NADI GURU BLOG

Akibat Menjiplak Karya Tulis di Internet

Posted by Dede Taufik on Tuesday, 6 October 2015

Akibat Menjiplak Karya Tulis di Internet
Nadi Guru - Pengetahuan apapun yang kita inginkan dengan mudahnya bisa didapat dari internet, termasuk karya tulis berupa Penelitian Tindakan kelas (PTK). Saat ini, karya tulis menjadi salah satu kewajiban yang harus dipenuhi guru sebagai syarat naik pangkat atau golongan. Namun, apa jadinya jika karya tulis yang dibuat oleh guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan hasil menjiplak secara keseluruhan dari internet?
Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh salah satu harian umum, jika dari sembilan ribu orang guru PNS di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, hanya 271 yang memenuhi syarat dan berhak untuk naik pangkat atau golongan. Kebanyakan dari mereka mengalami kegagalan karena isi materi dalam karya tulisnya ditemukan oleh tim penilai merupakan hasil dari copy paste di internet.
Fakta yang tentunya sangat memprihatinkan, fenomena di atas perlu menjadi perhatian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menganalisis latar belakang mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pasalnya, hanya sedikit yang mampu atau layak naik pangkat ke golongan berikutnya. Mungkin saja, ketidaktahuan dalam membuat karya tulis PTK, tidak adanya waktu untuk menyusun karya tulis PTK, atau bahkan yang lebih parahnya karena sikap malas pada diri guru sehingga memilih jalan pintas dengan cara copy paste? Entahlah, yang pasti data tersebut bisa memunculkan pandangan negatif dari profesi lainnya atau masyarakat pada umumnya.
Ujung-ujungnya, akibat dari kejadian tersebut akan mempertajam opini yang menyatakan jika kualitas guru rendah dan tidak mampu bersaing di tengah-tengah kompleksitas tantangan abad 21. Apalagi dengan situasi Indonesia yang kian hari makin terpuruk, karena dampak yang ditimbulkan oleh terus melemahnya harga rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Mengakibatkan hampir di semua sektor mengeluh karena harga kebutuhan terus mengalami peningkatan.
Hingga saat ini, pendidikan masih dipercaya sebagai salah satu jalan untuk bisa memperbaiki Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Namun pendidikan yang bagaimana? Tentunya, pendidikan yang mencerminkan budi pekerti sesuai nilai luhur agama dan pancasila. Dengan demikian, pantaskah guru sebagai praktisi pendidikan menjiplak karya tulis secara keseluruhan untuk kepentingan naik pangkat atau golongan?
Jawabannya pasti tidak, untuk itu nampaknya pemerintah harus mengkaji kembali terhadap Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permen PAN & RB) Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Pasalnya, dalam peraturan tersebut pembuatan karya tulis sangat penting untuk ditempuh oleh seorang guru, jika berkeinginan naik pangkat atau golongan.
Jika hanya gara-gara karya tulis menyebabkan kebanyakan guru gagal naik pangkat atau golongan, nampaknya sangat tidak adil. Pasalnya, tugas utama guru di sekolah adalah “mengajar dan mendidik”. Jika dalam menjalankan tugasnya tersebut ditemukan adanya ketidakseriusan, seperti bolos mengajar atau hanya memberikan tugas agar siswa tidak berisik di kelas. Baru bisa menjadi alasan yang tepat untuk tidak menaikkan pangkat atau golongannya. Khawatirnya, pada kesempatan di tahun depan banyak guru yang memilih untuk fokus mengerjakan karya tulis ketimbang mengajar agar bisa naik pangkat atau golongan.

Previous
« Prev Post

Related Posts

12:47:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!