Guru SD “Guru Rombongan”

loading...
loading...
Guru Sekolah Dasar (SD), dalam menjalankan tugasnya di sekolah dituntut harus segala bisa. Tuntutan itu dimulai dari yang sifatnya akademik, yaitu mengajarkan semua mata pelajaran yang tersedia dalam kurikulum, kecuali mata pelajaran Agama, PJOK (Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan), dan Bahasa Inggris, khusus bagi sekolah yang gurunya tersedia. Selain itu, juga dituntut harus bisa menggambar, menyanyi, dan melukis (non-akademik). Sehingga, julukan yang cocok diberikan kepada guru SD adalah “Guru Rombongan”.
Menjadi guru SD tidaklah mudah, bukan hanya perlu menguasai semua materi pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik. Melainkan juga, perlu menguasai strategi dalam membentuk karakter peserta didik. Pasalnya, secara mendasar pembentukan karakter seseorang dilakukan pada jenjang SD sebagai pendidikan dasar. Tidak menutup kemungkinan, karakter yang muncul pada diri seseorang setelah tumbuh dewasa merupakan karakter hasil pembentukan dari pendidikan dasar.
Menurut Doni Kusuma, karakter adalah ciri, karakteristik, gaya, atau sifat diri dari seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungannya. Sementara, Maxwell menyebutkan bahwa karakter yang baik lebih dari sekedar perkataan, melainkan sebuah pilihan yang membawanya pada kesuksesan. Karakter tersebut berkaitan dengan konsep moral, sikap moral dan perilaku moral (Lickona).
Ketidakmudahan menjadi guru rombongan, perlu dipersiapkan oleh guru SD sebagai pribadinya sendiri dengan cara terus belajar dan berlatih. Selain itu, perlu juga dipersiapkan oleh Perguruan Tinggi yang mencetak guru SD melalui Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Dengan demikian, akan terbentuk suatu korelasi (hubungan timbal balik) antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan kompetensi guru di sekolah.
Oleh karena itu, melihat tugas guru SD sebagai guru rombongan sangatlah berat, sudah sepantasnya keberadaan guru SD untuk diistimewakan. Istimewa disini bukan berarti keluar dari aturan yang telah ditetapkan dalam peraturan tentang keprofesionalan guru. Melainkan, memberikan fasilitas kepada guru SD untuk mempermudah menjalankan proses belajar mengajar di dalam kelas. Fasilitas tersebut tentunya diperlukan untuk membantu meningkatkan pengetahuan peserta didik dan membantu pembentukan karakter peserta didik.
Pada dasarnya penulis setuju dengan ide sederhana yang dikemukakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, untuk mengistimewakan profesi guru. Dengan menempuh dua jalur, yaitu melalui jalur Negara dan melalui jalur gerakan masyarakat. Keduanya harus bersinergi, karena guru merupakan pembentuk potret masa depan bangsa Indonesia dan guru menjadi kunci utama kualitas pendidikan.
Harapannya, ide yang telah dikemukakan tersebut bisa secara nyata dapat segera direalisasikan dan bukan hanya sekedar ide semata. Pasalnya, sebagus apapun ide tersebut apabila tidak direalisasikan, tidak akan menjadi sesuatu yang bermakna dan sia-sia belaka hanya sebatas memberikan kesan harapan palsu, terutama bagi guru honorer. Dimana, guru honorer yang mengajar di SD juga bertindak sebagai guru rombongan dan memiliki peran penting dalam mengajarkan ilmu pengetahuan dan membentuk karakter peserta didik yang berkualitas.
Namun, seiring dengan julukannya sebagai guru rombongan. Guru honorer yang mengajar di SD juga mendapatkan upah layaknya tarif rombongan, yaitu sedikit atau banyaknya jumlah jam mengajar yang ditempuh tidak memengaruhi besar kecilnya upah yang diberikan. Beda halnya dengan guru honorer di pendidikan menengah, yaitu SMP dan SMA. Upah yang diberikan sesuai dengan banyak sedikitnya jumlah jam mengajar. Tentunya hal ini semakin memperkuat asumsi, jika guru SD cocok dijuluki sebagai “Guru Rombongan”. 
loading...

Artikel Terkait

Guru SD “Guru Rombongan”
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!