loading...

Artikel Terkait

Antara Rokok dan Pelajar
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!