Ciptakan Perdamaian Melalui Pendidikan Perdamaian

loading...
loading...
Pendidikan perdamaian diartikan sebagai proses memajukan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan perilaku yang akan memungkinkan anak-anak, remaja, dan orang dewasa mencegah konflik yang nyata maupun terstruktur. Pendidikan ini lebih mengedepankan praktek dibandingkan dengan teori. Teori hanya dipandang sebagai penunjang pengetahuan, agar tindakan yang dilakukan dalam praktek bisa sesuai atau selaras dengan yang diharapkan.
Menurut Sunaryo Kartadinata, terdapat lima langkah untuk menciptakan program pendidikan perdamaian agar bisa lebih efektif. Pertama, membangun sistem pendidikan umum. Di dalam sistem ini, setiap siswa harus berinteraksi dan mempunyai kesempatan untuk bisa membangun hubungan baik antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. 
Kedua, terjalinnya hubungan kerjasama yang baik. Pengalaman bekerja sama harus terjalin dengan kepentingan dan tujuan bersama, penyaluran yang adil terhadap manfaat dan pencapaian tujuan tersebut, serta memperhatikan identitas bersama.
Ketiga, siswa harus diajarkan prosedur kontroversi-konstruktif untuk menjamin bahwa mereka tahu bagaimana membuat keputusan sulit dan terlibat dalam wacana politik. Keempat, siswa harus diajari bagaimana caranya agar bisa terlibat dalam negoisasi terpadu dan medisiasi sejawat untuk menuntaskan konflik secara konstruktif. Kelima, nilai-nilai masyarakat harus ditumbuhkan dengan mengarahkan siswa menuju pada kebaikan umum masyarakat jangka panjang.
Secara sederhana, menurut hemat penulis agar bisa terciptanya perdamaian di dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan menekankan prinsip keteladanan, baik di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, juga di lingkungan masyarakat. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang paling mendominasi terbentuknya karakter peserta didik. Apabila peserta didik tersebut dibesarkan penuh dengan kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya. Bisa diyakini, Ia akan tumbuh menjadi seseorang yang mencintai kedamaian dan membenci kekerasan atau perselisihan. Namun sebaliknya, jika Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang penuh dengan pertengkaran dan kekerasan, Ia akan tumbuh menjadi seseorang yang liar dan menyukai perkelahian.
Selain itu, penerapan pendidikan perdamaian di sekolah bisa dilakukan dengan cara memberikan hukuman yang tidak berbentuk fisik, seperti mencubit, menjewer, dan memukul terhadap peserta didik yang melakukan kesalahan atau pelanggaran di sekolah. Melainkan, dengan memberikan hukuman yang sifatnya memiliki nilai edukatif, seperti membuat artikel, portofolio, dan tugas sejenisnya.
Tak kalah pentingnya juga, lingkungan masyarakat turut serta andil dalam pendidikan perdamaian. Orangtua, harus bisa mengontrol pergaulan anaknya. Dengan siapa Ia bermain dan kegiatan apa yang dilakukannya saat bermain. Pasalnya, pengaruh teman sangat efektif dalam memengaruhi perilaku seseorang dengan alasan “solidaritas”. Misalnya, anak tersebut bergaul dengan komunitas atau genk motor, pasti lambat laun akan menjadi anggota dari komunitas tersebut yang kebanyakannya terkesan dengan aroganisme dan tawuran. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua memilih tempat tinggal yang jauh dari perilaku-perilaku negatif. Alangkah baiknya, jika orangtua memasukkan anak-anaknya ke sebuah pesantren atau sekolah agama untuk membentengi dirinya dengan iman dan ilmu agama.
Diakhir tulisannya, Sunaryo Kartadinata mempercayai jika pendidikan perdamaian bisa dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan pemahaman kita terhadap satu sama lain. Salah satu strategi penerapannya adalah melalui pertunjukkan budaya dari satu negara ke negara lain, seminar, diskusi atau lokakarya budaya. Bila upaya-upaya itu dilakukan secara konsisten, akan mendorong dan mempermudah terwujudnya perdamaian dunia.  
loading...

Artikel Terkait

Ciptakan Perdamaian Melalui Pendidikan Perdamaian
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!