Hati-hati Menulis Status di Media Sosial

medsos
Ilustrasi Media Sosial
Penulis : Dede Taufik, S.Pd.
Di era tekhnologi modern, masyarakat yang telah melek internet pasti memiliki akun media sosial seperti Facebook, Twitter, Blog, Path, Blackberry Messenger, dll. Menurut Antony Mayfield dari iCrossing, media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas.
Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri sendiri. Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik, menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial berkembang pesat. Tak terkecuali, keinginan untuk aktualisasi diri dan kebutuhan menciptakan personal branding.
Jaringan internet yang semakin mudah diakses oleh masyarakat dan semakin canggihnya handphone yang dimiliki oleh masyarakat merupakan pemicu tumbuh pesatnya perkembangan media sosial. Keberadaannya bisa memberikan manfaat bagi penggunanya, seperti alat untuk dakwah, berbagi informasi yang positif, sebagai alat promosi bagi para pengusaha, dan berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah dikenal maupun belum. Namun, keberadaannya juga bisa menjadi boomerang bagi penggunanya karena menuliskan status atau mengomentari status yang dianggap melanggar hukum.
Florence Sihombing misalnya, salah satu mahasiswi pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) yang ditahan penyidik Polda DIY akibat menulis status di media sosial Path. Tulisannya tersebut adalah “Jogja Miskin, Tolol, dan Tak Berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal di Jogja”. Karena status tersebut dianggap telah merendahkan dan menghina Jogjakarta, maka Florence dijerat dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Selain itu, Muhamad Arsyad, seorang tukang tusuk sate juga berurusan dengan hukum karena dianggap telah menghina Presiden Joko Widodo dalam akun facebooknya.
Berhati-hati menulis status di media sosial juga, bukan saja pada status yang dapat melanggar hukum tetapi pada status yang sifatnya pribadi yang tidak layak untuk dituliskan. Apalagi jika pengguna media sosial tersebut merupakan orang penting (pejabat) karena tulisannya bisa dibaca oleh siapa saja yang terhubung dengan akun miliknya. Hal ini seperti yang dilansir dari “Kabar Priangan”, status Blackberry Messenger Wakil Wali Kota Banjar, drg. Darmadji Prawirasetia, telah membuat heboh karena bertuliskan “hoyong ngabogohan bu uu euy by bana”. Status tersebut memang sangat tidak etis dan terlihat konyol, apalagi dilakukan oleh orang nomor dua di wilayah Kota Banjar. 
Namun, dalam informasi lainnya disebutkan jika status tersebut dilakukan oleh seseorang yang telah membajak Blackberry milik Wakil Wali Kota Banjar. Hal itu mendapat respon dari dr. Herman Sutrisno selaku suami dari Wali Kota Banjar, Hj. Ade Uu Sukaesih, yang tetap berusaha menjungjung tinggi asas praduga tak bersalah dan berpikir positif. Menurutnya, masalah tersebut harus dilaporkan ke kepolisian demi menjaga martabat keluarganya dan untuk menjaga wibawa pemerintahan Kota Banjar agar tidak terpuruk akibat permasalahan tersebut.
Hal serupa yang menimpa pejabat gara-gara status di media sosial adalah Budi Budiman, Wali Kota Tasikmalaya. Statusnya di media sosial Facebook yang salah dalam penulisan “I Love Tasik” menjadi “I Love Tasuk” menimbulkan kritikan dari anggota facebooknya. Penulisan tersebut memang tidak sengaja karena kesalahan dalam penulisan merupakan hal yang wajar terjadi dan seringkali mengenai siapa saja, tetapi karena yang menuliskan status tersebut merupakan orang nomor satu di Kota Tasikmalaya menjadikannya menarik untuk dikomentari apalagi berkenaan dengan daerah yang dipimpinnya. 
Melihat dari permasalahan-permasalahan di atas, menurut hemat penulis, sebaiknya dilakukan kegiatan sosialisasi berkenaan dengan efektivitas penggunaan media sosial kepada masyarakat. Sosialisasi tersebut sangat dibutuhkan oleh masyarakat, apalagi ada Undang-undang yang mengatur dalam penggunaan media sosial sehingga tidak boleh bertentangan dengan hukum.
Undang-undang ITE tidak banyak yang tahu, oleh karena itu perlu adanya sosialiasi kepada masyarakat agar mereka bisa mengetahui hal apa saja yang tidak boleh dilakukan dalam menggunakan media sosial. Pasalnya, sampai saat ini masyarakat masih menganggap kalau media sosial merupakan tempat untuk berekspresi dengan bebas. Hal ini terlihat dengan segala sesuatu yang dituliskan dalam status di media sosial merupakan luapan emosi dari perasaannya yang sedang terjadi. Apakah itu bahagia, kecewa, marah, bahkan untuk mengkritisi orang atau suatu lembaga pun kerap sekali dituliskan di status media sosial.
Celakanya, jika status yang dituliskan di media sosial dilakukan dalam keadaan kesal bisa merugikan diri sendiri. Contoh misalnya, seorang karyawan yang merasa kecewa akan kebijakan yang telah diambil oleh pimpinannya, terus Ia menuliskan status kekecewaannya di media sosial sebagai bentuk kritikan. Kemudian dibaca secara langsung oleh pimpinan perusahaan yang dikritiki ataupun disampaikan oleh orang kepercayaannya kepada pemimpin perusahaan dengan memperlihatkan status si karyawan tersebut.
Meski niat awal dari karyawan itu baik yaitu berusaha menyampaikan kekecewaannya melalui media sosial karena tidak berani untuk mengutarakannya secara langsung. Namun, cara tersebut bisa dianggap salah karena status yang ditulis di media sosial bisa dibaca oleh orang lain dan mereka bisa menafsirkan makna yang salah, sehingga membuat pemimpin pun beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh karyawannya itu adalah bentuk penyimpangan. Resiko yang bisa diperoleh oleh karyawan tersebut adalah kariernya akan terhambat dan bersiap diri untuk menerima segala resiko yang diberikan, apalagi jika dimanfaatkan kembali oleh rekan kerja yang lain untuk menarik simpati dari pimpinannya.
Tentunya sebagai penikmat dan pengguna media sosial, penulis berharap agar sosialisasi penggunaan media sosial yang efektif bisa diwujudkan, baik dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Dengan demikian masyarakat akan menyadari dan memahami sepenuhnya, ternyata penggunaan media sosial itu ada batasnya juga, seperti tidak boleh saling menghujat, saling menghina, tidak boleh melakukan pencemaran nama baik seseorang, dll.
Sehingga para penikmat dan pengguna media sosial bisa berhati-hati dalam menulis status di media sosial, terutama status yang bertentangan dengan Undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan bisa menghindari status yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain. Semoga…

Ket : Tulisan ini dibuat pada Desember 2014

Artikel Terkait

Hati-hati Menulis Status di Media Sosial
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...