Wacana Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita

Pada peringatan Hari Buku Sedunia, yang diselenggarakan 23 April kemarin, diwacanakan oleh Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menyelenggarakan “Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita (Read Aloud)” pada bulan Mei mendatang. Tujuannya untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku, serta meningkatkan minat baca pada anak. Dalam hal ini, membacakan buku cerita bagi anak-anak diharapkan bisa berdampak besar terhadap perkembangannya.
Mengingat masih rendahnya minat baca Indonesia, program tersebut sangat relevan untuk diterapkan. Pasalnya, dengan membiasakan membacakan cerita bagi anak-anak bisa menjadi cikal bakal lahirnya minat anak dalam membaca di masa mendatang. Sebagaimana hasil yang diperoleh oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) tahun 2012. Yang menyatakan, jika indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dari seribu orang Indonesia hanya terdapat satu orang yang telah memiliki minat baca.
Selain itu, Bank Dunia juga menunjukkan minat baca anak Indonesia termasuk kategori rendah, yakni sekitar 51,7 persen. Lebih rendah dari Philipina (52,6 persen), Thailand (65,1 persen), Singapura (74 persen), dan Jepang (82,3 persen). Data yang sangat mengkhawatirkan, sehingga perlu dijadikan perhatian yang serius oleh pemerintah dan dunia pendidikan.
Untuk melancarkan Gerakan 10 menit membacakan cerita secara berkelanjutan, pemerintah dan pendidikan harus melakukan kolaborasi yang harmonis. Bersama-sama, saling memberikan dukungan dalam menyosialisasikan dan menyukseskan program tersebut. Tentunya didukung juga oleh sarana prasarana yang memadai, khususnya keberadaan buku (cerita) yang relevan dengan perkembangan anak.
Tak ketinggalan pula, di tempat tinggal (rumah) gerakan itu perlu juga diaplikasikan. Orangtua, harus menyediakan perpustakaan mini di rumahnya masing-masing. Setidaknya, mencoba menyisihkan sebagian uangnya untuk membeli buku bacaan bagi anak dan juga dirinya sendiri, minimal satu bulan satu buku. Daripada menghabiskan uang untuk keperluan yang tidak terlalu penting, seperti memuaskan nafsu “gaya hidup”.
Harga buku cerita tidak terlalu mahal karena masih bisa dijangkau oleh semua kalangan, namun tidak dapat dipungkiri sebagian besar orangtua masih merasa kesulitan untuk menyisihkannya. Padahal, buku yang dibelikan untuk anak akan bermanfaat hingga anaknya menuju dewasa. Beda halnya dengan gaya hidup, meski dipenuhi setiap hari tidak akan pernah menemukan kepuasaan.
Banyak hal yang bisa diperoleh, jika masyarakat Indonesia memiliki minat baca yang tinggi. Salah satunya, masyarakat bisa mendapatkan pengetahuan yang relevan sesuai dengan kebutuhannya. Dalam hal ini, kegiatan membaca tidak terpaku oleh sebuah profesi. Segala macam profesi harus ditunjang oleh pengetahuan, termasuk ibu rumah tangga. Bahkan, seorang ibu harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang sangat luas. Pasalnya, ibu merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya.
Oleh karena itu, gerakan 10 menit membacakan cerita harus didukung oleh semua pihak, baik orangtua, sekolah, dan pemerintah agar tidak hanya sekedar wacana. Gerakan itu menjadi harapan besar untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. SDM yang saat ini masih anak-anak, akan berperan penting pada masa Indonesia emas. Masa seabad (seratus tahun) kemerdekaan Indonesia yang akan dihuni oleh usia produktif sebagai bonus dari demografi pada tahun 2045. Semoga...  
Ket : Tulisan ini dibuat tanggal 28 April 2015

Artikel Terkait

Wacana Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...