NADI GURU BLOG

Pendidikan dan Kesejahteraan

Posted by Dede Taufik on Sunday, 12 April 2015

Indonesia merupakan negara subur dan makmur. Sumber daya alam (SDA) di dalamnya sangat berlimpah, baik SDA di daratan maupun di perairan. Kendati demikian, masih banyak masyarakat yang jauh dari kesejahteraan bahkan tak sedikit terinfeksi penyakit kemiskinan. Lalu, apakah faktor penyebab semua itu? Apakah faktor minimnya pendidikan atau faktor kemalasan?
Jika ditelaah dari faktor pendidikan, justru Indonesia memiliki banyak intansi yang bergerak di bidang pendidikan. Baik instansi yang berada di bawah naungan pemerintah maupun swasta. Mulai dari tingkat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) sampai Perguruan Tinggi. Sedangkan, apabila disebabkan oleh faktor kemalasan. Justru masyarakat kita itu memiliki semangat kerja yang tinggi.
Berdasarkan analisa penulis, kedua faktor tersebut bisa juga memengaruhi terhadap kesejahteraan masyarakat. Pendidikan yang kita kenal saat ini, hanya memfokuskan pada aspek kecerdasan kognitif. Pemokusan tersebut dapat terlihat dari hasil belajar yang selalu dinilai dengan angka. Selain itu, pendidikan saat ini dalam melaksanakan proses pembelajaran selalu terpaku pada buku sumber yang diberikan oleh Kemdikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).
Padahal materi ajar tersebut, belum tentu sesuai dengan kondisi dari setiap masing-masing daerah. Secara ideal, materi yang diajarkan kepada peserta didik harus bisa memberikan pengetahuan yang selaras dengan kebutuhan di daerahnya. Materi tersebut bersifat sebagai pendukung dalam pemanfaatan dan pengelolaan setiap SDA yang ada. Sehingga mampu terwujud SDM (Sumber Daya Manusia) yang handal dan berkualitas.
Menurut hemat penulis, pemanfaatan dan pengelolaan SDA harus diajarkan sejak tingkat SD (Sekolah Dasar). Bukan hanya sebatas materi yang diajarkan, melainkan diaplikasikan langsung melalui praktek di lapangan. Mulai dari melalukan observasi, wawancara, dan melakukannya sendiri. Namun, hal itu disesuaikan dengan tingkat kemampuannya.
Banyak manfaat yang bisa diambil dari pemberian pengetahuan tentang cara memanfaatkan dan mengelola SDA. Salah satunya adalah membentuk sikap peserta didik yang bisa menghargai dalam melestarikan SDA. Selain itu, kelak setelah tumbuh dewasa mereka akan berfikir bagaimana caranya agar SDA itu bisa dimanfaatkan dengan baik tanpa merusak kelestariannya.
Tidak seperti yang kita ketahui sekarang ini banyak SDA yang ada di daerah sendiri, tetapi dikelola oleh orang lain bahkan oleh perusahaan asing. Sebagai contoh penambangan pasir di pantai selatan. Pribumi sendiri hanya bekerja sebagai kuli harian. Padahal jika pemerintah kita melek, bukannya lebih baik SDA tersebut dimanfaatkan sendiri? Jika tidak bisa, maka sudah sepantasnya pemerintah berfikir bagaimana caranya pemanfaatan SDA yang ada bisa dimanfaatkan dan dikelola sendiri.
Tentunya, dalam hal ini yang berperan penting adalah pendidikan. Sudah saatnya pendidikan di kita memerhatikan hal tersebut. Bukan hanya konsep yang dikemas dalam bentuk materi, namun konsep tersebut juga bisa diaplikasikan dalam bentuk praktek.
Dengan begitu, manfaat dari adanya pendidikan akan jauh lebih terasa. Semakin tinggi tingkat pendidikannya, maka akan semakin tinggi pula tingkat kemahirannya dalam mengelola SDA yang ada. Namun, hal itu tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan dari pemerintah secara menyeluruh sebagai pemangku kebijakan. Sehingga pendidikan bisa mendorong meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Semoga…
(Ditulis : 22 Mei 2014) 

Previous
« Prev Post

Related Posts

08:03:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!