Budayakan Belajar Sejak Dini

loading...
loading...
Berdasarkan penelitian, pada usia dini 0-6 tahun otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Usia dini merupakan masa-masa keemasan anak (golden age). Oleh karena itu, manfaatkan masa emas anak dengan baik, termasuk membudayakan belajar sejak dini.
Pada dasarnya anak usia dini tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Anak cenderung meniru tentang apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar. Baik itu perilaku benar maupun salah, mereka tetap meniru.
Dengan karakteristik anak yang cepat tanggap. Orang tua berperan penting mengarahkan dan membimbing mereka. Hati-hati dengan perilaku atau tindakan yang menyimpang dan bahasa yang diucapkan, ketika berada di sekitar anak usia dini.
Kadang kita sering merasa heran, tentang perilaku dan ucapan yang dilakukan anak. Namun, jika menyimpang jangan pernah salahkan mereka, apalagi memarahi dan memukulnya. Justru, kita sendiri yang patut dipersalahkan dan berintrofeksi diri tentang apa yang kita tirukan selama ini kepada anak.
Orang tua yang bijak akan selalu berusaha mengerti dan memahami anaknya dalam situasi dan kondisi apapun. Orang tua yang bijak pasti akan bertindak sebagai teladan bagi anaknya. Dan orang tua yang bijak pasti akan berusaha memberikan yang terbaik bagi anaknya.
Siapa yang tidak menginginkan anaknya tumbuh dan berkembang menjadi anak yang cerdas? Siapa yang tidak menginginkan anaknya menjadi orang berhasil dan sukses? Hanya orang gila yang tidak berotak, yang tidak menginginkan hal tersebut. Menurut para ahli, keberhasilan yang didapatkan setelah dewasa ditentukan oleh kebiasaan sejak dini dan anak cerdas dan rajin juga ditentukan oleh kebiasaan sejak usia dini.
Usia dini yang dikatakan sebagai masa emas anak, harus dimanfaatkan oleh orang tua untuk membudayakan belajar. Dengan tertanamnya budaya belajar sejak dini, akan memberikan manfaat besar. Pasalnya, anak bukan lagi menganggap belajar sebagai keharusan, melainkan menganggap belajar sebagai suatu kebutuhan. Jika anak telah menganggap bahwa belajar merupakan suatu kebutuhan, pastinya dengan sendirinya anak akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan itu, tanpa ada paksaan maupun suruhan dari orang tua, anak akan tetap belajar. Dengan tertanamnya budaya belajar pada anak, siapa yang akan bahagia?
Pembudayaan belajar sejak anak usia dini tidaklah sulit, namun membutuhkan kesabaran ekstra. Orang tua cukup bertindak sebagai figur yang memberikan teladan bagi anaknya. Jika menginginkan anaknya menjadi anak yang rajin belajar, otomatis kita sendiri yang harus menunjukkan rajin belajar. Sebagai ilustrasi, kita ambil dua buah buku, yang satu untuk kita sendiri dan satu lagi diberikan kepada anak kita. Kita baca buku itu kalimat per kalimat, sampai beberapa halaman. Lalu perhatikan anak kita, tanpa disadari gaya belajar kita ditiru, mulai cara kita duduk, cara membuka buku, membuka halaman per halaman, dan yang paling menarik mulut anak kita kunyam kenyom seperti sedang membaca buku.
Ilustrasi tersebut merupakan ilustrasi singkat. Namun, jika kegiatan tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan, dengan sendirinya budaya belajar akan tertanam pada anak. Tidak jarang perilaku dari orang tua yang memberikan contoh berbanding terbalik dengan harapan. Apalagi untuk sekarang, dengan perkembangan zaman semakin modern, hampir di setiap rumah terdapat televisi. Tayangan televisi yang dikemas sedemikian rupa, kerap membuat kita memiliki tayangan favorit, sehingga kita merasa tidak mau ketinggalan acara tersebut. Namun, perlu disadari bahwa kita mempunyai anak di usia dini, yang lebih penting daripada acara tersebut. Anak bagaikan kertas putih, dengan lingkungan sekitar sebagai tintanya mengisi kertas tersebut dengan hal-hal yang mereka lihat dan dengar.
Memiliki tayangan favorit di televisi tidaklah salah, tetapi alangkah baiknya kita menirukan terlebih dahulu hal-hal positif yang bermanfaat bagi anak kita, guna kebutuhan di masa depan, termasuk membudayakan belajar sejak dini. Sehingga, budaya belajar tertanam pada diri anak menjadi suatu kebutuhan bukan keharusan semata. Hal ini didorong dan difasilitasi oleh pemerintah melalui program “Satu Desa Satu PAUD”.
loading...

Artikel Terkait

Budayakan Belajar Sejak Dini
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!