NADI GURU BLOG

Membebaskan Sekolah dari Asap Rokok

Posted by Dede Taufik on Tuesday, 6 October 2015

Tidak bisa dipungkiri lagi, jika hampir di setiap sekolah dari jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, asap rokok selalu menyelimuti di lingkungan sekolah. Tak sedikit guru dan staf kependidikan merupakan perokok aktif, terutama untuk kaum laki-laki. Idealnya, lingkungan sekolah sebagai wahana atau tempat menimba ilmu harus terbebas dari asap rokok. Oleh karena itu, tidak ada salahnya dan justru menjadi keharusan dari pemerintah untuk memberlakukan peraturan yang melarang merokok di lingkungan sekolah sebagai bentuk pembebasan sekolah dari asap rokok.
Asap rokok yang ditimbulkan bisa menjadi salah satu penyebab polusi udara. Akibatnya bukan hanya ditanggung oleh perokok itu sendiri (perokok aktif), akan tetapi oleh seseorang yang menghirup asap rokok dari orang yang sedang merokok (perokok pasif). Bahkan bahaya yang didapat oleh perokok pasif lebih besar dari perokok aktif, yaitu sekitar tiga kali lipatnya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh dr. Widyastuti Soerojo, aktifis dari Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), jika sebanyak 25 persen zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok, sedangkan 75 persennya beredar di udara bebas yang berisiko masuk ke tubuh orang di sekelilingnya.
Zat berbahaya yang terkandung dalam rokok, diantaranya adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Tar adalah kumpulan senyawa kimia yang bisa mengendap dalam tubuh dan sebagai pemicu terjadinya iritasi paru-paru dan kanker serta bagi perokok pasif, tar ini bisa terkonsentrasi tiga kali lipat dari perokok aktif. Nikotin, zat candu yang sangat kuat melebihi heroin dan kokain. Nikotin pada rokok bisa memengaruhi hormon-hormon yang diproduksi dalam tubuh sehingga berpengaruh pada mood tubuh dan metabolism otak. Sedangkan, karbon Monoksida Merupakan gas berbahaya yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam tubuh. Pengikatan oksigen oleh karbon monoksida inilah yang kemudian memicu terjadinya penyakit jantung.
Penghuni sekolah kebanyakannya adalah peserta didik. Jika guru, staf kependidikan, dan masyarakat sekitar lingkungan sekolah tersebut banyak yang menjadi perokok aktif, maka yang menjadi perokok pasifnya adalah peserta didik. Sementara, telah dijelaskan di atas kalau resiko bagi perokok pasif tiga kali lebih besar dibandingkan dengan prokok aktif. Dengan begitu, dapat diasumsikan kalau lingkungan sekolah dengan sengaja namun tanpa menyadari telah merusak kesehatan peserta didik yang bakal menjadi generasi penerus bangsa.
Padahal kita tahu bersama ada ungkapan dari bahasa latin dan bahkan terpampang jelas di dinding sekolah, yaitu “mens sana in corpora sano”, artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Seharusnya ungkapan tersebut bukan hanya slogan semata, melainkan dimaknai dengan tindakan nyata. Salah satunya membebaskan sekolah dari asap rokok, agar lingkungan sekolah terhindar dari polusi udara yang bisa membahayakan kesehatan para penghuninya.
Tantangan terbesar untuk bisa membebaskan sekolah dari asap rokok adalah kesadaran dari dalam diri sendiri. Pasalnya, banyak cara yang bisa dilakukan dan beribu-ribu alasan bagi perokok untuk tetap bisa merokok. Memang tak mudah untuk bisa menjalankan program tersebut. Perlu adanya suatu pemahaman bersama dan memiliki tujuan yang sama pula. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memulainya dari kepala sekolah.
Kepala sekolah merupakan pimpinan yang memiliki wewenang dan kekuasaan untuk mengatur dan mengelola organisasi di lingkungan sekolahnya. Jika kepala sekolah tersebut juga sebagai seorang perokok aktif, harus perlahan-lahan untuk memulai berhenti merokok di lingkungan sekolah. Setelah itu, barulah mengadakan kesepakatan bersama guru-guru lainnya. Minimal untuk langkah awal, membebaskan sekolah dari asap rokok selama peserta didik masih ada di lingkungan sekolah. Tentunya hal itu juga harus didukung oleh masyarakat sekitar, sehingga sekolah bisa benar-benar terbebas dari asap rokok dan peserta didik sebagai generasi bangsa bisa memiliki jiwa yang sehat dan berkualitas.

Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 5 November 2014

Previous
« Prev Post

Related Posts

22:54:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!