Prihatin Merebaknya Miras di Kalangan Remaja

(Tulisan ini dimuat di Harian Umum Kabar Pringan, edisi 18 Sept 2015)

Penulis : Dede Taufik, S.Pd. 
Baru-baru ini, kabar priangan secara kontinyu mewartakan berita kematian yang diakibatkan karena meminum minuman keras hasil oplosan. Tak tanggung-tanggung, alkohol 70 persen yang dicampur dengan minuman energi menjadi minuman untuk diteguknya. Alasannya, karena minuman keras yang bermerk harganya mahal dan tidak terjangkau oleh pemabuk kalangan biasa.
Hingga hari Kamis (3/9/2015), jumlah korban minuman keras oplosan yang meninggal dunia di Kabupaten Garut sebanyak sembilan orang (Kabar Priangan, 4/9/2015). Data yang sangat memprihatinkan, apalagi terdapat beberapa orang yang masih berusia 14-17 tahun. Ironisnya, terdapat satu orang yang telah berusia 39 tahun. Secara logika, dalam usia tersebut pola pikirnya sudah matang dan seharusnya memberikan contoh teladan kepada para remaja. Bukan sebaliknya, malah memberikan contoh yang tidak baik sehingga berujung pada kematian.

Pandangan Terhadap Minuman keras
Dalam pandangan Islam, setiap minuman yang memabukkan hukumnya adalah haram. Mengutip dari Al-Qur’an surat al-Maidah ayat 90, yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”
Abdullah bin Amr menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, Orang yang minum khamar lalu mabuk, tidak diterima shalatnya selama 40 hari. Bila dia mati masuk neraka. Bila dia taubat, maka Allah akan mengampuninya. Namun bila kembali minum khamar dan mabuk, tidak diterima shalatnya 40 hari. Bila mati masuk neraka. Bila dia kembali minum, maka hak Allah untuk memberinya minum dari Radghatul Khabal di hari kiamat. Para shahabat bertanya, Ya Rasulallah, apakah Radaghatul khabal? Beliau menjawab, Perasan penduduk neraka. (HR Ibnu Majah)        Sementara dalam pandangan sosial, orang yang suka meminum minuman keras atau pemabuk, hidupnya akan dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Mengapa tidak? Biasanya, tindakan orang mabuk seringkali lepas kontrol. Artinya, melakukan sesuatu yang bisa meresahkan masyarakat, misalnya menggangu orang lain, teriak-teriak, dan tertawa dengan kencang. Jika yang diganggunya merupakan warga masyarakat dari daerah lain. Akan memicu perkelahian hingga berujung pada tawuran antar-kampung.
Selain itu, bagi pemabuk masa depannya akan buram atau tidak jelas. Apalagi jika orang itu sudah kecanduan, pastinya kecil kemungkinan ada perusahaan yang meliriknya. Bahkan, untuk bekerja pun mereka akan malas. Hingga akhirnya, untuk mendapatkan uang agar mereka bisa membeli minuman keras adalah dengan cara meminta paksa kepada orang lain atau disebut pemalakan. Mungkin saja lebih dari itu, yaitu melakukan tindakan kriminal yang lebih berat seperti mencuri dan melakukan pembegalan.
             
Upaya pencegahan
Semakin banyaknya korban akibat minuman keras, khususnya minuman hasil oplosan. Tak sedikit para korbannya merupakan remaja, yang seharusnya menjadi tulang punggung suatu Negara. Oleh karena itu, nampaknya harus segera dilakukan suatu upaya untuk mencegahnya. Beberapa upaya yang dimaksud, sejatinya harus melibatkan peran ulama atau ustad, orang tua, masyarakat, dan pihak kepolisian.
Dalam hal ini, ulama atau ustad berperan penting untuk menggiatkan penyebaran ilmu-ilmu agama. Para anak-anak dan juga remaja, diberikan pemahaman tentang ilmu agama agar mereka bisa selamat di dunia maupun akhirat. Sejatinya, para ulama atau ustad yang ada di lingkungan masyarakat harus bisa mengajak masyarakatnya aktif pada kegiatan keagamaan.
Sayangnya, sebagian besar yang terlibat pada kegiatan keagamaan, hanyalah ibu-ibu dan bapak-bapak. Sementara anak-anak dan remaja, menganggap kegiatan keagamaan di masa kini adalah gengsi karena bukan zamannya. Itulah anggapan yang salah, para ulama harus bisa menumbuhkan kepercayaan bagi mereka agar mereka meyakini bahwa keagamaan merupakan suatu kebutuhan bagi hidupnya di masa kini dan masa depan.
Orangtua, sebagai penanggung jawab segala sesuatu yang berhubungan dengan perilaku anak-anaknya. Sejatinya, harus memberikan bimbingan dan perhatian. Jangan sampai, anak-anak mereka lepas dari pengawasan hingga akhirnya mereka terjerumus dalam kemaksiatan. Disinilah diperlukan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak-anaknya.
Masyarakat dan kepolisian, nampaknya diperlukan kolaborasi yang positif. Maksudnya, jika masyarakat melihat sekumpulan remaja yang sedang berpesta minuman keras. Ataupun menemukan warung yang sedang menjual minuman keras. Masyarakat segera melaporkannya ke pihak kepolisian setempat. Dan pihak kepolisian pun harus langsung menanggapinya agar para pelaku, baik peminum maupun penjual minuman keras dapat diamankan.
Dengan begitu, diharapkan ke depannya tidak ditemukan lagi berbagai dampak minuman keras. Apalagi, jika nyawa yang menjadi taruhannya. Padahal, meminum minuman keras hanya akan membuat kepala pusing dan masalah yang dimiliki pun hanya hilang dalam waktu singkat. Jika pengaruh minumannya hilang, maka masalah pun akan muncul kembali. Jadi, mulai dari sekarang mari kita gelorakan gerakan anti minuman keras. Katakan tidak untuk minuman keras atau minuman keras? No Way!!! 

Artikel Terkait

Prihatin Merebaknya Miras di Kalangan Remaja
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...