UN Masih diperlukan Sebagai Pengukur Kompetensi

loading...
loading...
Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) untuk tahun ajaran sekarang masih dalam peninjauan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdikbud). Saat ini pemerintah masih mencari bentuk ujian lain yang cocok untuk diselenggarakan pada April 2015. Tujuan diselenggarakannya UN adalah untuk mengukur hasil belajar peserta didik dan memetakan kondisi pendidikan.
Selama ini, UN dijadikan sebagai syarat kelulusan siswa di sekolah, khususnya kelas 6 SD, 9 SMP, dan 12 SMA. Tetapi, sedikit ada perubahan dalam pelaksanaan UN tahun ajaran 2013/2014, yaitu digabungkannya dengan nilai Ujian Sekolah (US). Sehingga, meskipun nilai UN nya kecil masih bisa terbantu oleh nilai US hingga akhirnya bisa lulus.
Pada dasarnya, penulis sependapat dengan Doni Koesoema, salah seorang pakar pendidikan, yang menyatakan bahwa UN jangan dibatalkan, tetapi tidak boleh digunakan sebagai syarat kelulusan. Sebab menurutnya, syarat kelulusan harus mengacu pada nilai rapor yang komprehensif, yaitu mulai dari nilai akademis hingga sikap siswa.
Pelaksanaan UN hanya sebagai alat ukur kompetensi kognitif siswa. Hal ini penting, sebab bisa dijadikan sebagai acuan oleh sekolah maupun pemerintah untuk melihat sejauh mana kompentensi yang dimiliki oleh siswa. Tentunya, kompetensi yang dimiliki oleh siswa yang berada di daerah hasilnya bisa berbeda dengan kompetensi siswa yang berada di perkotaan.
Namun, agar kompetensi tersebut bisa diketahui secara akurat. Pastinya harus menghindarkan diri dari perilaku menyimpang, seperti kecurangan yang dilakukan oleh para oknum untuk menyukseskan UN tersebut. Perilaku penyimpangan yang terjadi bukan menjadi rahasia umum lagi. Pasalnya, hal tersebut memiliki alasan yang masuk akal. Alasan pertama, demi masa depan siswanya dan alasan kedua, demi nama baik sekolahnya.
Apabila salah satu siswa dinyatakan tidak lulus dalam UN, otomatis akan berpengaruh terhadap masa depan siswa. Selain hilangnya kesempatan untuk bisa melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi, juga berpengaruh terhadap mental siswa. Rasa minder dan hilangnya kepercayaan diri merupakan faktor utama penyebab hancurnya masa depan seseorang.
Sementara, nama baik sekolah akan tercoreng dengan munculnya ketidakpercayaan para orangtua siswa, sehingga orang tua menjadi enggan untuk mendaftarkan kembali anaknya ke sekolah tersebut. Asumsinya jika masuk ke sekolah tersebut ditakutkan tidak lulus ujian seperti yang telah terjadi sebelumnya.
Oleh karena itu, agar hal demikian tidak terulang kembali namun kompetensi kognitif siswa dapat terukur dengan akurat. Perlu adanya suatu bentuk UN yang bersifat transfaran (terbuka) dan tidak dijadikan sebagai syarat kelulusan tetapi hanya dijadikan sebagai pengukur kompetensi kognitifnya. Salah satu cara yang bisa dicoba adalah menggunakan sistem UN secara online atau Computer Assisted Test (CAT).
Pertanyaannya, beranikah pemerintah mengambil langkah ini? Pasalnya, dana yang harus dikeluarkan oleh pemerintah sangat besar untuk menyediakan sarana dan prasarananya, berupa komputer dan laboratorium komputer di setiap sekolah.
Menurut hemat penulis sendiri, pemerintah harus berani mengambil langkah tersebut. Bukan hanya didapatnya kompetensi kognitif siswa secara akurat sebagai acuan pemerintah untuk melihat keberhasilan pendidikan, melainkan bisa menciptakan generasi emas berkualitas yang terhindar dari kecurangan-kecurangan penyuksesan UN.
loading...

Artikel Terkait

UN Masih diperlukan Sebagai Pengukur Kompetensi
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!