MOPD dan Penumbuhan Budi Pekerti

Dalam Masa Orientasi Peserta Didik Baru (MOPD) tahun ajaran 2015/2016, masih ditemukan berbagai tindakan perpeloncoan. Seperti tindakan yang sifatnya merendahkan dan mempermalukan peserta didik baru yang tidak sesuai dengan aturan karena tidak mengandung unsur pendidikan. Tentunya, hal tersebut bisa menjadi penghambat dalam menumbuhkan budi pekerti di sekolah.
Pasalnya, kegiatan MOPD merupakan pengalaman pertama yang akan dikenang oleh peserta didik dalam mengetahui dunia baru di sekolah tersebut. Jika pengalaman pertama, diisi dengan berbagai tindakan perpeloncoan. Tidak dimungkiri, fenomenanya akan terus berkelanjutan dari tahun ke tahun. Hal demikian terjadi, karena adanya unsur balas dendam atas tradisi yang telah ditularkan secara turun-temurun.
Padahal, Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) telah mewajibkan setiap sekolah untuk menumbuhkan budi pekerti dengan mengaturnya dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2015. Permendikbud berisikan tentang penumbuhan budi pekerti yang melibatkan peran orangtua dalam melaksanakan proses pendidikan terhadap anak.
Dengan begitu, kewajiban orangtua tidak hanya sampai pada pendaftaran anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang dituju. Melainkan, harus selalu mengontrol dan mengawasi tindakan anaknya di sekolah tersebut, termasuk pada kegiatan MOPD. Sayangnya, kegiatan perpeloncoan yang dilakukan saat MOPD seperti halnya menggunakan papan nama dari karton, kalung dari kaleng susu yang diisi kelereng, atau sejenisnya. Mungkin dianggap oleh orangtua sebagai suatu kewajaran karena tidak mengetahui hal tersebut termasuk dalam tindakan perpoloncoan. Atau bisa jadi, karena orangtuanya sendiri ketika melakukan MOPD di zaman dahulu mengalami fenomena yang serupa.
Elih Sudiapermana, sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, menyarankan kepada panitia MOPD dan pihak sekolah untuk melakukan kegiatan positif. Tujuannya adalah untuk memberikan pandangan dan perasaan menarik kepada peserta didik baru agar mereka nyaman belajar. Bentuk kegiatan positif yang disarankan misalnya dengan mengenalkan lingkungan sekolah dari depan hingga belakang secara keseluruhan. Selain itu, ditambah pula dengan memaparkan berbagai keunggulan sekolah berupa prestasi yang didapat baik dari segi akademik maupun non-akademik.
Bahkan, suatu problematika yang sedang atau telah dialami sekolah juga bisa saja disampaikan kepada peserta didik baru. Dalam hal ini, dimaksudkan agar peserta didik juga bisa merasa memiliki terhadap sekolah tersebut meskipun baru saja menjadi bagian dari sekolahnya. Dengan begitu, diharapkan bisa menumbuhkan motivasi dalam dirinya untuk memperbaiki yang kurang dan mempertahankan berbagai prestasi (keunggulan) yang pernah diraih oleh sekolah.
Terdapat satu hal yang menarik dari saran yang diberikan oleh Kepala Disdik Kota Bandung, yaitu menyarankan untuk menggelar tausiah. Nampaknya, saran ini patut dicoba oleh setiap sekolah dalam mengisi kegiatan MOPD atau kegiatan lainnya. Pasalnya, acara tausiah bisa menjadi jalan untuk menumbuhkan budi pekerti bagi seluruh warga sekolah, dari siswa, guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya.
Ke depannya, diharapkan kegiatan MOPD bisa dilaksanakan dengan mengutamakan budi pekerti. Tidak lagi terjadi berbagai bentuk tindakan perpeloncoan, tapi terciptanya situasi yang nyaman, aman, dan penuh kegembiraan. Namun, tanpa mengabaikan unsur kedisiplinan dalam memupuk kekuatan mental seseorang.

Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 30 Juli 2015

Artikel Terkait

MOPD dan Penumbuhan Budi Pekerti
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!