Guru harus "BERGURU"

loading...
loading...
Seorang guru dalam menjalankan tugas kesehariannya bukan hanya sebatas mentransfer pengetahuan semata. Melainkan harus membentuk karakter siswa. Dalam pembentukan karakter ini, tentunya sudah menjadi keharusan seorang guru pun harus berkarakter. Salah satu upaya yang bisa dilakukan agar tercipta siswa berkarakter adalah guru harus "BERGURU".
"BERGURU" merupakan sebuah asosiasi yang dapat dipanjangkan menjadi BERperilaku diGUgu dan ditiRU. Dalam hal ini, seorang guru hendaklah bertindak sebagai panutan. Setiap perilaku yang dilakukan, baik ucapan maupun perbuatan tidak boleh bertentangan dengan norma hukum dan agama. Apabila terjadi sedikitpun perilaku menyimpang dilakukan oleh seorang guru, akan berakibat fatal. Apalagi, jika perilaku menyimpang itu dilakukan di hadapan peserta didik.
Seringkali, banyak hal yang tidak disadari ataupun enggan untuk menyadarinya. Namun hal itu ada sebagian yang bertentangan dengan apa yang guru terangkan dan ajarkan. Sebagai ilustrasi: Dalam mata pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan) terdapat isi materi yang berkenaan dengan "Hidup tak boleh berlebih-lebihan".
Jika dianalisis, kalimat di atas meskipun pendek tapi maknanya sangat luas dan terkadang terabaikan, apalagi oleh guru perempuan (sebagian). Makna "berlebih-lebihan" disana dapat diartikan sebagai sesuatu yang melebihi batas kewajaran. Mengapa guru perempuan yang diambil sebagai contoh? Karena bukan rahasia umum lagi jika perempuan lebih mementingkan penampilannya. Dengan memakai perhiasan ataupun tas bermerk dan assesoris lainnya.
Pemakaian perhiasan, tas bermerk, dan assesoris lainnya yang melebihi batas kewajaran itulah yang penulis katakan bertentangan dengan salah satu materi ajar tersebut. Tetapi itu hanya sebatas dari pandangan penulis semata. Karena masalah penampilan, setiap orang pasti berpandangan yang berbeda sesuai dengan seleranya masing-masing.
Krusial, jika hal itu memang bertentangan dengan materi ajar. Secara otomatis, pembentukan karakter pada peserta didik pun akan terhambat. Pasalnya, anak akan meniru apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan, dan apa yang mereka dengar. Dengan begitu, sudah sepantasnya seorang guru mengesampingkan egonya sendiri demi tercipta generasi muda yang memiliki karakter berkualitas.
Guru harus "BERGURU" merupakan hak paten bagi seorang guru yang tidak bisa ditawar lagi. Pemberian keteladanan dalam setiap rutinitas kerjanya merupakan hal sakral yang harus terpenuhi. Jika tidak, maka pengaruh negatif bisa merusak karakter siswa. Dengan rusaknya karakter siswa, dapat dipastikan rusak pula generasi bangsa.
Tentunya, hal itu tidak mau terjadi karena generasi bangsa merupakan tonggak kemajuan bangsa. Dan apabila yang menjadi tonggaknya telah rusak dan rapuh, berarti tinggal menunggu tibanya kehancuran. Oleh karena itu, karakter siswa harus dibina melalui seorang guru yang mampu "BERGURU".

(Ditulis : 22 Mei 2014) 
loading...

Artikel Terkait

Guru harus "BERGURU"
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!