Mengenang Bandung Lautan Api

Tulisan ini dimuat di Kabar Pembaca, Kabar Priangan 

Oleh: Dede Taufik, S.Pd.
Halo halo Bandung 
Halo-halo Bandung
Ibukota periangan
Halo-halo Bandung
Kota kenang-kenangan
Sudah lama beta
Tidak berjumpa dengan kau
Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung rebut kembali
           
Lagu “Halo, halo Bandung” tercipta sebagai simbol luapan emosi dari para pejuang dan rakyat, bersamaan dengan janji akan datang kembali pada kota tercinta, yang telah menjadi lautan api. Peristiwa lautan api terjadi terjadi pada tahun 1946, tepatnya pada tanggal 24 Maret 1946.
Peristiwa kebakaran besar sebagai bentuk politik “bumi hangus” terjadi di Kota Bandung, Jawa Barat. Dalam kurun waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mencatatkan sejarah melalui pembakaran rumah dan harta benda mereka. Kemudian, mereka meninggalkan Kota Bandung menuju pegunungan di wilayah selatan.
Istilah “Bandung Lautan Api” berawal dari kesepakatan yang diputuskan untuk membumihanguskan Kota Bandung melalui Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3), pada tanggal 23 Maret 1946. Setelah, Jendral Abdul Haris Nasution kembali dari pertemuannya di Regentsweg (sekarang menjadi Jln. Dewi Sartika) bersama Sutan Syahrir, memutuskan langkah yang akan dilaksanakan sesudah mendapat ultimatum dari Inggris, terhadap Kota Bandung.
Abdul Haris Nasution, 1 Mei 1997 menyatakan “Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air.”
Istilah “Bandung Lautan Api” muncul juga di harian Suara Merdeka, pada tanggal 26 Maret 1946. Aji Bastaman, seorang wartawan muda saat itu, menyaksikan kejadian pembumihangusan Kota Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk Garut, Jawa Barat. Dari puncak itu, Aji Bastaman memperhatikan Kota Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.
Setibanya di Tasikmalaya, Ia dengan penuh semangat segera menulis berita dan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api”. Karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi “Bandoeng Laoetan Api”. Berdasarkan EYD, sekarang istilah itu menjadi “Bandung Lautan Api”.
Bandung dibumihanguskan merupakan langkah yang tepat pada saat itu, karena pejuang Republik Indonesia tidak rela apabila Kota Bandung dimanfaatkan pihak Sekutu dan Netherland Indies Civil Administration (NICA). Sementara jika melawan, kekuatan Tentara Republik Indonesia (TRI, sekarang menjadi TNI) dan sekumpulan rakyat tidak sebanding dengan kekuatan Sekutu dan NICA. Setelah kejadian pembumihangusan, TRI bersama rakyat mengadakan perlawanan secara gerilya.
Untuk mengenang kejadian besar tersebut. Maka, setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai hari Bandung Lautan Api.

Artikel Terkait

Mengenang Bandung Lautan Api
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!