NADI GURU BLOG

Revolusi UN Berbasis ICT

Posted by Dede Taufik on Thursday, 8 October 2015

Belum lama ini, komisi IV mengadakan sidang RNKP (Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan) bertemakan “Evaluasi Kinerja Kemdikbud Tahun 2010-2014 dan Penuntasan Implementasi Kurikulum 2013” dengan topik bahasan : persiapan UN Tahun 2014, Persiapan Ujian Sekolah/Madrasah Tahun 2014, dan Rencana Pengembangan UN berbasis ICT (CAT & CBT) dan Kurikulum 2013.
Dari ketiga topik bahasan tersebut, yang menarik perhatian masyarakat adalah tentang Rancangan pengembangan UN berbasis ICT (CAT & CBT) dan Kurikulum 2013. ICT (Information Communication and Technologi) dalam bahasa Indonesia disebut TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), merupakan suatu padanan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan transfer/pemindahan informasi antar media (dikutip dari Pusat Kurikulum Diknas). Berdasarkan isu strategis pada Rencana Pengembangan UN 2016 dengan berbasis ICT yang didalamnya terdapat Computer Assisted Test (CAT) dan Computer Based Training (CBT), disiapkan pula aksi beserta solusi, diantaranya: Daerah mendukung pengembangan UN berbasis komputer, tetapi SDM dan sarana prasarana harus disiapkan seperti hardware, software, koneksi/jaringan, termasuk sosialisasi secara luas; Pengembangan CBT dan CAT di Puspendik (prototipe sudah siap), prototipe adalah model kerja dasar dari pengembangan sebuah program atau perangkat lunak; Pengembangan bank soal CBT dan CAT; Metode yang dapat mengatasi berbagai kendala teknis harus disiapkan dengan baik; Piloting pada UN 2013 untuk Sekolah Indonesia di Luar negeri; Kajian dan pengembangan untuk kemungkinan piloting secara sukarela di beberapa Kabupaten/Kota pada tahun 2015; dan Implementasi lebih luas pada tahun 2016.
Rencana pengembangan UN berbasis ICT merupakan langkah yang menarik dan patut diacungkan jempol. Namun, hal tersebut memerlukan proses yang serius untuk menjawab persoalan berkenaan dengan berapa besarnya biaya yang diperlukan untuk pengadaan komputer se-Indonesia? Bagaimana langkah tepat menyiapkan siswa dan guru agar melek ICT? Dengan banyaknya jumlah sekolah dan jumlah siswa di Indonesia mulai dari tingkat SD sampai dengan tingkat SMA, tak terbayangkan dana yang harus dikeluarkan oleh Pemerintah untuk pengadaan komputer dan sarana prasarana, dengan kurun waktu hanya dua tahun. Pelaksanaan UN yang sifatnya serentak memberikan anggapan bahwa setiap siswa harus menggunakan satu komputer secara individu.
Fakta di lapangan tidak semua guru dan siswa mahir mengoprasikan komputer, apalagi bagi mereka yang berada di daerah terpencil. Kebanyakan dari mereka, terutama bagi guru yang sudah tua masih awam dalam menggunakan atau mengoperasikan komputer. Hal tersebut, akan menjadi kendala dan butuh penanganan yang serius, anggapannya tak mungkin sistem ICT diberlakukan sedangkan subjek sebagai pelaksana pun tidak memahami basis ICT tersebut. Meskipun hampir di setiap sekolah terdapat beberapa unit komputer hasil dari pengadaan DAK (Dana Alokasi Khusus) atau lewat pengadaan jenis lainnya, tetapi yang biasa mengoperasikannya sebagian besar merupakan guru yang bertindak sebagai operator sekolah, selain itu entahlah.
Langkah tepat yang sekarang perlu dilakukan oleh Pemerintah adalah mengadakan pelatihan terhadap guru secara intensif, baik bagi guru yang masih muda maupun guru yang sudah tua. Setelah semua guru mengerti dan mampu mengoperasikan komputer barulah mereka mentransfer kembali kepada peserta didik dengan cara mengenalkan fungsi-fungsi yang terdapat dalam komputer kemudian melatih dan mengajarkan hingga peserta didik pun menjadi mahir. Namun, hal demikian akan terwujud apabila sarana dan prasarana telah tersedia, agar dapat berjalan dengan lancar sesuai harapan, dan bukan hanya sekedar wacana belaka.
Selanjutnya, menyinggung pada kurikulum 2013 tidak terdapat mata pelajaran TIK yang diajarkan secara khusus terhadap peserta didik, karena telah dihilangkan dari kurikulum sebelumnya yaitu KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Padahal, jika rencana pelaksanaan UN tahun 2016 berbasis ICT, tentunya mata pelajaran TIK di sekolah harus ada dan dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Jika rencana pengembangan seperti itu, maka akan muncul pertanyaan, kenapa mata pelajaran TIK dihilangkan sementara UN 2016 berbasis ICT? Pertanyaan tersebut merupakan hal wajar, karena sebelum adanya rencana pengembangan UN pun, sebagian besar guru menyayangkan apalagi bagi guru yang berstatus sebagai pengajar mata pelajar TIK. Guru TIK tentunya merasa galau dan tidak setuju dengan dihilangkannya mata pelajaran tersebut, apalagi telah banyak guru TIK yang telah mengikuti UKG (Uji Kompetensi Guru) dan sertifikasi guru. Karena merasa senasib dan sepenanggungan, pada tanggal 23 Januari 2014 Guru TIK mengadakan Rembug Nasional yang dilaksanakan di Universitas Pendidikan Indonesia dengan menghasilkan tiga rekomendasi. Pertama, meningkatkan dinamika perkembangan TIK. Kedua, menjadi leader dalam layanan TIK di sekolah. Ketiga, melakukan kajian akademik TIK untuk masuk dalam kurikulum. 
Ket : Tulisan ini dibuat pada tanggal 21 Maret 2014

Previous
« Prev Post

Related Posts

12:38:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!