NADI GURU BLOG

Learning Technics

Posted by Dede Taufik on Thursday, 12 March 2015

MENARIK mengikutiplenary session dari Dr Herbert Puchta, seorang profesor dari Teacher Training University di Graz, Austria. Dengan pengalaman panjangnya sebagai praktisi pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua, Puchta mampu memberi inspirasi tentang teknik-teknik pengajaran bahasa, dan bisa jadi juga akan bermanfaat untuk dilakukan guru bidang studi lainnya. Dua buku best sellernya, yaitu English in Mind dan Super Minds yang diterbitkan Cambridge University Press menjadi rujukan hampir semua sekolah menengah atas di kota-kota besar dunia, tidak terkecuali Jakarta.
Bagi sekolah-sekolah dengan tingkat partisipasi dan kemampuan ekonomi orangtua mencukupi, keinginan anak untuk berkembang dengan material yang teruji tentu bukanlah suatu masalah. Metode belajar dengan menggunakan pendekatan berbasis bahasa (Inggris) tentu mensyaratkan kualitas guru yang mumpuni, selain ada kemauan dari orangtua untuk membayar mahal semua kebutuhan sekolah anak-anak mereka. Saya hanya sedang membayangkan, mungkinkah metode semacam Cambridge English bisa diadaptasi dengan baik di sekolah-sekolah negeri kita? Melihat kenyataan itu, kita sepertinya pesimistis mengingat rata-rata kualitas guru negeri tidaklah sebaik guru-guru yang ada di sekolah swasta menengah atas. Hal lain yang juga akan menyulitkan ialah sistem birokrasi kependidikan kita yang masih ragu antara ingin menerapkan desentralisasi dan sentralisasi. Karena itu, yang harus terus dijaga dan dilakukan ialah proses pembinaan guru berkelanjutan, selain perbaikan pada aspek kebijakan pengangkatan guru dan kepala sekolah melalui serangkaian tes yang terbuka dan bertanggung jawab.
Selain itu, kesempatan guru untuk berkembang menjadi lebih baik lagi perlu disegarkan dengan workshop yang mengenalkan mereka dengan beragam pendekatan pembelajaran, terutama tentang strategi-strategi pembelajaran aktif seperti yang dilakukan sekolah-sekolah yang tergabung ke Cambridge English School.
Salah satu model teknik pembelajaran yang diperkenalkan Puchta mungkin baik untuk direnungkan para guru kita.
Dalam proses keseharian belajar-mengajar, misalnya, ketika guru meminta para siswa mereka untuk membaca buku teks, hal lazim yang sering diingatkan dan diminta guru kepada siswa-siswi mereka ialah teknik membaca ulang (rereading) secara terus-menerus dan memberi tanda beberapa kalimat pokok dengan garis bawah (underlining and highlighting) dengan menggunakan Stabilo warna-warni. Namun, ternyata menurut Duvcosky (2013), teknik belajar jenis itu masuk kategori yang kurang efektif dan efi sien dalam meningkatkan daya kritis dan daya nalar serta pemahaman siswa terhadap masalah.
Teknik lain yang juga tingkat keefektifannya lebih baik ialah membandingkan beberapa kata kunci dalam sebuah buku teks dengan asosiasi imajiner otak kita. Teknik itu disebut sebagai keyword mnemonic, dan menurut riset juga kurang efisien dan efektif untuk menumbuhkan critical thinking dalam diri siswa. Juga teknik interleaved practice, dengan siswa sering diminta untuk mempraktikkan pemahaman mereka terhadap beragam masalah secara paralel dalam satu waktu. ternyata memiliki efek yang kurang baik terhadap perkembangan memori anak dalam jangka panjang, karena biasanya teknik belajar jenis itu hanya baik untuk kebutuhan tes jangka pendek dan menengah, tetapi akan terlupakan setelah anak atau siswa keluar atau lulus dari sekolah. Oleh karena itu, menurut Puchta, guru perlu menggunakan teknik lain yang dianggap bagus untuk kebutuhan jangka panjang memori siswa, yaitu teknik tes yang berulangulang (practice testing) dan memahami masalah melalui distribusi persoalan, tetapi masih dalam tema yang sama (distributed practice). Kedua teknik belajar itu, menurut riset Duclovsky (2013), hampir pasti akan membuat siswa memiliki memori jangka panjang yang lebih baik, sekaligus meningkatkan daya kritis para siswa.
Harus diakui, perkembangan teknik belajar memang sangat cepat dan luas. Teknik belajar yang sangat beragam itu tentu sejalan dengan kebutuhan belajar aktif, sebuah pendekatan yang merujuk kepada aktivitas pembelajaran yang melibatkan murid melakukan berbagai hal dan berpikir tentang apa yang dilakukannya (studentcentred). Namun, belajar aktif bukan hanya seperangkat kegiatan. Itu lebih merupakan suatu sikap yang mesti diambil baik oleh murid, guru maupun sekolah untuk menjadikan proses belajar-mengajar menjadi lebih efektif.
Tujuan pengembangan teknik belajar, dalam pandangan saya, ialah untuk menstimulasi kebiasaan berpikir seumur hidup dan menstimulasi murid berpikir tentang ‘bagaimana’ ataupun ‘apa’ yang sedang dipelajari, serta meningkatkan tanggung jawab murid untuk pendidikannya sendiri.
Oleh karena itu, prinsip strategi dan teknik pembelajaran sebaiknya menggunakan juga teknik kolaborasi dengan pasangan atau kelompok, yang membentuk lingkungan belajar yang aman bagi pertumbuhan dan eksplorasi gagasan murid. Apa yang didiskusikan murid dengan pasangan atau kelompoknya atau apa yang di-share dengan temannya membuatnya bisa memahami dan menguasai materi pelajaran.
Karakteristik belajar aktif biasanya dapat dilihat dari seberapa besar murid terlibat dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran, dengan sebanyak mungkin interaksi yang terjadi baik antara guru dan murid ataupun murid dan murid. Selain itu, teknik belajar aktif terbuka untuk menggunakan dan atau menerapkan berbagai model mengajar dan belajar, dan oleh karena itu belajar aktif dapat ditandai suasana dan lingkungan kelas yang dinamis. Beberapa teknik belajar yang dikemukakan dapat digunakan secara maksimal oleh guru. Namun, jika merujuk kepada hasil riset tentang efektivitas belajar-mengajar dalam jangka panjang, teknik melakukan tes tertulis secara berulang dan membuat distribusi peta persoalan secara terus-menerus diyakini akan meningkatkan daya kritis siswa sepanjang hayat.


Oleh : Ahmad Baedowi
(Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta)
Sumber : Media Indonesia 

Previous
« Prev Post

Related Posts

12:39:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!