Guru PNS melalui Suap : Loyalitas?

Rumor di kalangan masyarakat berkaitan dengan suap menjadi pegawai Negeri Sipil (PNS), bukan merupakan rahasia umum lagi. Termasuk menjadi PNS di kalangan guru. Dengan adanya sertifikasi, minat menjadi PNS guru dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Terbukti dengan banyaknya peminat ke jurusan keguruan dan jumlah lulusan sarjana pendidikan, terutama PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) selalu bertambah.
Mengapa minat menjadi guru SD mengalami peningkatan? Pasalnya, keberadaan SD lebih banyak dibandingkan jenjang pendidikan menengah pertama maupun menengah atas. Peluang menjadi PNS pun lebih terbuka. Fakta menyebutkan, kuota PNS guru SD lebih banyak ketimbang kuota guru lainnya. Hampir dari setiap kota, dipastikan kuota guru SD selalu ada. Namun, analisis mengatakan kuota tersebut sebenarnya sama saja dengan yang lainnya. Terlihat dari perbandingan kuota dan pelamar yang ada. Misal, kuota guru SD ada 50 0rang, pendaftar yang melamar sekitar 2.500 orang dibandingkan jurusan Matematika SMP/SMA dengan kuota 5 orang dan pendaftar 250 orang. Keduanya, memiliki perbandingan yang sama yaitu, 1 : 50.
Banyaknya kuota guru SD, kerap dijadikan bahan proyek oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Tak terkecuali dengan kuota yang lain. Oknum tersebut, bagaikan hantu bergentayangan yang sedang mencari mangsanya. Namun, tak dijadikan sebagai momok yang menakutkan oleh sebagian orang. Melainkan dianggap sebagai dewa penyelamat.
Penulis sendiri sebenarnya tidak percaya kalau mau jadi PNS harus melalui proses suap menyuap. Tapi, jika memang itu terjadi, apakah mereka loyal dalam bekerja?
Berdasarkan rumor, untuk menjadi PNS harus mengantongi uang sekitar kurang lebih 100-150 juta. Konon katanya pasarannya memang sebesar itu. Jika kurang, jangan pernah berharap banyak karena bisa saja tereleminasi oleh yang lain.
Menurut hitungan matematika, uang yang dikeluarkan untuk suap menjadi PNS dibagi dengan gaji PNS per bulan. Maka, berapa tahun orang bersangkutan menggaji dirinya sendiri? Kurang lebih sekitar 5 sampai 6 tahun, bekerja dengan digaji oleh uang sendiri. Beda ceritanya lagi apabila uang yang digunakan tersebut merupakan hasil pinjaman dari bank. Secara otomatis diakumulasikan dengan bunga.
Tetapi, bukan masalah besarnya uang yang menjadi persoalan, melainkan tentang loyalitas. Apalagi jika menimpa seorang guru. Pada dasarnya guru bukan hanya mentransfer pengetahuan saja, namun juga berkewajiban mendidik peserta didik. Mengutip dari pepatah orang tua “Apalah artinya pengetahuan luas, jika akhlaknya dangkal”.
Menelaah dari pepatah tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwasannya sebuah pengetahuan saja tidak cukup apabila tidak diimbangi dengan akhlak, sehingga menjadi kurang berarti. Dan salah satu tugas guru adalah mendidik peserta didiknya, agar menjadi peserta didik yang berkarakter (sesuai dengan kurikulum 2013).
Hal ini menarik untuk disimak, pasalnya jika terbukti seorang guru menjadi PNS melalui suap atau tindakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), seperti yang ramai diberitakan di beberapa media surat kabar berkenaan dengan hasil pengumuman PNS dari kategori dua (K2), ditemukan adanya kasus manipulasi data.
Dengan begitu, berdasarkan analisis pribadi mampukah membentuk karakter baik pada peserta didik? Sementara dirinya sendiri menjadi PNS melalui hasil suap dan memanipulasi data. Ditakutkan malah karakter yang terbentuk adalah karakter KKN nya. Bukan karakter berkepribadian luhur sesuai dengan pancasila.
Guru merupakan panutan bagi peserta didiknya. Salah maupun benar perilaku dan perkataan guru akan selalu menjadi tiruan bagi peserta didik. Hal ini mengingatkan pada cerita Bapak Nana Ganda (Dosen UPI), ketika masih menjalani rutinitas kuliah di kampus. Beliau menceritakan kasus yang terjadi pada anaknya, ketika sedang membimbing belajar. Anaknya menyanggah bahwasannya cara yang diberikan oleh ayahnya itu salah, karena menurut guru di sekolah cara pengerjaannya bukan seperti itu. Berkali-kali diterangkan namun anaknya tetap menyangkal , sehingga beliau menyimpulkan “Jika anak usia SD cenderung menuruti gurunya di sekolah dibandingkan orang tuanya, meskipun seorang dosen sekalipun”.
Menelisik cerita tersebut, begitu besar sekali pengaruh guru terhadap karakter peserta didik. Guru selalu dianggap benar. Oleh karena itu, tindak tanduk guru harus mencerminkan pribadi yang luhur. Jangan sampai menularkan sesuatu yang bertentangan dengan pancasila.
Seperti yang telah diungkapkan di atas, bahwasannya penulis sendiri tidak percaya adanya suap menyuap untuk menjadi PNS. Namun, jika kenyataannya memang ada maka penulis berharap agar loyalitas dalam bekerja sebagai abdi Negara tetap terjaga demi terwujudnya karakter bangsa yang berkualitas. Semoga.

Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 7 April 2014

Artikel Terkait

Guru PNS melalui Suap : Loyalitas?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...