NADI GURU BLOG

Pentingnya Guru Memiliki Rasa Malu

Posted by Dede Taufik on Wednesday, 7 October 2015

Dalam khutbah jum'at (6/6/2014) di Masjid Agung Tasikmalaya, membahas tentang manusia harus punya rasa malu. Katanya "Rasa malu itu terdapat dalam kepala dan perut". Rasa malu pada kepala, yaitu berkenaan dengan berfikir hal positif. Tidak boleh berfikir untuk saling menjatuhkan sesama manusia, karena kita semua adalah sama sebagai makhluk tuhan yang paling mulia. Sedangkan rasa malu pada perut, yaitu malu untuk memakan makanan yang haram. Makanan yang didapat bukan dari jalan halal, termasuk makanan yang didapat dari hasil korupsi.
Pentingnya Guru Memiliki Rasa Malu
Dari hasil khutbah tersebut penulis berfikir, jika semua manusia baik dari kalangan atas, menengah, maupun bawah memiliki rasa malu. Pasti saja tidak akan ada yang mau melakukan tindakan korupsi, pembunuhan, pelecehan s3ksual, dan segala bentuk penyimpangan perilaku yang lagi menjadi buah bibir saat ini. Dari situlah muncul pertanyaan, apakah guru juga harus memiliki rasa malu? Jawabannya pasti harus. 
Masih ingatkah kita dengan istilah singkatan CBSA? Istilah yang sering dijadikan bahan gurauan karena diselewengkan dari kepanjangan aslinya. CBSA merupakan singkatan dari Cara Belajar Siswa Aktif, sementara hasil penyelewengan CBSA itu menjadi "Cul Budak Sina Anteung" (anak ditinggalkan di dalam kelas agar senang sendiri). CBSA itu diselewengkan karena tak sedikit dari para oknum guru zaman dulu yang melakukan hal itu. 
Di dalam kelas, biasanya anak disuruh membaca dan mengerjakan soal. Sementara gurunya sendiri, ngopi dan nimbrung di warung atau bergosip di ruangan guru. Tapi itu zaman dulu dan itu pula hanya sebatas gosip yang kebenarannya masih diragukan. Namun, jika hal itu benar terjadi tentunya bukan hal yang diinginkan. Apalagi bagi guru PNS di masa sekarang, yang kesejahteraannya telah terjamin. 
Guru yang memiliki rasa malu, akan bekerja dengan sepenuh hati. Mendidik dan mengajar peserta didiknya agar bisa menjadi manusia yang memiliki rasa malu juga. Bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran dan menempuh 24 jam tatap muka per pekan. Sebagai syarat untuk mencairkan tunjangan profesi semata (sertifikasi), melainkan membentuk karakter peserta didik agar bisa menjadi manusia yang berguna untuk dirinya sendiri, berguna untuk orang lain, serta berguna untuk bangsa dan negara. 
Tanggungjawab seorang guru tidaklah ringan. Maka dari itu, guru telah dianggap sebagai orang tua kedua di sekolah. Tentunya, sebagai orang tua pasti menginginkan semua anaknya dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Jika ada salah satu peserta didik yang perilakunya menyimpang, itu merupakan tanggung jawab dari seorang guru. 
Jika semua guru memiliki rasa malu, mungkin saja tidak akan ada siswa yang terbengkalai dan semua siswa bisa terlayani dengan baik. Bukan hanya sebagian orang yang diberikan perhatian, melainkan secara menyeluruh. Tanpa membedakan ras, agama, maupun latar belakang tingkat ekonomi. Karena semua anak memiliki hak yang sama, yaitu hak untuk mendapatkan perhatian dan pendidikan yang layak. 
Bukan rahasia umum lagi, apabila kebanyakan guru maupun orang tua menganggap bahwa keberhasilan siswa hanya dilihat dari nilai. Padahal, nilai merupakan sebagian kecil dari tujuan pendidikan yang sebenarnya. Namun, hal itu juga tidak bisa dipersalahkan karena nilai tersebut bisa dijadikan sebagai bukti administrasi dan syarat untuk masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.
Nilai yang besar sebenarnya tidak bisa menjamin seseorang untuk berhasil dan sukses di masa mendatang. Apalagi jika nilai tersebut tidak dibarengi oleh attitude (sikap) yang baik. Tapi, jika Attitude baik dan nilainya juga baik, kemungkinan besar orang tersebut akan menggapai keberhasilan. Penggapaian keberhasilan itu juga merupakan salah satu wujud dari rasa malu. Oleh karena itu, setiap orang harus memiliki rasa malu sebagai modal dalam menjalani kehidupan sebagai manusia yang mulia.

Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 7 Juni 2014

Previous
« Prev Post

Related Posts

21:54:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!