Euforia Penghapusan Ujian Nasional

Ditetapkannya penghapusan Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) disambut gembira oleh peserta didik dan guru di sejumlah sekolah. Pasalnya, selama ini Ujian Nasional dipandang sebagai momok yang menakutkan, baik bagi peserta didik maupun pihak sekolah. Sehingga, kerap menimbulkan berbagai penyimpangan dengan membentuk “tim sukses bayangan” untuk menyukseskan Ujian Nasional agar semua peserta didiknya bisa lulus.
Bentuk kegembiraan itu diwujudkan melalui aksi sujud syukur dalam menyambut kebijakan Kemendikbud tersebut. Seperti yang diberitakan Pikiran Rakyat edisi 30 Januari 2015, dalam berita yang berjudul “UN dihapus, Siswa Gembira”, sejumlah siswa dari SMA Negeri 9 Bandung melakukan aksi sujud syukur di Taman Alun-alun Kota Bandung. Hal ini tentunya merupakan angin segar bagi dunia pendidikan karena bisa terlepas dari belenggu Ujian Nasional, yang selama ini ditakuti oleh peserta didik di Indonesia.
Ahmad Taufan, selaku Aktivis Koalisi Pendidikan Kota Bandung dan sekaligus Ketua Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) menyatakan, sejak tahun 2006 pihaknya telah berjuang menuntut pemerintah pusat untuk mencabut Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan. Namun, seiring berjalannya waktu, akhirnya perjuangannya itu dapat dikabulkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, pada pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla saat ini.
Apabila kita renungkan secara seksama, sebenarnya keberadaan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan bisa berdampak positif maupun negatif. Positifnya, yaitu meningkatkan motivasi peserta didik untuk lebih giat lagi belajar. Meskipun, motivasi itu timbul akibat dari tekanan dan paksaan dengan tujuan agar bisa lulus Ujian Nasional dengan nilai yang memuaskan. Tetapi, hal tersebut setidaknya bisa memberikan gairah kepada peserta didik untuk terus belajar.
Sementara negatifnya, bisa berdampak bagi guru dan juga peserta didik. Bagi guru, jika nilai rata-rata yang didapat oleh peserta didik terhadap suatu mata pelajaran itu rendah, maka guru tersebut akan dianggap sebagai guru yang tidak berkualitas. Sedangkan bagi peserta didik, jika hasil nilai Ujian Nasionalnya rendah di bawah batas minimal yang telah ditentukan, maka dia dinyatakan tidak lulus sekolah. Padahal, telah bersusah payah menjalani rutinitas pembelajaran selama tiga tahun dan nasibnya hanya ditentukan oleh 3-4 hari pada saat pelaksanaan Ujian Nasional.
Meskipun, fungsi Ujian Nasional telah diubah dari syarat utama kelulusan menjadi alat ukur pemerataan pendidikan, diharapkan siswa dan guru jangan terlalu bergembira. Hal ini dikhawatirkan, akan terjadi kelengahan dan bisa menimbulkan rasa malas dalam belajar. Pasalnya, tantangan di masa depan akan semakin kompleks dibandingkan dengan tantangan di masa sekarang.
Oleh karena itu, motivasi belajar pada peserta didik harus tetap dijaga. Setidaknya, gambaran untuk tetap menjaga motivasi peserta didik adalah masih terdapatnya standar minimum kompetensi lulusan. Standar kompetensi setiap mata pelajaran, ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) minimal harus bernilai 5,5. Hal itu untuk menunjukkan apakah siswa tersebut telah lulus atau belum dalam menguasai kompetensi di setiap mata pelajaran.
Selain itu, Ujian Nasional juga diwacanakan akan menjadi pertimbangan bagi perguruan tinggi untuk penerimaan mahasiswa baru. Kemudian, apabila nanti secara resmi diberlakukan globalisasi maka persaingan menjadi lebih ketat. Bukan hanya bersaing dengan orang-orang dalam satu negara, melainkan bersaing dengan orang-orang dari luar negeri. Dengan demikian, penyambutan penghapusan Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan dilakukan dengan sewajarnya, agar motivasi selalu tetap terjaga pada diri peserta didik dan juga guru dalam melaksanakan proses pendidikan di sekolah.

Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 31 Januari 2015

Artikel Terkait

Euforia Penghapusan Ujian Nasional
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!