Satu Panduan Lebih Baik

loading...
loading...
Kurikulum pendidikan merupakan salah satu panduan penting bagi sekolah untuk menjalankan proses pembelajaran. Saat ini, panduan yang diberlakukan ada dua yaitu Kurikulum 2006 yang dikenal dengan istilah KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) bagi sekolah yang tidak siap dan Kurikulum 2013 bagi sekolah yang siap. Hal ini tentunya akan menimbulkan kesan yang berbeda dari masyarakat, terutama para orang tua siswa.
Kesan pertama, bisa ditujukan kepada sekolah yang siap menjalankan Kurikulum 2013 sebagai sekolah unggulan. Sementara kesan kedua, ditujukan bagi sekolah yang tidak siap sebagai sekolah bukan unggulan (biasa). Hal itu tentunya tidak ingin terjadi, karena bisa membeda-bedakan sekolah akibat dari penggunaan panduan yang berbeda. Padahal tujuan sekolah dalam lingkup pendidikan itu sama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam lingkup negara, pancasila misalnya, yang dijadikan sebagai dasar negara dan pedoman hidup bangsa Indonesia. Meskipun mayoritas dari bangsa Indonesia ini beragama Islam, tetapi untuk menghormati agama yang minoritas, maka tetap diberlakukan satu pedoman hidup bangsa saja yaitu pancasila. Segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, secara tegas tidak boleh bertentangan dengan pedoman tersebut.
Bukan hanya itu, kitab suci yang dijadikan sebagai panduan oleh umat muslim juga ada satu, yaitu Al-Qur'an. Agar manusia bisa selamat di dunia dan akherat, maka manusia harus mengamalkan Al-Qur'an sebagai petunjuk yang akan menuntunnya di dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, terhindar dari perilaku yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain, juga perilaku yang menyesatkan.
Dengan begitu, panduan yang diberlakukan di dalam dunia pendidikan juga lebih baik satu panduan saja, baik itu Kurikulum 2006 atau Kurikulum 2013, bahkan bisa juga kurikulum baru hasil penyempurnaan dari keduanya. Hal mendasar yang harus menjadi perhatian adalah adanya perbedaan dari jumlah jam mengajar antara kedua kurikulum tersebut, yang bisa berdampak pada lancar atau tidaknya pencairan tunjangan sertifikasi guru.
Selain itu, permasalahan juga akan dialami oleh kelas 6 SD dan 9 SMP yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, terutama bagi sekolah yang dituju. Permasalahan itu berkenaan dengan sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), yang bisa menyebabkan kebingungan karena penilaian yang digunakan pada Kurikulum 2013 berbeda dengan penilaian pada Kurikulum 2006.
Permasalahan di atas merupakan sebagaian kecil dari permasalahan yang sebenarnya akan maupun sedang terjadi. Oleh karena itu, panduan yang digunakan di sekolah dalam bentuk kurikulum sebaiknya disamakan di semua sekolah. Kemudian, untuk pengembangannya sendiri yang dijabarkan dalam bentuk silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) diserahkan kepada sekolah masing-masing sesuai dengan potensi daerahnya.
Pada dasarnya penulis sepakat dengan Mohammad Abduhzen, selaku Ketua Litbang PB PGRI, yang menyarankan pemerintah untuk mempertimbangkan pembuatan pedoman sementara dalam masa transisi. Dalam hal itu, pemerintah tidak perlu meneruskan Kurikulum 2013 dan menerapkan Kurikulum 2006 sehingga pada semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016 semua sekolah menggunakan dasar operasi (panduan kurikulum) pembelajaran yang sama. Dengan begitu dapat diasumsikan bahwa “Satu panduan Lebih Baik” agar pembelajaran dapat fokus dan terarah, serta tujuan pembelajaran bernilai sama.
Ket : Tulisan ini dibuat tanggal 5 Januari 2015 
loading...

Artikel Terkait

Satu Panduan Lebih Baik
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!