NADI GURU BLOG

Antara Guru dan Televisi

Posted by Dede Taufik on Friday, 20 November 2015


Guru dan TV
Antara Guru dan Televisi

Penulis : Dede Taufik, S.Pd.
Hingga saat ini, karakter dan pendidikannya selalu menjadi topik hangat yang seringkali diperbincangkan. Hal ini tidaklah salah, karena karakter bangsa ini terus mengalami pergeseran ke arah yang negatif. Tak sedikit dari media massa yang mewartakan beritanya seputar perilaku menyimpang, seperti pencabulan, penganiayaan, miras oplosan, dan lain-lain.
Seiring dengan hal itu, pemerintah terus berupaya untuk mencegahnya dengan menggembor-gemborkan pendidikan karakter sebagai wujud dari revolusi mental. Bahkan, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pendidikan karakter tersebut diwajibkan yaitu dengan ditetapkannya Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
Berdasarkan pengertiannya, pendidikan karakter merupakan suatu bentuk kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuannya, untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.
Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Hal ini menandakan, jika dalam pembentukan karakter yang baik harus didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melaksanakan perilaku kebaikan.
Salah satu profesi yang ditugaskan untuk membentuk karakter adalah guru. Dalam hal ini, guru berkewajiban untuk menciptakan karakter bangsa (pelajar) agar memiliki karakter yang positif. Misalnya, menjunjung tinggi nilai kejujuran, kedisiplinan, sopan santun, dan berperilaku yang mencerminkan kecintaan terhadap Negara.
Namun, terdapat satu hal yang luput dari perhatian pemerintah yaitu berhubungan dengan tayangan televisi (TV). Tak sedikit dari tayangan TV yang mempertontonkan perilaku yang jauh dari pemberian tuntunan misalnya, menceritakan tentang genk motor pelajar. Dengan ceritanya tidak terlepas dari tawuran pelajar antar geng motor, yang dibumbui dengan kisah percintaan diantara mereka. Selain itu, tayangan yang juga mempertontonkan seputar perilaku saling merendahkan antara siswa yang satu dengan yang lainnya.
Bahkan, sosok guru hampir ditampilkannya dengan sosok yang culun, penampilannya aneh, dan juga suka dipermainkan oleh siswa-siswanya. Hal itu sebenarnya bisa merendahkan martabat seorang guru dan dikhawatirkan para pelajar yang menontonnya, meniru perilaku siswa tersebut dalam mempermainkan gurunya.
Hal yang paling menarik, keberadaan TV mendapatkan bagian lebih besar di hati masyarakat. Artinya, masyarakat menganggap jika keberadaan TV telah menjadi suatu kebutuhan yang harus terpenuhi dalam hidupnya. Namun sayangnya, tak sedikit yang kurang peka dalam memilih tayangan TV antara mana yang layak ditonton atau tidak oleh anak-anaknya yang masih berstatus sebagai pelajar.
Pasalnya, disadari atau tidak, tayangan TV tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan karakter seseorang, khususnya para anak-anak dan para remaja (pelajar). Dengan begitu, para orangtua harus bisa memahaminya agar bisa membatasi terhadap tayangan TV antara yang layak atau tidak demi membentuk karakter baik pada anak.
Harapannya, agar tugas guru dalam membentuk karakter baik terhadap pelajar bisa tercapai sesuai dengan yang dicanangkan. Karena pengaruh buruk dari tayangan TV, telah dicegah oleh para orangtua dengan memberikan batasan antara tayangan yang layak dan yang tidak. Sehingga, para pelajar kita saat ini akan menjadi generasi bangsa yang memiliki karakter baik karena telah terbentuk sejak dini melalui pendidikan sekolah dan pendidikan keluarga. 
Ket : Tulisan ini dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat, edisi Jumat (20/11/2015)

Previous
« Prev Post

Related Posts

13:00:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!