Jejaring Sosial dan Pudarnya Bahasa Persatuan


medsos
Sosial Media

NadiGuru-Melalui sumpah pemuda, bahasa Indonesia diikrarkan untuk dijunjung tinggi sebagai bahasa persatuan. Penggunaannya memiliki aturan yang baku, sehingga ketika berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia di dalam kehidupan sehari-hari harus memerhatikan kebakuannya. Namun, setelah menjamurnya jejaring sosial di Indonesia seperti Facebook, Twitter, Line, Blackberry Messenger (BBM), dan jejaring sosial lainnya, memicu bahasa persatuan tersebut mengalami pemudaran. 
Mengutip dari Republika.co.id, Indonesia adalah negara keempat sebagai pengguna Facebook, dengan pengguna aktif terbesar di dunia. Indonesia berada di bawah Amerika Serikat, Brasil, dan India. Jumlah pengguna Facebook di Indonesia pada 2014 sebesar setengah populasi Jawa atau 69 juta jiwa. Sementara pengguna Twitter, Indonesia pada 2010 menduduki urutan pertama di Asia dan 30 juta sebagai pengguna Line. Bukan hanya itu, tak tanggung-tanggung Blackberry mengklaim pengguna layanan pesan instannya mencapai 80 juta di seluruh dunia.
Kebanyakan pengguna jejaring sosial adalah generasi muda yang seharusnya menjunjung tinggi bahasa persatuan. Namun, ironisnya justru mengancam pudarnya bahasa Indonesia melalui “bahasa alay” yang digunakan saat berkomunikasi dengan pengguna lainnya di jejaring sosial. Menurut Selo Soemaridjan, alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat diantara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkannya bisa melalui TV (sinetron) dan musisi dengan dandanan seperti itu.
Fakta membuktikan, pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah hasilnya tidak cukup menggembirakan. Pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2011 lalu, pelajaran Bahasa Indonesia memiliki nilai rata-rata lebih rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain, bahkan dengan pelajaran Bahasa Inggris. Bahasa Indonesia yang baik dan benar masih menjadi bahasa yang sulit untuk digunakan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan (dikutip dari Syarif Yunus, dalam Kompasiana).
Dari kasus tersebut, telah terlihat tanda-tandanya jika bahasa persatuan telah mengalami pemudaran. Seharusnya, sebagai bangsa Indonesia yang memiliki penuh terhadap bahasa persatuan tersebut. Harus bisa memahami dan menggunakannya dengan baik dan benar. Agar tidak semakin memudarnya bahasa persatuan akibat pengaruh “bahasa alay” yang semakin diminati oleh generasi muda sebagai bentuk eksistensi untuk mendapatkan pengakuan terhadap dirinya. Perlu adanya sebuah antisipasi yang sifatnya memberikan pemahaman kepada para generasi muda, untuk bisa menjunjung tinggi bahasa persatuan dalam melakukan komunikasi di jejaring sosial ataupun komunikasi secara langsung.
Pemahaman itu bisa diberikan kepada peserta didik di sekolah, terutama di Sekolah Dasar (SD) sebagai cikal bakal penjunjung tinggi bahasa persatuan di masa yang akan datang. Disini, peran guru SD memiliki peranan yang lebih penting untuk tetap mempertahankan dan menciptakan peserta didik yang mampu menjunjung tinggi bahasa persatuan. Dengan cara membiasakan diri untuk berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar, baik pada saat proses pembelajaran berlangung maupun ketika berada di lingkungan sekolah. 

Artikel Terkait

Jejaring Sosial dan Pudarnya Bahasa Persatuan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...