NADI GURU BLOG

Antara Peringatan Hari Valentine dan Hari PETA

Posted by Dede Taufik on Saturday, 14 November 2015

Valentine

Setiap tanggal 14 Februari, masyarakat dunia termasuk Indonesia selalu memperingati hari Valentine (kasih sayang). Biasanya, kalangan anak muda yang tengah beranjak dewasa (pacaran). Menjadikan hari Valentine sebagai momentum untuk saling mencurahkan kasih sayangnya. Dengan saling tukar-menukar kado, yang isinya adalah kartu ucapan yang disertai dengan cokelat. Namun seiring dengan hal itu, sebenarnya di tanggal yang sama pula terdapat hari penting yang justru layak untuk kita peringati sebagai warga negara Indonesia, yaitu peringatan PETA.
Pembela Tanah Air (PETA) adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang dalam masa pendudukan Jepang di Indonesia. Pada tanggal 14 Februari 1945, pasukan PETA di bawah pimpinan Supriadi, melakukan pemberontakan di Blitar yang dikenal dengan nama “Pemberontakan Peta Blitar. Pasukan PETA, memberikan sumbangsih yang sangat besar dan berperan penting dalam masa perang kemerdekaan Indonesia. Tokoh nasional yang tergabung dalam PETA adalah Jendral Besar Soedirman dan mantan presiden Soeharto. Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI) yang saat ini menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) merupakan evolusi militer Indonesia dan hasil perkembangan para pahlawan tentara PETA. Oleh karena itu, setiap tanggal 14 Februari dijadikan sebagai hari peringatan PETA.
Tentu kita pernah membaca sejarah berkenaan tentang sebuah perkataan yang pernah dilontarkan oleh Soekarno, mantan presiden Republik Indonesia yang pertama. Beliau menyebutkan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya”. Hal ini harus menjadi renungan kita bersama, kalimat tersebut bukanlah hanya sebatas kalimat. Namun, memiliki makna yang sangat besar bagi kehidupan bangsa dan negara, serta perlu diaplikasikan dalam kehidupan nyata oleh kita semua.
Tidak bisa dimungkiri, kalahnya pamor hari peringatan PETA oleh Valentine merupakan ciri bahwa bangsa kita telah mulai melupakan jasa-jasa para pahlawan terdahulu. Janganlah heran, apabila kita bertanya kepada anak muda saat ini tentang hal apa yang mereka ketahui pada bulan Februari, kemudian jawaban yang muncul adalah hari Valentine atau hari kasih sayang. Pasalnya, dalam acara di media televisi maupun informasi media cetak seringkali yang disuguhkan pada setiap tanggal 14 Februari adalah kemeriahan dalam merayakan hari valentine. Namun, tentunya hal itu tidak boleh dibiarkan agar tidak menjadi pembenaran makna dari kalangan anak muda. Apalagi bagi seseorang yang berprofesi sebagai pendidik, hal demikian harus menjadi perhatian untuk diluruskan.
Dengan begitu, seorang pendidik tidak diperkenankan untuk menutup mata pada perkembangan anak muda saat ini. Kelihatannya, masalah ini merupakan masalah sepele dan berhubungan dengan hak asasi manusia (HAM) dalam merayakannya. Tapi sesungguhnya, jika memang anak muda saat ini telah benar-benar menganggap kalau tanggal 14 Februari itu sebagai peringatan hari kasih sayang semata. Tanpa mengingat atau menyadari, bahwa pada tanggal tersebut juga sebagai hari peringatan PETA. Maka, hal tersebut bisa menjadi bencana bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, anak muda saat ini akan menjadi generasi penerus yang berperan penting dalam menentukan maju tidaknya suatu bangsa dan negara di masa mendatang.
Disini, fungsi pendidikan berperan penting untuk kembali membuka cakrawala anak muda. Melalui pendidikan di sekolah dan lingkungan masyarakat, seorang pendidik atau guru harus memberikan penjelasan kepada seluruh peserta didik tentang makna yang sebenarnya dalam Valentine. Setidaknya, peserta didik bisa mengetahui asal mula diperingatinya hari tersebut. Menurut sejarah, di Dunia Barat, hari kasih sayang adalah sebuah hari di mana para kekasih dan mereka yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya. Pada artikel Santo Valentinus, mendiskusikan asal usulnya yang gelap menjadi sebuah hari raya. Dimana hari tersebut tidak mungkin dihubungkan dengan cinta yang romantis sebelum konsep-konsep macam ini diciptakan. Valentinius adalah seorang calon uskup Roma pada tahun 143, yang memiliki ajaran bahwa tempat tidur pelaminan memiliki tempat utama dalam versi Cinta Kasih Kristianinya. Catatan pertama, mengapa hari Raya Santo Valentinius dihubungkan dengan cinta romantis adalah kepercayaan terhadap burung yang mencari pasangan untuk kawin, yang ditulis oleh sastrawan ternama dari Inggris, Geoffre Chaucer. Kemudian, pada paruh abad ke-20, di Amerika Serikat dimulai perluasan kebiasaan saling menukar kartu dan berbagai macam hadiah. Biasanya, dari pria kepada wanita dengan memberikan hadiah berupa bunga mawar dan cokelat. Dan di negara Amerika, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland.
Dengan adanya pengetahuan peserta didik terhadap asal mula peringatan hari Valentine. Diharapkan, bisa menjadi gambaran yang kemudian menyadarkan, terutama bagi yang telah terlanjut suka memperingatinya. Apalagi, masyarakat Kota Tasikmalaya yang mayoritasnya adalah umat muslim dan mendapat julukan “Kota Santri”. Sebaiknya bisa menghindarkan diri dari kebiasaan merayakan hari Valentine. Hal itu untuk menjaga jati diri kemuslimannya, karena apabila menganalisis dari sejarah singkat di atas tentang Valentine, awal mula penyebarannya dilakukan oleh orang-orang non muslim.
Sebenarnya, paradigma anak muda yang terlanjur menganggap bahwa tanggal 14 Februari merupakan hari kasih sayang. Bisa menjadi sesuatu yang istimewa, apabila dipadukan dengan momentum hari peringatan PETA. Nantinya, setelah anak muda mengetahui bahwa di tanggal 14 Februari tersebut juga terdapat hari peringatan PETA. Anak muda bisa memperingati PETA dengan penuh kasih sayang, dan menjauhkan diri dari perilaku penyimpangan seperti kenakalan remaja.
Memperingati perjuangan para pahlawan bagi warga negaranya merupakan sebuah keharusan. Hal itu untuk mengingat betapa besarnya perjuangan para pahlawan, yang rela mengorbankan harta dan juga nyawa. Sehingga, sebagai generasi penerus di masa sekarang dan masa depan, khususnya peserta didik di dunia pendidikan. Bisa selalu menjaga dan mencintai tanah air ini, dengan giat belajar dan mampu berprestasi di lingkup nasional maupun internasional. Oleh karena itu, memadukan peringatan hari Valentine dengan hari PETA di kalangan anak muda menjadi hal baru yang patut dicoba. Agar anak muda tersebut bisa menjadi generasi yang penuh dengan kasih sayang, sekaligus menghormati jasa para pahlawan sehingga mampu mengantarkan bangsa Indonesia menuju bangsa yang besar dan dihormati oleh dunia.
Ket : Tulisan ini dibuat pada Februari 2015 

Previous
« Prev Post

Related Posts

23:58:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!