NADI GURU BLOG

Mencermati Fenomena Batu Akik

Posted by Dede Taufik on Tuesday, 6 October 2015

Fenomena batu akik dewasa ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Tempat pengrajin dan pameran batu akik seringkali dipenuhi oleh pengunjung, baik dari kalangan masyarakat biasa, pejabat, dan guru, termasuk juga pelajar. Hal ini bisa diasumsikan kalau fenomena batu akik tidak mengenal batas usia dan pekerjaan yang sedang digeluti penggemarnya.
Dalam berbagai perkumpulan di wahana pendidikan (sekolah), seringkali batu akik menjadi topik yang hangat diperbincangkan di kalangan guru dan praktisi pendidikan lainnya. Saling tukar menukar untuk saling melihat keunikan batu akik pun menjadi kebiasaan yang dilakukan. Apalagi, jika batu akik yang dipergunakan selalu berbeda-beda di tiap harinya.
Tidak heran, apabila batu akik melingkar di jari seseorang lebih dari satu atau dua. Hal itu sebagai bentuk sensasi untuk menarik perhatian orang-orang yang berada di sekitarnya. Selain sensasi, tidak menutup kemungkinan terdapat juga orang yang mempercayai jika batu akik yang dikenakannya memiliki aura mistik. Dengan alasan, bisa memberikan dampak bagi diri dan kehidupannya.
Fenomena batu akik yang menarik perhatian dan menjadi inspirasi bagi berbagai kepala daerah adalah dibentuknya Peraturan Daerah (Perda) tentang batu akik di Kabupaten Purbalingga. Menurut Sukentho Ridho Marhaendrianto, selaku Bupati Purbalingga menyatakan, bagi yang mencintai Purbalingga serta untuk semua warga yang mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan lahir di Purbalingga wajib memakai batu Klawing. Selain itu, bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dihimbaukan juga untuk memakai batu akik dari Sungai Klawing.
Daerah yang terinspirasi, misalnya Kuningan Jawa Barat. Hal ini berdasarkan animo masyarakat yang sangat tinggi terhadap penggunaan batu akik. Dengan adanya Perda, diharapkan bisa mengatur perputaran batu akik yang dapat memberikan sumbangsih terhadap pendapatan daerah. Wacana pembuatan Perda batu akik juga disambut baik oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), dengan menyetujui langkah inisiatif tersebut.
Menurut hemat penulis, fenomena batu akik yang menjamur di berbagai kalangan layak untuk diapresiasi. Pasalnya, bisa meningkatkan pendapatan masyarakat yang bergerak sebagai pengrajin dan pembisnis batu akik. Masyarakat yang tadinya bingung untuk mencari pekerjaan karena sempitnya lapangan pekerjaan, akhirnya bisa menemukan peluang baru dalam bisnis batu akik yang penghasilannya sangat menggiurkan.
Sementara bagi guru, bisa dijadikan sebagai salah satu contoh alat peraga yang nyata tentang keberadaan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Indonesia. Peserta didik harus mengetahui, bahwa SDA di Indonesia berlimpah ruah dan apabila dimanfaatkan secara tepat akan mampu mendatangkan kesejahteraan bagi hidupnya. Dalam hal ini, pendidikan merupakan jembatan untuk menggapai semua itu. SDA adalah milik kita, maka harus dimanfaatkan oleh kita, bukan oleh bangsa dari negara lain.
Batu akik, hanya sebagian kecil SDA yang ada. Masih banyak potensi lain yang perlu digali keberadaannya. Namun, tentunya perlu didukung oleh pengetahuan yang didapat melalui jalur pendidikan, baik pendidikan yang sifatnya formal maupun nonformal. Sehingga, SDA yang ada di Indonesia bisa dimanfaatkan oleh bangsa Indonesia sendiri dan mampu menyejahterakan bangsanya. 

Previous
« Prev Post

Related Posts

22:45:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!