Membangun Zona Nyaman Sekolah

Nadi Guru - HARUS diakui bahwa sekolah belum menjadi tempat yang nyaman bagi sebagian anak-anak, guru, orangtua, atau bahkan secara umum sebagian kecil orangtua. Cara kita menafsirkan sekolah juga sangat beragam, mulai pandangan yang melihat sekolah sebagai satu-satunya tempat untuk mendidik anak, menafikan lingkungan yang lain, hingga pandangan yang melihat sekolah merupakan tempat yang kurang nyaman bagi sebagian orangtua dan siswa karena masih banyak terjadi kasus kekerasan. Secara ekstrem, masyarakat yang kontra dengan keberadaan sekolah kemudian beramai-ramai membuat 'home-schooling' sebagai penanda ketidakpuasaan terhadap apa saja yang berlaku di sekolah.
Maraknya kasus kekerasan di tingkat sekolah tentu saja harus disikapi dengan bijak, baik oleh otoritas pendidikan maupun masyarakat luas. Kesadaran tentang peran sentral sekolah untuk menumbuhkan jenis masyarakat baru yang lebih baik memang terus-menerus memperoleh tantangan seiring dengan berkembangnya tatanan dunia baru yang secara sosial, politik, bahkan tradisi dan budaya berubah dengan cepat.
Apa yang dahulu dianggap baik dan sakral bagi masyarakat, misalnya, jadwal tetap siswa untuk berkunjung ke rumah guru, baik di saat santai maupun karena ada momen tertentu, sekarang menjadi kurang penting karena hubungan jarak jauh melalui media sosial dianggap lebih efektif. Tak terlihat jenis hubungan emosional gurusiswa-orangtua karena proses komunikasi secara langsung seperti hilang dari kesadaran mereka.
Akhirnya, sekolah menjadi tempat pertarungan kebutuhan `jarak jauh' antara orangtua dan guru, serta pengambil kebijakan sehingga sekolah menjadi kurang nyaman bagi anak, guru, dan orangtua.Dialektika Penting untuk menjelaskan kembali kepada setiap orang tentang peran sentral sekolah terhadap masa depan suatu bangsa. Sejarah kemajuan suatu bangsa sebenarnya sering dipertaruhkan siapa saja yang merasa bahwa investasi dalam bidang pendidikan tidak penting.
Namun, tidak jarang efek dari sekolah juga bisa membuat sebuah negara merasa paling benar dan paling beradab sehingga semua jenis ilmu dan pengetahuan dikerahkan untuk menguasai orang lain demi mempertahankan reputasinya sebagai negara maju. Karena itu, tidak mengagetkan jika ada pandangan as is the state, so is the school (sebagaimana negara, seperti itulah sekolah), atau what you want in the state, you must put into the school (apa yang Anda inginkan dalam negara, harus Anda masukkan ke sekolah) merupakan penanda terjadinya dominasi antarnegara dan masyarakat terhadap sekolah.
Di Indonesia, dominasi negara terhadap problematika pendidikan sangat kuat, terlihat dari cara negara membingkainya dalam bentuk kebijakan.Meskipun visi pendidikan nasional ingin menjadikan pendidikan sebagai sarana mewu judkan masyarakat yang cerdas dan bertakwa kepada Tuhan Yangmaha Esa, pendekatan yang digunakan negara dalam merumuskan kebijakan tentang sistem pendidikan nasional terlihat sekali masih sangat formalistis. Kegagalan negara dalam mengelola sekolah akan terus berlanjut karena hingga saat ini pun sekolah belum dijadikan sebagai unit analisis terhadap seluruh kebijakan pendidikan. Negara lebih senang melihat data jumlah siswa, jumlah guru, jumlah ruang belajar, dan jumlah kebutuhan fisik lainnya, tetapi abai dalam melihat sekolah sebagai entitas yang menyatu dengan lingkungan setempat.
Implikasi dari cara pandang negara terhadap sekolah yang seperti ini menimbulkan banyak sekali persoalan, sekolah bukan merupakan zona yang nyaman bagi sebagian siswa, orangtua, guru, dan kepala sekolah. Karena itu, ketika dipercaya untuk mengelola Sekolah Sukma Bangsa di Aceh, saya dan temanteman memilih untuk mengembangkan relasi yang maksimal antara sekolah, masyarakat, dan dinas pendidikan terkait dengan cara memperkenalkan visi dan misi sekolah yang ingin membuat setiap pemangku kepentingan di dalamnya merasa nyaman dan aman.
Menjadikan Sekolah Sukma sebagai sekolah biasa, sekolah yang mengajarkan kesederhanaan tentang hidup dan berpikir (plain living, plain thinking), justru membuat semua orang di dalamnya merasa nyaman. Hal ini tergambar dengan jelas dari visi misi yang disepakati, yaitu keinginan untuk membuat sekolah menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi seluruh komunitas sekolah.
Hubungan antarsiswa dan siswa pun berlangsung harmonis, siswa dengan guru saling menghargai, serta guru dengan manajemen sekolah saling menghormati dan saling percaya.Contoh teladan Tak mudah memang meyakinkan semua pihak bahwa sekolah haruslah menjadi fundamental yang kukuh tentang sikap jujur, toleran, dan saling menghargai sebagai penanda kesederhanaan. Sebagai sebuah pilihan, kesederhanaan dalam berpikir akan menuntun setiap guru dan siswa untuk berpikir hal yang sama, yaitu mencari lembar-lembar kesederhanaan secara bersama dan melakukan kesepakatan untuk secara konsisten melaksanakannya.
Dalam terminologi Rick Weissbourd, “Most adults, including most teachers, don't see themselves as engaged in their own moral growth.“ Karena itu, memberikan teladan dan membiasakan hal-hal kecil yang sederhana seperti mengucapkan terima kasih kepada siswa dalam setiap akhir sesi belajar ialah cara untuk meneguhkan karakter anak melalui pembiasaan.
Sekolah yang memiliki distingsi dan kesadaran luas tentang pendidikan pasti tak akan terpengaruh oleh status dan label tertentu. Jika komunitas sekolah memiliki keinginan kuat untuk memberikan contoh dan teladan yang baik, muara dari pendidikan agama, moral, dan etika di sekolah pasti akan menjelma menjadi semacam virtue (kebajikan) dalam diri seorang anak.
Filsafat pendidikan Aristotelian (1995) dengan jelas mengonfirmasi bahwa “the most important thing to be learned is virtue or excellence of character, and the only way that this can be learned is by witnessing exemplary members of one's community as they enact the virtues“. Karena itu, tugas kita semua untuk memastikan bahwa separah apa pun kondisi sosial masyarakat dan negara, pendidikan harus memiliki cara yang benar dalam mentransfer virtue ke dalam relung hati anak didik kita.

Penulis : Ahmad Baedowi, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta.
Source : Media Indonesia 

Artikel Terkait

Membangun Zona Nyaman Sekolah
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...