NADI GURU BLOG

Dalam Mendidik Jangan Ada Kekerasan

Posted by Dede Taufik on Tuesday, 6 October 2015

Tingginya tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan dan anak-anak sungguh mengkhawatirkan. Apalagi, jika tindakan kekerasan itu terjadi di wilayah yang sangat kita cintai. Sebagai pendidik sekaligus warga Jawa Barat, sangat prihatin dengan apa yang dinyatakan oleh Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, Netty Prasetyani.
Beliau menyampaikan, jika Jawa Barat merupakan salah satu daerah yang paling sering terjadi kasus kekerasan serta seksual terhadap perempuan dan anak. Tiga daerah yang dijadikan gambaran karena kasusnya cukup tinggi adalah wilayah Bandung Raya, yaitu Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat.
Peristiwa di atas khususnya pada tindakan kekerasan, mungkin saja terjadi akibat dari pola mendidik yang salah. Maksudnya, tindakan kekerasan ditularkan kepada anak-anak dengan tidak disadari. Dalam hal ini, ruang lingkup pendidikan yang berpengaruh besar terhadap pribadi seorang anak dibagi menjadi dua yaitu pendidikan informal (keluarga) dan pendidikan formal (sekolah).
Dalam keluarga, orangtua terkadang kesal ketika mendapatkan anaknya tidak mau diam atau seringkali dikatakan “nakal”. Melihat hal itu, setelah menegurnya dengan suara yang halus namun tetap saja anaknya tidak diam. Spontanitas orangtua membentak anaknya dengan nada tinggi, bahkan tak menutup kemungkinan kekerasan fisik pun terjadi. Misalnya, memukul pantatnya, mencubit tangannya, menjewer telinganya, dan lain-lain.
Tujuan awalnya memang baik, orangtua menginginkan anaknya untuk diam atau tidak nakal. Namun, tanpa disadari jika hal itu dilakukan secara berkelanjutan di setiap melihat anaknya nakal. Berarti, orangtua dengan sengaja sedang mendidik anaknya untuk membiasakan diri melakukan tindakan kekerasan. Mengapa? Karena anak-anak, pada hakekatnya berada pada situasi mengamati yang kemudian menirukannya. Faktanya, kekerasan tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa tetapi dilakukan juga oleh anak-anak.
Sementara di sekolah, kekerasan dilakukan secara turun temurun seperti halnya yang terjadi pada kegiatan masa orientasi peserta didik (MOPD). Senior melakukan kekerasan verbal dengan cara memarahi juniornya yang telah melakukan kesalahan, bahkan kekerasan fisik pun tak menutup kemungkinan terjadi di dalamnya.
Selain itu, tindakan kekerasan juga bisa saja dilakukan oleh guru kepada siswanya. Hal ini karena kenakalan siswa yang sudah melampui batas sehingga memancing emosi seorang guru. Apalagi dengan ditambah masalah keluarga yang terbawa pada situasi di sekolah, yang perasaannya mudah tersentuh meskipun dilakukan sambil bercanda. Namun, tetap saja hal itu harus guru tahan agar tidak terjadi kekerasan verbal maupun fisik terhadap siswa. Jika seorang guru telah melakukan kekerasan kepada siswa, pastinya siswa akan mencontoh dan melakukannya kembali kepada orang lain atau menahan dendam untuk membalasnya ketika sudah keluar dari sekolah. Hal ini dengan mempertimbangkan makna guru sebagai seseorang yang digugu dan ditiru. Tindakan salah pun, tak sedikit yang akan menirunya.
Dengan begitu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dilanjutkan oleh dinas pendidikan setempat. Harus memberikan pelatihan kepada guru dan para orangtua tentang bagaimana cara mendidik yang baik. Bahkan penulis berharap, pemerintah bisa mengadakan seminar umum pendidikan untuk membahas dampak yang akan ditimbulkan akibat proses mendidik dengan kekerasan dan manfaat dari mendidik tanpa kekerasan. 

Previous
« Prev Post

Related Posts

22:13:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!