Dilematis “Tim Sukses” UN dan Posko Pengaduan UN

Posko pengaduan Ujian Nasional (UN) dibuka oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan melalui Gerai Informasi Media (GIM) Pusat Informasi dan Humas, sejak 11 April sampai 16 Mei 2014. Hal ini untuk menerima pengaduan masyarakat berkenaan dengan pelaksanaan UN 2014.
Berbagai alternatif yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengadukan permasalahan terkait UN 2014. Pertama, melalui call center atau telepon dengan menghubungi 177 atau 021-5703303 dan 0816 979 177. Kedua, melalui faksimili dengan menghubungi 021-5733125. Ketiga, melalui SMS ke nomor 0811 976 929. Keempat, melalui email (surat elektronik) dengan mengirimkan ke pengaduan@kemdikbud.go.id. Dan yang kelima, bisa langsung datang ke GIM di Gedung C lantai 1 Kantor Kemdikbud Jakarta. Selain itu, masyarakat juga dapat menyampaikan pengaduannya ke posko yang disediakan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dengan menghubungi nomor 0815 1915 7000 atau 021-7668590.
Dengan adanya posko pengaduan tersebut diharapkan masyarakat bisa memanfaatkannya. Pemanfaatan posko untuk mengadukan berbagai penyimpangan yang terjadi berkaitan dengan segala bentuk tindakan yang dilakukan oleh "Tim Sukses" dalam menyukseskan UN 2014.
 Tim Sukses dalam penyelenggaraan UN memiliki makna ambigu. Pertama, tim sukses secara tertulis dalam juklak dan juknis kepanitiaan. Ia bertugas untuk melancarkan kegiatan UN. Kedua, "tim sukses" secara bayangan. Ia pun memiliki tugas yang sama, yaitu untuk melancarkan kegiatan UN.
Kedua makna tersebut memiliki kesamaan, yaitu sama-sama melancarkan kegiatan UN. Namun, makna yang kedua merupakan makna konotatif. Mengapa? Karena makna kedua dalam melaksanakan tugasnya menyimpang dari ruh pelaksanaan UN sebenarnya. Penyimpangan itu terjadi biasanya berdasarkan kepentingan terstruktur. Dari mulai sekolah sampai pemangku kebijakan itu sendiri. Siapa yang menginginkan peserta didiknya tidak lulus ujian? Siapa pula yang tidak menginginkan peserta didik melanjutkan ke jenjang lebih tinggi sesuai harapan?
Nilai UN dijadikan sebagai syarat untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, mulai dari SD ke SMP dan SMP ke SMA. Dan di tahun 2014 baru kali pertama UN SMA dijadikan syarat melanjutkan ke perguruan tinggi negeri. Hal ini seperti dikutip dari Mohammad Nuh saat diwawancarai Metro TV (Jum'at, 11/04/2014) "Sekarang kita bersyukur betul, sepanjang sejarah kita itu mengawinkan dan mengintegrasikan secara vertikal. Jadi sudah saling percaya, PTN sudah menerima UN sebagai alat masuk ke perguruan tinggi."
Dengan besarnya pengaruh nilai UN terhadap kelanjutan pendidikan, tidak menutup kemungkinan akan terbentuk "tim sukses" bayangan. Mereka akan berusaha keras dan penuh teliti dalam menjalankan tugasnya. Langkah yang bisa dilakukan mulai dari mencari kebocoran soal, mengerjakan soal dan menyebarkan kunci jawaban. Bahkan jika diperlukan, tidak menutup kemungkinan langkah pengubahan lembar jawaban pun dilakukan.
Penyimpangan itu terjadi tentunya memiliki alasan yang cukup masuk akal, yaitu menyelamatkan masa depan peserta didik. Namun, hal tersebut bertentangan dengan ruh UN sendiri. Karena pelaksanaan UN termasuk pada standar nasional pendidikan. Terlebih lagi menyangkut biaya yang dialokasikan pemerintah dalam melaksanakan UN tidaklah sedikit, sehingga harus dilakoni secara serius. Biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk biaya operasional selama pelaksanaan UN 2014 yaitu mencapai setengah triliun lebih. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Mohammad Nuh “Kami sudah sepakat dengan DPR RI Komisi X tentang anggaran UN, angka sekitar 600 Miliar.” (Pusat Ujian Nasional 2014).
Kendati demikian, akan terjadi dilematis pada masyarakat antara mendukung "tim sukses" atau posko pengaduan UN. Pasalnya, kedua pihak itu memiliki kepentingan yang berbeda tetapi kepentingan tersebut sama-sama memberikan efek yang sangat besar. Satu pihak berdalih untuk menyelamatkan masa depan peserta didik, namun di sisi lain pihak kedua untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang jujur dan berprestasi serta terbebas dari unsur KKN.

Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 14 April 2014

Artikel Terkait

Dilematis “Tim Sukses” UN dan Posko Pengaduan UN
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...