Wacana Kurikulum Bervariasi

loading...
loading...
Kurikulum pendidikan merupakan seperangkat perencanaan dalam mengatur isi dan proses pembelajaran di pendidikan formal maupun non-formal. Saat ini, kurikulum yang sedang diberlakukan di sekolah Indonesia ada dua yaitu Kurikulum 2013 bagi sekolah percontohan dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Keduanya, belum bisa mengarah pada pengembangan potensi daerah masing-masing. Dengan begitu, mulai tahun depan diwacanakan oleh pemerintah untuk menerapkan kurikulum bervariasi di setiap sekolah.
Hal ini seperti yang dilansir dari situs Pikiran Rakyat online (27/02/2015), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menyatakan, ke depan kurikulum diberlakukan secara bervariasi, ada nasional, lokal, dan kurikulum sekolah. Kurikulum disusun sesuai dengan kawasan, baik perkotaan, pedesaan, pegunungan, dan kepulauan. Kemudian, rencananya budaya lokal akan masuk sebagai bagian dari kurikulum.
Menanggapi wacana tersebut, penulis sebagai salah satu pendidik mengapresiasi positif dan mendukung sepenuhnya. Pasalnya, dengan adanya kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi dari setiap daerah. Diharapkan bisa menggali setiap potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada dan menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki keterampilan hidup (life skill) sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja di daerahnya.
Wacana kurikulum bervariasi itu semoga dapat direalisasikan dengan tepat dan menjadi cikal bakal lahirnya SDM yang peduli terhadap daerahnya. Menggali potensi daerah sendiri dipandang lebih baik, dibandingkan harus merantau ke Ibu Kota. Di perkotaan, mengadu nasib tidak semudah yang dibayangkan dan tak sedikit dari perantau yang menjadi gelandangan akibat ketidakmampuan bersaing. Hanya sebagian dari mereka dapat menemukan kesuksesan di Ibu Kota. Itupun berkat perjuangan dan pengorbanan besar, tentunya didukung oleh keahlian (talenta) yang dimiliki oleh setiap individu.
MEA atau Masyarakat Ekonomi Asean, kini telah disepakati oleh beberapa negara. Keluar masuknya tenaga kerja, bisa menjadi ancaman bagi kita semua jika tidak bisa memanfaatkannya. Penulis khawatir, akibat dari generasi kita yang terlalu fokus mencari peluang di dalam Ibu Kota, sementara peluang di daerah sendiri diabaikan. Ke depannya, dijadikan sebagai celah oleh warga asing untuk menempati daerah tersebut yang kemudian memanfaatnya sebagai peluang bisnis dalam memasok bahan mentah ke daerah asalnya.
Pastinya, hal tersebut tidaklah menjadi suatu keinginan bagi kita semua sebagai warga masyarakat yang cinta terhadap tanah air Indonesia. Dengan demikian, pemberlakuan kurikulum yang disesuaikan dengan potensi daerah (lokal) merupakan langkah tepat dari Mendikbud. Tentunya, penerapan kurikulum itu harus mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah (Pemda). Tujuannya, untuk melakukan sinkronisasi antara program pihak sekolah dengan program Pemda setempat.

Dalam hal ini, pihak sekolah dan Pemda harus berjalan bersama untuk menjalankan program penggalian potensi daerah. Keduanya, harus saling memberikan informasi dan mendukung satu sama lainnya. Harapannya, SDM di masa sekarang dan masa mendatang bisa lebih menghargai karakteristik dari daerahnya sendiri. Dengan melestarikan budaya lokal dan menggali potensi SDA yang ada. Dimana, salah satu jalan untuk mencapai harapan itu adalah melalui penerapan kurikulum bervariasi yang sedang diwacanakan oleh Mendikbud untuk diterapkan di tahun depan. Semoga... 
loading...

Artikel Terkait

Wacana Kurikulum Bervariasi
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!