Program Kelas Digital

Program kelas digital telah dilounchingkan di Kota Bandung, oleh Direktur Seamolec (SEAMEO Regional Open Learning Centre) Gatot Hari Priowirjanto. Program tersebut merupakan sebuah gerakan dari para kepala sekolah untuk memanfaatkan Teknologi Informasi yang semakin berkembang dalam dunia pendidikan.
Terselenggaranya program kelas digital, berkat adanya kerjasama antara Dinas Pendidikan Kota Bandung, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Seamolec. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan, terutama berkaitan dengan pencapaian nilai ulangan. Dalam hal ini, yang melatarbelakangi dibentuknya kelas digital adalah perolehan hasil Ujian Nasional (UN) yang tidak merata.
Ketidakmerataan perolehan hasil UN di setiap sekolah, salah satunya disebabkan oleh budaya siswa dalam mempelajari soal-soal latihan. Tentunya, untuk membudayakan hal itu diperlukan kumpulan soal latihan yang telah sesuai dengan kisi-kisi UN akan datang. Biasanya, sekolah (favorit) lebih lengkap kepemilikan soalnya dibandingkan dengan sekolah biasa (non-favorit). Sehingga, rata-rata nilai UN yang diperoleh siswa pada sekolah favorit relatif lebih tinggi.
Oleh karena itu, pada program kelas digital tersebut akan dilengkapi dengan berbagai soal. Setiap sekolah yang tergabung dalam jaringan, diharapkan untuk mengirimkan soal-soal dan dikumpulkan di bagian koordinator. Kemudian diberikan kepada siswa secara menyeluruh, untuk segera mempelajari soal-soal tersebut.
Menurut Direktur Seamolec, kelas digital ini sudah dikembangkan di berbagai negara seperti Belanda, Jerman, dan Thailand. Sementara di Indonesia, akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, pada bulan Februari hingga Juni dan tahap kedua, akan dilaksanakan bulan Agustus hingga November. Dengan target kelas yang akan dijadikan sebagai percobaannya adalah kelas 6 SD, 9 SMP, dan 12 SMA/SMK.
Apabila kita telaah secara seksama, program kelas digital merupakan perwujudan dari cita-cita Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, untuk menjadikan Kota Bandung sebagai Kota Pintar (Smart City). Tujuannya adalah agar masyarakat bisa saling terhubung dan pemerintah bisa mengatur dan mengendalikan kehidupan warganya melalui bantuan jaringan teknologi informasi.
Dew@sa ini, keberhasilan program kelas digital menjadi sebuah keniscayaan. Pasalnya, orangtua, guru, dan juga siswa hampir telah memiliki fasilitas modern seperti leptop, komputer, dan tablet terutama di kota-kota besar. Dalam hal ini, ke depannya fasilitas tersebut bukan hanya dijadikan sebagai sarana untuk bermain game oleh siswa. Melainkan, akan lebih bermanfaat dengan menjadikannya sebagai sarana pembelajaran.
Kendati demikian, penggunaan tablet sebagai pembelajaran dalam kelas digital oleh siswa. Harus tetap mendapatkan pengawasan dan bimbingan dari guru dan orangtua. Hal itu untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti mengakses situs-situs dew@sa atau situs-situs bermuatan radikal yang sedang menjadi buah bibir saat ini.
Lebih hebatnya lagi, apabila dalam fasilitas yang dipergunakan untuk kelas digital tersebut dipasang sebuah perangkat atau aplikasi yang bisa memblokir situs-situs terlarang bagi siswa. Jangan sampai ada warga sekolah (guru, siswa, dan TU) memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi yang sifatnya menyimpang.
Harapannya, program kelas digital yang telah dilounchingkan di Bandung bisa mendapatkan respon positif dan kualitas mutu pendidikan meningkat. Kemudian, program tersebut ditularkan kembali ke daerah-daerah lainnya, khususnya di daerah Jawa Barat. Sehingga, seluruh kota/kabupaten yang ada di Jawa Barat secara merata menyandang gelar “Kota Pintar”. Semoga...


Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 9 April 2015

Artikel Terkait

Program Kelas Digital
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!