E-Sabak, Prestasi atau Bisnis?

Semenjak Anies Baswedan ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), berbagai terobosan dalam rencana memajukan pendidikan terus dilakukannya. Terobosan tersebut tidak terlepas dari pro dan kontra, baik dari kalangan guru maupun orang tua siswa. Setelah kebijakannya untuk menghentikan Kurikulum 2013 di tengah semester, kali ini Kemendikbud meluncurkan program baru, yaitu program Elektronik Sabak (E-Sabak).
E-Sabak merupakan buku pelajaran yang memanfaatkan perkembangan teknologi masa kini berupa tablet. Hal ini sebagai bentuk efisiensi pendistribusian buku dan menekan biaya menjadi lebih murah. Namun, karena penggunaan tablet berhubungan dengan aplikasi dan jaringan internet, Kemendikbud melakukan kerjasama dengan Telkom dan Kominfo. Dengan begitu memunculkan pertanyaan, apakah program E-Sabak merupakan prestasi atau bisnis?
Sebenarnya, dalam menjawab pertanyan di atas tergantung pada sudut pandang mana yang akan digunakan. Pasalnya, bisa dianggap benar menjadi sebuah prestasi, apabila memandang pemanfaatan teknologi dalam pendidikan sebagai sebuah keniscayaan. Saat ini, teknologi menjadi suatu kebutuhan bagi aktivitas manusia sehingga perlu diperkenalkan sejak pendidikan dasar. Tentunya, mengenalkan nilai positif dalam pengguannya dan dilakukan bimbingan oleh guru di sekolah maupun orang tua di rumah.
Sementara, dipandang sebagai bisnis karena melibatkan perusahaan lain yang bergelut dalam bisnis, apalagi jumlah sekolah di seluruh Indonesia sangat banyak. Tentunya, hal tersebut merupakan target market yang menggiurkan bagi kalangan pengusaha yang memiliki akses untuk membidiknya. Bisa dibayangkan, keuntungan yang dapat diraih oleh perusahaan tersebut dengan jumlah siswa yang sangat banyak dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah.
Namun, dalam hal itu orang tua tak usah risau. Pasalnya, telah diungkapkan oleh Mendikbud, jika pengadaan tablet yang diberikan kepada siswa sebagai perangkat untuk E-Sabak tersebut tidak dipungut biaya alias gratis. Dengan begitu, bagi sekolah maupun orang tua harus bersyukur, terutama yang masih gelap dalam penggunaan teknologi masa kini akibat ketidakmampuan untuk membelinya. Berkat adanya terobosan Mendikbud untuk menerapkan program E-Sabak melalui tablet ini, setidaknya bisa merasakan dan menikmati fungsi tablet sebagai teknologi masa kini yang bukan hanya untuk alat komunikasi semata, melainkan sebagai alat pembelajaran.
Bagi guru, siswa, maupun orang tua yang kebetulan berdomisili di perkotaan, tablet bukanlah perangkat yang asing untuk digunakan. Bahkan, tak sedikit dari guru dan juga para siswa yang telah memilikinya. Namun, belum sampai pada pemanfaatan sebagai alat pembelajaran. Saat ini, siswa hanya sebatas memanfaatkan tablet sebagai alat untuk eksis di jejaring sosial dan bermain game, terutama game online.
Tantangan dalam penerapan E-Sabak melalui perangkat tablet, bukan hanya keberadaan listrik yang tidak memadai bagi daerah terpencil dan terisolir. Melainkan, pengaruh negatif yang akan ditimbulkan oleh mudahnya mengakses situs-situs tidak mendidik, sehingga memengaruhi karakter positif dalam diri seseorang.
Oleh karena itu, tantangan tersebut harus diantisipasi dari sekarang dengan menjalin kerjasama harmonis antara sekolah dan orang tua. Dalam hal ini, diperlukan sosialisasi yang bersifat intensif kepada semua warga sekolah beserta orang tua siswa. Agar tujuan program E-Sabak bisa berjalan sesuai dengan fungsinya, tanpa menimbulkan pengaruh negatif seperti yang dikhawatirkan oleh para guru dan orang tua siswa. 

Ket : Tulisan ini dibuat pada Januari 2015 

Artikel Terkait

E-Sabak, Prestasi atau Bisnis?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!