Berharap Tontonan Memberikan Tuntunan

Tayangan sinetron di televisi yang sering kita tonton (lihat), jika diperhatikan dan dianalisa berdasarkan kebutuhan perkembangan anak kerap tak memberikan tuntunan. Terutama, bagi sinetron yang menceritakan kisah anak muda di sekolahan.
Hasil analisa pribadi, hampir dari setiap kisah anak muda di sekolahan identik dengan percintaan, kemewahan, dan bahasa alay yang dipergunakan. Sebagai penikmat sinetron, tentunya mengetahui acara "Diam-diam Suka". Didalamnya, mengisahkan anak sekolahan yang awalnya di tingkat SMA dan sekarang telah lanjut ke tingkat perkuliahan. Hal yang paling ditonjolkannya adalah "dance". Dance diceritakan sebagai suatu hal yang paling bergengsi dan salah satu alat untuk eksis di sekolahan.
Dari tontonan tersebut, beberapa hal yang akan penulis komentari, diantaranya: pertama, pemakaian rok mini. Sebagai peminat pemerhati pendidikan, penulis beranggapan bahwasannya pemakaian rok mini itu merupakan perilaku yang tidak baik. Karena hal itu bisa menimbulkan efek negatif bagi penontonnya, terutama bagi mereka yang sedang duduk di bangku sekolah.
Kedua, tentang kemewahan. Hal ini diakui atau tidak, bisa berdampak terhadap gaya hidup anak yang ikut meniru dari gaya hidup di tayangan televisi tersebut. Mereka akan beranggapan kalau mau eksis dan jadi pusat perhatian harus bergaya hidup mewah. Misalkan, memakai mobil mewah, motor mewah, HP mewah. Pokoknya segala serba mewah. Disini yang akan kewalahan adalah orang tuanya sendiri yang harus menanggung biaya gaya hidup anaknya, terutama bagi orang tua dari kalangan menengah ke bawah.
Ketiga, penggunaan bahasa alay. Pada dasarnya, penulis tidak berkeberatan dalam penggunaan bahasa alay. Namun, penulis memperhatikan daya tangkap anak terhadap bahasa alay itu sangat cepat. Seringkali penulis menemukan, dengan fasihnya mereka melafalkan bahasa alay tersebut, lengkap dengan ciri khas si aktor yang memerankannya di televisi. Kadang penulis pun berfikir, andai saja penguasaan bahasa asing sama cepatnya dengan penguasaan bahasa alay. Mungkin saja hari ini semua anak Indonesia pandai berbahasa asing.
Keempat, kisah percintaan. Tayangan sinetron kisah anak muda di sekolahan identik dengan kisah percintaan. Hampir dari setiap episode selalu menceritakan kisah asmara dari lakonnya yang menjadi pemeran utama. Padahal acara tersebut berlatar di sekolah, ya harusnya ada standarisasi dalam penayangannya. Soalnya, saat ini pendidikan menjadi sorotan yang negatif karena banyak kasus yang terjadi.
Sebenarnya acara sinetron yang menceritakan kisah sekolahan bukan hanya "Diam-diam Suka", tetapi masih banyak yang lainnya, seperti "Ganteng Ganteng Serigala", "Siti Bling Bling", "ABG Jadi Manten", dll. Namun kenapa yang dijadikan contoh hanya "Diam-diam Suka"? Alasannya cukup sederhana karena yang seringkali ditonton oleh keluarga penulis adalah acara tersebut.
Penulis pun menyadari, jika acara tersebut banyak hal yang tidak memberikan tuntunan. Namun, karena keluarga telah terhipnotis dengan keunikan acara tersebut yang berkarakter, seperti Sri yang Unyu-unyu, suara khas Noumi, si Pace, dll. Sehingga menjadikan acara tersebut sebagai acara favorit keluarga.
Mengutip dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), terdapat 10 sinetron dan FTV bermasalah dan tidak layak ditonton, diantaranya: Sinetron Ayah Mengapa Aku Berbeda (RCTI), Sinetron Pashmina Aisha (RCTI), Sinetron ABG Jadi Manten (SCTV), Sinetron Ganteng-Ganteng Serigala (SCTV), Sinetron Diam-Diam Suka (SCTV), Sinema Indonesia (ANTV), Sinema Akhir Pekan (ANTV), Sinema Pagi (Indosiar), Sinema Utama Keluarga (MNCTV), dan Bioskop Indonesia Premier (Trans TV).
Oleh karena itu, berdasarkan pada hal yang dikomentari di atas dan permasalahan lainnya seperti yang dikomentari oleh KPI. Penulis berharap banyak agar para produsen yang menggarap sinetron anak sekolahan, untuk bisa memperhatikan budaya bangsa Indonesia sendiri. Budaya yang berjiwa luhur dan berasaskan pancasila. Jangan sampai hanya demi popularitas semata rela mengorbankan karakter anak bangsa. Selain itu, bagi orang tua pun yang memiliki kewajiban penuh dalam mendidik anaknya. Harus bisa memilih dan memilah mana yang layak ditonton maupun tidak oleh anaknya.

(Ditulis : 5 Juni 2014)

Artikel Terkait

Berharap Tontonan Memberikan Tuntunan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...