Menerka Sekolah 100 Tahun Lagi

loading...
loading...
Nadi Guru - SEKOLAH, kata yang tak asing lagi bagi kita. Bagaimana tidak, kita, orangtua, maupun anak kita sudah atau sedang mengecap rasa sekolah. Lalu, bagaimana rasa sekolah yang kita dapat? Samakah atau berbeda dari generasi ke generasi?
Pernyataan dan pertanyaan tersebut tiba-tiba saja terlintas di benak saya saat menunggui siswa kelas II SD Sukma Bangsa Pidie mengerjakan tugas tahsin-nya (menulis beberapa kata sederhana dari Iqra'). Melihat mereka merasa senang bersekolah, bercanda (meski guru mengawasi mereka), dan kadang sangat manja dengan guru. Kembali ke 20-an tahun yang silam, saat saya masih di bangku SD, saya juga senang bersekolah.Namun, ada yang berbeda dengan mereka. Bagi kami saat itu, guru bagaikan dewa, disegani, bahkan ditakuti.Saat guru ada di kelas, semua seperti terhipnotis untuk menjadi anak yang sangat patuh, melihat ke depan, dan tanpa suara (kelas bagai kuburanred). Guru saat itu sangat diharapkan ketidakhadirannya, dan pastinya libur sekolah juga menjadi hal yang dinantikan. Sekolah tidak memberikan peluang untuk siswa berani berdemokrasi apalagi mengkritik, dan saya yakin hal ini juga dirasakan kebanyakan anak di sekolah lain, di seluruh Indonesia.
Kembali ke SD Sukma yang selalu mengupayakan hal-hal positif tumbuh menjadi karakter peserta didiknya, memberi rasa nyaman bagi mereka yang menuntut ilmu.Siswa dibiasakan untuk saling membicarakan masalah dan menemukan solusi bersama, menegur teman, bahkan guru yang mungkin lupa terhadap aturan yang telah ditetapkan bersama. Guru bagi mereka bagaikan teman sekaligus orangtua. Saya juga pernah diingatkan oleh salah seorang siswa kelas 1, saat memastikan guru sudah memulai KBM di kelas. Saat itu, saya mendongak agak ke dalam tanpa melepas sepatu (semua lepas sepatu di dalam kelas-red), dan spontan anak tersebut meneriaki saya, “Ibu buka sepatu dulu baru boleh masuk kelas kami!“ Dengan senyum manis, saya mundur secara perlahan sambil meminta maaf pada mereka, dan dalam hati merasa bangga akan kekritisan mereka.
Saat saya SD, tak akan ada seorang siswa pun yang berani menegur guru apalagi di de pan umum. Bagi kami, guru manusia tanpa salah. Jika ada guru yang salah, kembali ke pasal pertama (guru tidak pernah salah). Hal ini mungkin juga terjadi beberapa dekade yang lalu dan hampir dipastikan terjadi di seluruh pelosok negeri ini. Me ngapa saya bisa menyimpulkan demikian? Ya, jelas sekali betapa karut-marutnya negeri kita saat ini, dan mereka yang menjadi tokoh-tokoh penting negeri ini ialah hasil didikan dengan sistem otoriter se hingga de ngan mudah kita melihat persengketaan antara wakil rakyat (perkelahian) saat sidang kenegaraan, praktik suap terjadi hampir di segala bidang, dan yang berkuasa menindas yang miskin. Bukankah hal ini dikarenakan kita terbiasa dalam pola hierarki `yang kuat yang berkuasa'.
Demokrasi hanya simbolisasi, yang pada kenyataannya tak semua orang dibiasakan menyuarakan pendapat apalagi mengkritisi yang lebih berkuasa.Belajar dari Jepang Ingatkah kita pada sejarah kekalahan Jepang, saat dua kota besarnya, Nagasaki dan Hiroshima diluluhlantakkan bom atom tentara Sekutu? Hampir seluruh infrastruktur han cur dan korban jiwa sangat besar. Apa yang di lakukan Kaisar Hirohito sebagai pemimpin tertinggi Jepang saat itu? Ternyata, ia tidak sibuk membangun kembali gedung-gedung yang runtuh.Pertanyaan sang kaisar kepada para pembantunya ialah berapa banyak guru yang masih hidup.
Dari situ terlihat jelas bahwa Jepang ingin memperbaiki sumber daya manusianya dengan menyekolahkan para pemuda yang masih tersisa dan membangun sekolah-sekolah.Mereka sibuk membenahi segala hal yang berbau dengan pendidikan. Hasilnya? Lihat saja setelah beberapa tahun kemudian, negeri `Matahari Terbit' ini bangkit dari keterpurukannya, mereka mulai membangun dengan tangan sendiri, hasil dari sekolah yang bermutu. Bahkan, kini Jepang merupakan salah satu negara maju dalam bidang teknologi. Negara yang men jadi salah satu kiblat ilmu pengetahuan.
Bagaimana Indo nesia? Kita merdeka sudah 70 tahun, tetapi belum mampu berswasembada dalam hal apa pun. Sejauh apa hasil dari sekolah yang ada di negeri ini? Ke mana ma nusia mulia yang bernama guru yang harusnya mence tak manusia berkualitas untuk negeri ini? Apa yang terjadi pada sekolah di ne geri ini?
Harusnya kita bisa me lihat pada sejarah Jepang. Jika ingin menjadi negara hebat, sekolah menjadi tem pat yang paling penting untuk dibenahi. Se mestinya kita bisa becermin pada sejarah ne geri ini, betapa surutnya nilai luhur pada manusia Indonesia sekarang.
Menurut Nyoman S Degeng, Indonesia sangat berkiblat kepada model pendidikan behavioristik, yakni ilmu disampaikan dalam bentuk keseragaman dan peserta didik diciptakan untuk menjadi mesin penjiplak. Guru adalah satu-satunya sumber belajar, dan keberhasilan peserta didik hanya dapat ditentukan guru (pengetahuan siswa harus selalu sama dengan guru).Ketidakmampuan siswa dalam menambah pengetahuan merupakan kesalahan yang patut untuk dihukum. Akibat dari pola pembelajaran seperti itulah manusia Indonesia dibentuk menjadi pribadi yang rapuh, cengeng, dan pasif.
Mungkin sudah saatnya kita beralih kepada sistem pendidikan yang berpola konstruktivisme, yakni ilmu yang disampaikan dalam bentuk ragam yang berbeda, dan peserta didik dibentuk menjadi pribadi yang kritis, mampu melihat dari banyak sudut pandang. Peserta didik diajarkan untuk pandai menyikapi segala realita yang terjadi sehingga mereka akan siap menghadapi hidup yang sebenarnya.
Sudah saatnya kita berbenah. Semoga pertanyaan-pertanyaan tersebut akan segera terjawab 10 tahun yang akan datang, yakni manusia yang dihasilkan sekolah memiliki nilai luhur pada dirinya. Semoga sekolah di Indonesia, bahkan dalam 100 tahun ke depan, akan mampu mengubah wajah Indonesia ke arah yang lebih hebat, lebih sehat lahir dan batin. Syarat pertama dan utama untuk mengubah Indonesia hanya satu, yaitu guru profesional yang sadar diri bahwa mengajar dan mendidik harus melalui serangkaian proses yang lebih banyak melibatkan hati sehingga aspek teknis pedagogis menjadi lebih mudah dijalankan.

Penulis : Muazzah Muhammad Kepala SD Sukma Bangsa, Pidie, Aceh
Source : Media Indonesia
loading...

Artikel Terkait

Menerka Sekolah 100 Tahun Lagi
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!