NADI GURU BLOG

Menggagas Kembali Pendidikan Moral di Sekolah

Posted by Dede Taufik on Monday, 21 September 2015


Penulis : Dede Taufik, S.Pd. 
Semenjak mata pelajaran Pendidikan Moral dan Pancasila (PMP) dihilangkan dari sekolah. Moral pelajar terus mengalami pergeseran dari waktu ke waktu, menuju arah kelunturan. Lunturnya moral, dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pendidikan keluarga, lingkungan sekitar, tayangan televisi yang tidak menuntun, dan lain-lain.
Berbagai perilaku pelajar yang tak bermoral dan saat ini sedang menjadi perbincangan adalah terkait genk pelajar, tawuran pelajar, dan kekerasan seksual dan fisik di kalangan pelajar.  Bahkan, baru-baru ini dikabarkan oleh beberapa media massa. Jika salah satu pelajar dari sekolah yang terdapat di Kota Sukabumi, telah berani menghajar gurunya sendiri.
Sungguh peristiwa yang sangat memperihatinkan bagi kita semua, khususnya yang berprofesi sebagai guru. Peristiwa itu menandakan bahwa harkat dan martabat guru telah dilecehkan. Padahal, guru merupakan orangtua kedua setelah orangtua kandungnya sendiri. Pastinya, harus dihargai dan dihormati sebagaimana mestinya.
Berkaca dari peristiwa penganiayaan pelajar terhadap guru di Kota Sukabumi, nampaknya para guru harus mulai mengintrofeksi diri. Maksudnya, menganalisis latar belakang mengapa seorang guru telah kurang atau tidak dihargai oleh pelajarnya sendiri. Dengan mengetahui latar belakangnya, diharapkan harkat dan martabat guru bisa dipulihkan kembali.
Salah satu upaya yang penulis sarankan adalah mencoba untuk menggagas kembali pendidikan moral di sekolah. Sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri (Permen) Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Dalam hal ini, budi pekerti adalah istilah lain untuk moral dan penumbuhannya dilakukan dengan melibatkan peran orangtua.
Sungguh luar biasa, jika pendidikan yang dilakukan di sekolah bisa sesuai dengan pendidikan dalam keluarga. Jangan sampai, orangtua menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah tanpa memberi perhatian dan pengawasan. Pasalnya, waktu efektivitas di sekolah relatif lebih singkat. Selain itu, di sekolah kegiatannya terbagi dua yaitu mendidik dan mengajar. Bahkan, proses pengajaran lebih dominan dibandingkan dengan proses mendidik.
Penulis berharap, pendidikan moral atau budi pekerti bisa digagas kembali sebagai suatu mata pelajaran utuh. Artinya, mata pelajaran yang berdiri sendiri. Tujuannya agar pendidikan moral bisa dijalankan dengan terarah. Sehingga, moral bangsa menjadi lebih baik dan bisa memperkokoh kedaulatan NKRI karena saling menghargai dan menghormati. 

Ket : Tulisan ini pernah dimuat di Rubrik Guru Menulis Harian Umum Kabar Priangan (21/09/2015

Previous
« Prev Post

Related Posts

10:56:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!