KTSP, Kurikulum Tandingan?

Kata tandingan pastinya sudah tak asing lagi terdengar di telinga kita yang artinya adalah menjadi lawan yang seimbang atau sebanding. Apalagi semenjak dilaksanakannya Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden 2014. 
Hadirnya Koalisi Merah Putih (KMP) dalam kubu Prabowo Subianto seringkali saling berhadapan dengan Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dalam kubu Joko Widodo, terutama mengenai urusan di parlemen. Hal itu disebabkan karena kursi parlemen lebih banyak didominasi oleh kubu KMP, sehingga kubu KIH membentuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tandingan sebagai bentuk kekecewaannya.
Bukan hanya itu, setelah Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta juga memunculkan reaksi dari Front Pembela Islam (FPI). Menurut Muchsin Al-Attas, sebagai ketua umum FPI mengaku serius untuk mengajukan Fahrurroji Ishaq menjadi Gubernur DKI untuk menandingi Ahok, sebagai Pelaksana Tugas resmi Gubernur DKI Jakarta karena dianggap lebih unggul dengan mendapat dukungan dari rakyat. Tak ketinggalan pula terbentuknya fenomena Golkar tandingan baru-baru ini sebagai bentuk penyelamatan Partai Golkar. Namun, apa jadinya apabila kata tandingan itu terselip dalam dunia pendidikan? Antara Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 yang diterapkan Muhammad Nuh, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) pada masa Kabinet Indonesia Bersatu Jilid dua, akhirnya dihentikan oleh Mendikbud baru, Anies Baswedan. Penghentian dilakukan bagi sekolah yang baru melaksanakan selama satu semester, sementara bagi sekolah yang telah melaksanakannya tiga semester yaitu mulai tahun ajaran 2013/2014 akan terus dilanjutkan sebagai bentuk pengembangan dan dijadikan sebagai sekolah percontohan dalam penerapan kurikulum 2013.
Alasan yang melatarbelakangi penghentian Kurikulum 2013 yaitu ditemukannya fakta kalau sebagian sekolah belum siap melaksanakannya karena masalah kesiapan buku, sistem penilaian, penataran guru, pendampingan guru, dan pelatihan kepala sekolah. Sehingga, bagi sekolah yang belum siap melaksanakannya diintruksikan oleh Mendikbud untuk kembali kepada kurikulum sebelumnya, yaitu KTSP.
Dengan begitu mulai semester dua, Indonesia akan menerapkan dua kurikulum yang berlaku di sekolah. Pertama, Kurikulum 2013 yang akan dilaksanakan oleh sekitar 6.221 sekolah mulai dari jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Kedua, Kurikulum KTSP yang akan diberlakukan bagi sekolah yang baru melaksanakan Kurikulum 2013 selama satu semester.
Pemberlakukan dua kurikulum di sekolah yang berbeda tetapi masih berdekatan atau satu wilayah juga bisa menimbulkan kesenjangan. Kesenjangan bisa terjadi pada guru sebagai pelaksana maupun peserta didik. Kesenjangan yang terjadi pada guru misalnya, dalam hal jumlah jam mengajar. Jika dalam KTSP jumlah jam untuk mata pelajaran tertentu relatif lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah jam yang tercantum dalam Kurikulum 2013. Hal ini tentunya bisa berpengaruh terhadap pemberian tunjangan bagi guru yang telah melaksanakan sertifikasi, karena apabila jumlah jam mengajarnya kurang maka pencairan tunjangan pun akan tersendat.
Sementara kesenjangan yang terjadi pada peserta didik, yaitu tidak samanya hasil pembelajaran yang diperoleh melalui Kurikulum 2013 dengan KTSP. Aspek kompetensi lulusan dalam Kurikulum 2013 yaitu dengan menyeimbangkan antara soft skills dan hard skills, meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuann sementara dalam KTSP lebih menekankan pada aspek pengetahuan.
Menurut hemat penulis, sebaiknya Kurikulum yang digunakan di sekolah ditetapkan satu saja, apakah itu Kurikulum 2013 atau KTSP agar tidak terjadi kesenjangan pada guru maupun peserta didik. Alangkah baiknya apabila Kurikulum yang diterapkan di sekolah bisa menggali dan mengembangkan potensi yang terdapat dalam setiap individu peserta didik. Sehingga bisa menjawab tantangan masa depan yang semakin kompleks dengan memanfaatkan bonus demografi yang sedang dinikmati dan menyambut dengan siap kedatangan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan diberlakukan awal 2015 mendatang. Apabila tetap akan diberlakukan dua kurikulum pada semester dua tahun ajaran 2014/2015, mungkinkah KTSP ini merupakan kurikulum tandingan bagi Kurikulum 2013?

Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 9 Desember 2014

Artikel Terkait

KTSP, Kurikulum Tandingan?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...