Menjaga Kehormatan US/M SD

Ujian Sekolah/Madrasah (US/M) untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), akan dilaksanakan pada 18-20 Mei 2015 mendatang. Ujian ini digunakan untuk mengukur dan menilai kompetensi siswa pada semua mata pelajaran, termasuk muatan lokal. Bagi siswa SD, ujian nasional (US/M) merupakan kali pertama dalam hidupnya. Oleh karena itu, kehormatannya harus dijaga agar terhindar dari berbagai tindakan kecurangan yang bisa menodai kehormatannya.
Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), bisa dijadikan sebagai cerminan sekaligus teguran bagi semua praktisi pendidikan karena diduga telah terjadi kebocoran soal. Hal tersebut memunculkan reaksi dari berbagai pihak, dengan mengusulkan untuk melakukan UN ulang hingga mengusulkan untuk melakukan moratorium terhadap pelaksanaan UN.
Menjaga kehormatan US/M pada jenjang SD, berarti secara sadar sedang menjaga kehormatan generasi masa depan bangsa. Pasalnya, pendidikan dasar merupakan pendidikan yang harus mengutamakan pembinaan karakter sebelum pengajaran ilmu pengetahuan. Karakter-karakter positif perlu dibina dan dikembangkan pada diri siswa melalui sikap teladan dari seorang guru. Dalam hal ini, jika karakter positif pada diri siswa SD telah tertanam kuat, maka akan menjadi perisai dalam melindungi diri dari perilaku negatif lainnya, termasuk dalam pelaksanaan US/M.
Tak sedikit yang beranggapan, jika membantu siswa dalam pelaksanaan US/M dengan memberikan “kunci jawaban” agar mendapatkan nilai yang memuaskan merupakan bentuk kasih sayang. Padahal, tindakan tersebut sebenarnya secara sengaja sedang mengantarkannya pada kehancuran di masa depan. Hal ini mendapat sambutan positif dari siswa yang malas karena merasa “terbantu dan senang” telah mendapat bantuan dari oknum yang bersangkutan.
Namun, efeknya akan terasa ketika nanti telah memasuki jenjang SMP dan akan menempuh ujian untuk kedua kalinya. Pada saat proses pembelajaran di SMP, kompetensinya akan terlihat secara signifikan antara hasil US/M ketika SD dengan kenyataan yang ada. Sebagai Ilustrasi, misalnya nilai Matematika sempurna (10), tapi nyatanya perkalian dan pembagian masih belum fasih bahkan penjumlahan dan pengurangan pun masih belum sempurna.
Peristiwa seperti ilustrasi di atas, tak menutup kemungkinan terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dengan Passinggrade (batas nilai minimal), khususnya di SMP favorit sangat menakjubkan karena banyak yang passinggradenya melebihi angka 9. Artinya, para lulusan-lulusan yang masuk ke sekolah tersebut hampir memiliki nilai sempurna secara keseluruhan.
Sementara, ketika nanti siswa akan menempuh ujian nasional yang kedua di jenjang SMP. Motivasi untuk menghadapi ujian tersebut tidak ada, karena imbas yang telah didapatkan dari pengalaman sewaktu SD yang mendapatkan bantuan dari oknum bersangkutan. Sehingga ketika menjelang ujian, tak sedikit dari siswa yang akan menganggap jika ujian bukan sesuatu yang menakutkan terutama bagi siswa yang menyimpang (nakal). Karena pada akhirnya, belajar gak belajar tetap akan mendapatkan bantuan dari oknum bersangkutan.
Tentunya, pandangan yang salah tersebut harus dipatahkan dengan cara menjaga kehormatan US/M sejak SD. Pelaksanaan US/M SD harus menjadi perhatian prioritas dari berbagai pihak agar pelaksanaannya bisa berjalan dengan jujur, transfaran, dan nilainya dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga, tidak akan mengulang kecurangan-kecurangan lain di tingkat SMP dan SMA, bahkan ketika mereka telah menjadi dewasa. Semoga

Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 22 April 2015

Artikel Terkait

Menjaga Kehormatan US/M SD
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...