Ketimpangan Penerapan Kurikulum Ganda

loading...
loading...
Diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 160 Tahun 2014 Tentang Pemberlakuan Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013 (Kurikulum Ganda) bisa menimbulkan ketimpangan pada proses dan hasil pembelajaran di sekolah. Di dalam Permendikbud tersebut dijelaskan bahwa Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang melaksanakan Kurikulum 2013 sejak semester pertama tahun pelajaran 2014/2015 kembali melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 mulai semester kedua tahun pelajaran 2014/2015 sampai ada ketetapan dari Kementerian untuk melaksanakan Kurikulum 2013 (Pasal 1). Sementara bagi sekolah yang telah melaksanakan Kurikulum 2013 selama tiga semester tetap menggunakan Kurikulum 2013 (Pasal 2 ayat 1). 
Namun, di dalam Permendikbud tersebut tidak dijelaskan sampai kapan penerapan Kurikulum Ganda akan tetap dilakukan tetapi hanya dijelaskan dalam pasal 4 yaitu “Satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan Kurikulum Tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020”. Hal itu berarti, penerapan Kurikulum Ganda akan terus diterapkan selama belum diterbitkannya Permendikbud yang baru untuk mengatur penerapan kurikulum yang sama dan bisa memeratakan di semua sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Ketimpangan akan terjadi akibat dari proses pembelajaran yang berbeda antara Kurikulum 2006 yang lebih dikenal KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) dengan Kurikulum 2013. Proses yang berbeda tentunya akan menghasilkan pembelajaran yang berbeda pula sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam masing-masing kurikulum tersebut. Dengan begitu, ke depannya hasil lulusan yang dikeluarkan oleh sekolah akan memiliki dua versi kualitas lulusan, yaitu kualitas lulusan versi KTSP dan kualitas lulusan versi Kurikulum 2013.
Mengetahui perbedaan hasil kualitas pembelajaran antara KTSP dan Kurikulum 2013 dapat terlihat pada beberapa tahun ke depan apabila telah dihasilkan lulusan yang sebanding dengan rentang waktu yang sama, yaitu mulai semester dua tahun ajaran 2014/2015. Entah argumentasi siapa yang terbukti kebenarannya antara argumen yang dikeluarkan oleh Muhammad Nuh, mantan Mendikbud pemerintahan SBY sebagai penggagas Kurikulum 2013 dengan Anies Baswedan, Mendikbud baru pemerintahan Jokowi yang mengembalikan Kurikulum 2013 kembali ke kurikulum sebelumnya (KTSP).
Pasalnya, sampai saat ini keduanya masih saling memberikan argumentasi berkenaan dengan kelebihan-kelebihan dari setiap kurikulum yang diyakininya seperti yang dilansir dari beberapa sumber. Kalau Anies Baswedan mengatakan langkahnya untuk menghentikan Kurikulum 2013 dan mengembalikannya pada KTSP merupakan langkah yang tepat, karena penerapannya dianggap terlalu tergesa-gesa sebelum dievaluasi dan dimatangkan terlebih dahulu. Sementara Muhammad Nuh mengatakan, apabila keputusan yang diambil oleh Mendikbud yang baru tersebut untuk mengembalikan kembali kepada KTSP merupakan langkah kemunduran.
Ketimpangan lain yang bisa terjadi dari penerapan Kurikulum Ganda adalah berimbasnya pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2015 mendatang dan seterusnya. Apakah akan menggunakan model kurikulum 2013 atau KTSP? Atau juga menggabungkan dua model kurikulum dalam pelaksanaan UN mendatang. Menurut Ibnu Hamad, sebagai Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemendikbud, pelaksanaan UN 2015 mendatang masih menggunakan Kurikulum 2006. Namun beda halnya dengan pengamat pendidikan, Jimmy Paat dan Doni Koesoema, yang menyarankan untuk menghentikan pelaksanaan UN. Selain terjadi banyaknya kecurangan, UN dalam masa transisi bisa menimbulkan permasalahan baru.
Menurut hemat penulis, sebaiknya Mendikbud tidak memberlakukan Kurikulum Ganda dan hanya menerapkan satu kurikulum saja, baik itu Kurikulum 2006 maupun Kurikulum 2013 ataupun Kurikulum baru versi mendikbud yang sekarang. Harapannya adalah untuk menyamakan pedoman pelaksanaan pendidikan di sekolah sehingga proses pembelajaran dapat terarah dan menghasilkan kualitas lulusan yang sama. Namun, hal itu dikembalikan lagi kepada Mendikbud selaku pemangku kebijakan yang memiliki wewenang sepenuhnya. Pastinya, keputusan untuk memberlakukan Kurikulum Ganda di sekolah yang berbeda telah melalui proses analisisa dan kajian yang matang demi menciptakan generasi unggul dan berkualitas di masa mendatang. Semoga…

Ket : Tulisan ini dibuat tanggal 15 Desember 2015
loading...

Artikel Terkait

Ketimpangan Penerapan Kurikulum Ganda
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!