NADI GURU BLOG

Menyoal Wasiat Terakhir Mendikbud untuk Jokowi

Posted by Dede Taufik on Saturday, 10 October 2015

Secara resmi pada tanggal 20 Oktober 2014, para kabinet Indonesia Bersatu Jilid dua di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan melepaskan jabatannya. Muhammad Nuh, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menyambut masa purnabakti dengan meninggalkan wasiat untuk Joko Widodo (Jokowi), presiden terpilih 2014-2019.
Isi wasiatnya berkenaan dengan kepentingan dalam bidang pendidikan. Pertama, pemerataan akses bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini berdasarkan masih rendahnya akses pemerataan pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Sampai tahun 2004, Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk jenjang pendidikan tinggi hanya mencapai 14 persen. Ini artinya, warga negara berusia masa kuliah (19-23 tahun) yang bisa melanjutkan perguruan tinggi jika diasumsikan dari seratus orang, hanya 14 orang saja. Sementara di tahun 2014, APK meningkat menjadi 32 persen. Meskipun adanya peningkatan, hal itu masih dirasa kurang karena masih banyak yang tidak melanjutkannya dibanding yang melanjutkan.
Kedua, Kurikulum 2013. Kurikulum yang baru diterapkan secara serentak di tahun ajaran 2014/2015 ini sebagai bentuk penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Penerapan kurikulum 2013 ini, mengajak kepada seluruh guru untuk melakukan reformasi cara berfikir dalam menilai siswa. Karena Kurikulum 2013 menekankan terhadap pendidikan karakter dan hal ini sesuai dengan program Jokowi, yaitu revolusi mental.
Menurut Jokowi, Revolusi mental itu artinya membangun manusianya dulu, membangun jiwanya. Pendidikan mulai dari Sekolah Dasar persentasenya 70 persen pembangunan karakter, sikap, perilaku dan budi pekerti. Menginjak ke tingkatan SMP, 60 persen pendidikan karakter juga dan untuk jenjang SMA/SMK 20 persen pendidikan karakter. Tanpa mendahulukan pembangunan manusia, sekaya apapun sebuah negara akan menjadi percuma karena kuncinya ada pada pembangunan manusia.
Oleh karena itu, tak ada alasan bagi pemerintahan Jokowi untuk menolak wasiat terakhir dari Mendikbud. Kedua wasiat tersebut harus dilaksanakan oleh pemerintahan Jokowi dengan mengacu pada program yang telah dijalankan sebelumnya. Agar program yang telah dicanangkan oleh Kementerian Pendididikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dibawah pimpinan Muhammad Nuh, bisa dilanjutkan oleh Kemdikbud yang baru dibawah pemerintahan Jokowi. Dengan begitu tidak terjadinya putus program di tengah jalan, tetapi terus berkesinambungan.
Berkesinambungan artinya berkelanjutan dalam menjalan program sebelumnya secara selaras. Sehingga program terdahulu yang belum tuntas, bisa dituntaskan oleh Kemdikbud yang baru, agar program tersebut benar-benar bisa dirasakan secara utuh oleh masyarakat. Namun, jika ada yang perlu diberbaiki maupun ditambahkan itu harus segera ditindaklanjuti. Seperti halnya, pendistribusian buku ke sekolah-sekolah dan pemerataan pemahaman guru terhadap kurikulum 2013.
Menurut hemat penulis, melanjutkan program yang telah dicanangkan terdahulu, terutama dalam penerapaan Kurikulum 2013 merupakan langkah yang tepat. Sedikitnya terdapat tiga alasan mengapa Kurikulum 2013 penting untuk dilaksanakan. Pertama, mengacu pada buku Six Simple Rules: How To Manage Complexity Without Getting Complicated (Morieux and Tollman, 2014) yang menyebutkan tingkat kompleksitas dalam periode 20-30 tahun meningkat 35 kali lipat. Artinya, persoalan dan solusi di masa depan bertambah rumit.
Kedua, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menghadirkan kompleksitas tersendiri, sehingga diperlukan orang-orang yang berpikir kritis seperti disinggung dalam buku Critical Thinking: Tools for Taking Charge of Your Prefessional and Personal Life (Paul and Elder, 2014). Pada dua alasan pertama inilah, maka anak-anak harus kita ajari mampu berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan yang tambah rumit.

Ketiga, pendekatan partisipatory teaching methode dalam Kurikulum 2013 memberikan hasil yang jauh lebih baik dibanding passive teaching methode. Metode pembelajaran partisipasi yang mencakup diskusi kelompok, praktik di laboratorioum atau kerja sosial, dan presentasi, daya serapnya terhadap siswa 50-90 persen. Karena itu, Kurikulum ini mengedepankan observasi, bertanya, bereksperimen, berpikir nalar, dan menyampaikan pendapat (Mendikbud, 2014).
Ket :Tulisan ini dibuat tanggal 12 Oktober 2014

Previous
« Prev Post

Related Posts

13:59:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!