NADI GURU BLOG

Tingginya Harga Cabai dan Peranan IPA di Sekolah

Posted by Dede Taufik on Saturday, 10 October 2015

Rasa keprihatinan muncul setelah membaca berita di Pikiran Rakyat (13/11/14), yang berjudul "Harga Cabai Terus Melonjak". Melonjaknya harga cabai di sejumlah pasar tradisional diakibatkan oleh kurangnya pasokan dan gagal panen yang menimpa sentra-sentra produksi cabai. Sungguh ironis apabila melonjaknya harga cabai di pasaran dikaitkan dengan tanah air Indonesia yang subur dan makmur.
Seperti yang kita ketahui bersama, lirik lagu yang telah diciptakan oleh group musik legendaris Indonesia, Koes Plus, dengan judulnya "Kolam Susu". Kira-kira penggalan dari syairnya adalah "Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman". Dari penggalan syair itu pula, dapat terlihat secara jelas betapa subur dan makmurnya tanah air Indonesia. Apabila hal ini bisa dimanfaatkan dengan tepat, mungkin saja kelangkaan cabai tidak akan terjadi. Pasalnya, cabai merupakan salah satu bumbu masakan yang seringkali dipakai agar masakan menjadi lebih enak.
Menurut Ayep Supriatna sebagai Kepala Diskoperindag Kota Sukabumi, kenaikan harga cabai merah karena dampak kekeringan sehingga pasokan berkurang. Sebagian besar lahan pertanian mengalami kekeringan sehingga mengganggu hasil produksinya dan kondisi ini sebagai pemicu melonjaknya harga cabai di pasaran. Selain itu, petani dari sukabumi yang bernama Maman juga memperkirakan jika hingga akhir Desember mendatang harga komoditas cabai bisa menembus Rp. 100.000/kg. Apalagi, pasokan cabai di pasar untuk saat ini hanya terpusat dari lahan pertanian di Jawa Barat.
Oleh karena itu, menurut hemat penulis sebagai salah satu cara untuk menyikapi kelangkaan pasokan dan tingginya harga cabai di pasaran yaitu dengan cara memungsikan peran mata pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) di sekolah. Hampir di setiap jenjang pendidikan dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan juga Perguruan Tinggi (PT) muatan mata pelajaran IPA selalu diajarkan sebagai mata pelajaran wajib.
Melihat permasalahan di atas, sudah saatnya di sekolah mengaplikasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari mengenai unsur tiga ranah pendidikan, yaitu unsur kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Ranah kognitif, dipakai untuk mengetahui bagaimana caranya membuat bibit unggul cabai dan tata cara pengolahannya. Ranah afektif, melalui sikap yang harus dilakukan agar pembuatan bibit unggul dan pengolahannya bisa sesuai yang diharapkan, seperti sikap kedisiplinan, keuletan, dan ketekunan. Sedangkan ranah psikomor, diterapkan dalam pelaksanaan pengolahan bibit cabai secara terampil.
Apalagi dalam proses pembelajaran kurikulum 2013 menggunakan metode ilmiah (saintifik), yang mencakup lima langkah pembelajaran, yaitu: mengamati, menanya, menalar, mencoba atau mencipta, dan menyajikan atau mengkomunikasikan. Tentunya metode ini bisa secara tepat digunakan dalam pembelajaran IPA di sekolah, terutama dalam menyikapi kelangkaan cabai yang mengakibatkan melonjaknya harga di pasaran.
Mengamati, dilakukan oleh peserta didik secara langsung datang ke kebun cabai yang dikelola oleh para petani di sekitar sekolahnya. Melalui pengamatan tersebut, peserta didik bisa mengetahui sendiri bagaimana proses pembuatan bibit, pengolahan bibit, sampai mengetahui cabai yang siap untuk dipanen. Apabila ada sesuatu yang tidak dimengerti, peserta didik bisa secara langsung menanya (menanyakan) kepada para petani. Dengan demikian, hal-hal yang berhubungan dengan pengolahan dan penanaman cabai bisa dipahami oleh siswa (menalar). Setelah peserta didik mengetahui dan memahami tentang cara menanam cabai, barulah kemudian melakukan percobaan (mencoba atau mencipta). Melalui percobaan tersebut, peserta didik bisa memahami secara langsung proses menanam cabai. Kemudian, peserta didik mengkomunikasikan proses dan hasilnya di depan kelas.
Dengan begitu, peserta didik sudah siap untuk memproduksi cabai sendiri di rumah. Tidak perlu dalam jumlah banyak dengan membutuhkan lahan yang luas, melainkan memanfaatkan pot yang bisa disimpan di halaman rumah. Pastinya, orangtua pun akan merasa senang dan bangga terhadap anak-anaknya. Bukan hanya sebatas karena keterampilan anaknya dalam mengolah tanaman cabai. Tetapi juga lebih dari itu, orangtua bisa menikmati hasilnya ketika sudah berbuah dan mengirit dalam membeli cabai, serta uangnya bisa dialokasikan untuk kepentingan pendidikan anaknya. 
Ket : Tulisan ini dibuat tanggal 14 November 2014

Previous
« Prev Post

Related Posts

14:08:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!