NADI GURU BLOG

Peran Bimbel dalam Kurikulum 2013

Posted by Dede Taufik on Wednesday, 7 October 2015

Sistem pembelajaran kurikulum 2013 tidak hanya terisolasi dari guru sebagai sumber belajar, melainkan siswa harus aktif membangun jaringan untuk mempermudah proses pembelajaran. Sumber belajar lainnya yang bisa digunakan dapat diperoleh dari internet, orang tua, termasuk bimbingan belajar (Bimbel).
Bimbel merupakan pendidikan non formal dengan visinya yaitu, turut serta membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Perubahan kurikulum bagi bimbel bukanlah sebuah ancaman dan tantangan yang mesti dipermasalahkan, melainkan dijadikan sebagai peluang untuk terus memberikan yang terbaik. Berbagai upaya yang dilakukan oleh bimbel agar terus menjadi mitra bagi sekolah dan orang tua, salah satunya adalah menjalin komunikasi yang baik. Dengan adanya komunikasi yang baik ini, akan tercipta sebuah harmonisasi dan kerjasama yang baik pula.
Di tengah kegaulauan orang tua dan para guru di sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013, Ganesha Operation sebagai tempat penulis mengabdi selalu peka terhadap perubahan yang terjadi, termasuk tentang penerapan kurikulum 2013. Tak sedikit dari orang tua siswa, terutama kelas IV dan V SD yang mengeluhkan tentang ketidakpahamannya dalam sistem pembelajaran kurikulum 2013.
Oleh karena itu, untuk menjawab keluhan tersebut Ganesha Operation mengadakan sebuah seminar (Jum’at, 5/9/2014) yang bertemakan “Peran Orang Tua Siswa dan Masyarakat sebagai Sumber Belajar  dalam Paradigma Kurikulum 2013” dengan menghadirkan pembicara yang lebih berkompeten di bidangnya. Pembicara tersebut adalah Dr. H. Dadang Yudistira, S.H., M.Pd. (Kasie Kurikulum Dikdas Kota Tasikmalaya) dan Drs. Wawan Samsul Nugraha, M.M.Pd. (Kepala Cabang Ganesha Operation Priangan Timur).
Kurikulum 2013 jika dianalisis dengan cermat dan dilaksanakan dengan prosedur pembelajaran yang tepat bisa menciptakan generasi unggul dan berkualitas. Hal ini seperti terlihat pada tujuan kurikulum itu sendiri, yaitu “Mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.
Menurut Tjipto Sumadi, Ketua Unit Implementasi Kurikulum 2013, model pembelajaran pada Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Dengan langkah-langkah proses pembelajarannya yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Menurut Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum, langkah-langkah tersebut ditafsirkan sebagai berikut:
Pertama, Mengamati merupakan kegiatan yang sangat bermakna untuk memenuhi rasa ingin tahu peserta didik melalui kegiatan melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Kedua, Menanya adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik).  Ketiga, mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen,  membaca sumber lain selain buku teks,  mengamati objek/ kejadian, dan aktivitas wawancara dengan nara sumber. Keempat, mengasosiasi adalah memproses  informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi. Kelima, mengkomunikasikan adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya.
Dari penerapan model pembelajaran secara saintifik tersebut, tak sedikit permasalahan yang harus dihadapi oleh peserta didik dalam menemukan sumber belajar.  Orang tua misalnya, sibuk kerja mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan gaya hidup yang semakin kompleks memaksa kedua orang tuanya untuk bekerja. Hal itu mengakibatkan fungsi orang tua sebagai sumber belajar menjadi terbengkalai.
Dengan begitu, Bimbel berperan sebagai sumber belajar untuk mempermudah siswa membangun pengetahuan. Sistem pembelajaran yang dirancang oleh Bimbel tentunya berbeda dengan sistem pembelajaran di sekolah. Berbagai fasilitas diberikan terhadap peserta didik bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan mewujudkan prestasi, misalnya menggunakan ruangan ber-AC dan tempat belajar yang selalu bersih. Selain itu, metode pembelajaran juga disesuaikan dengan kinerja otak seperti berfikir kreatif dan teknik mengingat. Sehingga pembelajaran menjadi kondusif dan materi yang diajarkan pun bisa mudah dicerna dan dipahami oleh perserta didik.
Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 10 September 2014

Previous
« Prev Post

Related Posts

22:08:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!