Menyoal Tantangan SBY untuk UPI

loading...
loading...
Susilo Bambang Yudhoyono atau akrab dipanggil SBY, menantang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk membangun peace education center (pusat pendidikan perdamaian). Tantangan tersebut dilontarkan beliau, ketika mengisi kuliah umum kepada mahasiswa baru di Gymnasium Kampus UPI. Tujuannya adalah untuk mengembangkan dan mengimplementasikan substansi serta metodologi pendidikan kedamaian. Sehingga, UPI bisa lebih aktif dalam menyelenggarakan forum seminar dan konferensi tentang kedamaian dan pendidikan kedamaian.
Menurut SBY, Indonesia memiliki sejarah yang tidak pernah sepi dari konflik. Dari dulu hingga sekarang, konflik seringkali terjadi hampir di setiap daerah. Salah satu penyebabnya adalah kemajemukan masyarakat Indonesia. Dengan begitu, suatu keharusan bagi UPI untuk menerima tantangan dari SBY tersebut. Pasalnya, UPI merupakan salah satu Universitas yang banyak mencetak calon-calon guru yang tersebar ke berbagai daerah.
Berawal dari mahasiswa atau calon-calon guru itulah, pendidikan kedamaian diterapkan. Semasa kuliah, kedamaian harus menjadi bagian penting dalam dirinya. Tak ada tekanan dari senior, baik berupa kekerasan verbal maupun fisik. Khususnya di awal perkenalan kampus pada masa ospek mahasiswa baru. Selain itu, ketika melakukan aksi demonstrasi. Para mahasiswa juga tidak memperlihatkan tindakan anarkis, tetapi menjalankan aksi sesuai dengan prosedur yang ada.
Berhubungan dengan pendidikan perdamaian, mantan Rektor UPI Sunaryo Kartadinata, pernah menyinggungnya dalam opini Pikiran Rakyat (3/11/2014) yang berjudul “Pendidikan Perdamaian”. Pendidikan perdamaian diartikan sebagai proses memajukan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai yang dibutuhkan untuk menghasilkan perubahan perilaku yang akan memungkinkan anak-anak, remaja, dan orang dew@sa mencegah konflik yang nyata maupun terstruktur.
Menurutnya, terdapat lima langkah untuk menciptakan program pendidikan perdamaian agar bisa lebih efektif. Pertama, membangun sistem pendidikan umum. Kedua, terjalinnya hubungan kerjasama yang baik. Ketiga, siswa harus diajarkan prosedur kontroversi-konstruktif untuk menjamin bahwa mereka tahu bagaimana membuat keputusan sulit dan terlibat dalam wacana politik. Keempat, siswa harus diajari bagaimana caranya agar bisa terlibat dalam negoisasi terpadu dan medisiasi sejawat untuk menuntaskan konflik secara konstruktif. Kelima, nilai-nilai masyarakat harus ditumbuhkan dengan mengarahkan siswa menuju pada kebaikan umum masyarakat jangka panjang.
Hemat penulis, agar bisa terciptanya perdamaian di dalam kehidupan sehari-hari. Perlu ditekankan prinsip keteladanan, baik di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan di lingkungan masyarakat. Lingkungan Keluarga merupakan lingkungan pertama yang paling mendominasi terbentuknya karakter seseorang. Jika rasa kedamaian selalu ditanamkan oleh orangtua kepada anaknya. Niscaya, Ia pun akan akan tumbuh menjadi seseorang yang mencintai kedamaian dan menghindari perselisihan (konflik).
Sementara penerapan pendidikan perdamaian di sekolah, bisa dilakukan dengan cara memberikan hukuman yang tidak berbentuk fisik atau kemarahan. Melainkan, dengan memberikan hukuman yang bernilai edukatif, seperti membuat artikel, portofolio, dan tugas sejenisnya. Bahkan, kegiatan musyawarah juga perlu diajarkan untuk melatih mental siswa dalam menghargai perbedaan pendapat.
Selain itu, lingkungan masyarakat juga berperan penting dalam menumbuhkan rasa perdamaian. Kecil kemungkinan seorang anak akan mencintai perdamaian, jika dalam kehidupan sehari-hari selalu melihat keributan-keributan. Misalnya, konflik antar-kampung yang terjadi secara turun-temurun. Hal itu, besar kemungkinan akan membuat dirinya terjerumus dalam perselisihan ketika beranjak dew@sa. Dengan alasan, konflik itu terjadi demi menjaga nama baik kampung atau daerahnya.
Saya percaya, jika pendidikan perdamaian terus digelorakan kepada masyarakat. Apalagi oleh Universitas semacam UPI, yang namanya dipandang baik oleh masyarakat kota maupun desa. Lambat laun, ke depannya masyarakat Indonesia akan menjadi masyarakat yang mencintai perdamaian dan menghindari perselisihan. Sehingga, mampu mendorong dan mempermudah terwujudnya perdamaian dunia. Semoga…

Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 3 September 2015
loading...

Artikel Terkait

Menyoal Tantangan SBY untuk UPI
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!