NADI GURU BLOG

Menanamkan Nilai-nilai Keagamaan di Sekolah

Posted by Dede Taufik on Saturday, 14 November 2015

nilai keagamaan

NadiGuru-Timbulnya berbagai perilaku kejahatan yang menimpa peserta didik di sekolah merupakan dampak dari lunturnya nilai keagamaan. Apalagi, jika kejahatan itu dilakukan oleh peserta didik itu sendiri. Hal ini pastinya akan menjadi tantangan besar bagi guru dalam menjalankan tugasnya.
Globalisasi dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang telah berkembang dengan cepat, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya kejahatan di sekolah. Pada Web video sharing (youtube), tak sedikit ditemukan tayangan yang tak layak untuk dikonsumsi anak-anak. Selain itu, acara di televisi juga tak sedikit mempertontonkan tayangan yang tidak memberikan tuntunan positif.
Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), saat ini Indonesia sudah sampai pada titik darurat kejahatan anak karena tingginya angka kejahatan dan setiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Pernyataan ini berdasarkan bukti pada Pusat Data dan Informasi Komnas PA, yang mencatat kasus kejahatan pada anak di tahun 2010-2014. Kasus yang tercatat yaitu sekitar 21.689.797 kasus, dari 34 provinsi dan 179 Kota/Kabupaten.
Untuk mencegah terjadinya kasus kejahatan pada anak, diperlukan upaya yang serius dalam menanggulanginya. Salah satu upaya yang tepat untuk dilakukan adalah menanamkan nilai keagamaan. Dalam hal ini, setiap sekolah dipandu oleh kepala sekolah (Kepsek) sebagai pemimpinnya untuk menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai keagamaan. Kepsek dituntut harus lebih aktif dan kreatif dalam mengeluarkan ide atau gagasannya, demi menyelamatkan generasi masa depan.
Aktif, bisa diartikan cekatan dalam mencari berbagai informasi yang relevan untuk memecahkan permasalahan. Sementara kreatif, pandai mengolah informasi tersebut menjadi sesuatu yang tepat sasaran dan bermanfaat bagi kebaikan.
Diakui atau tidak, sistem pendidikan kita banyak mengedepankan pendidikan kognitif ketimbang pendidikan karakter. Mendapatkan nilai tinggi, dipandang lebih terhormat oleh orang lain daripada menjaga kehormatan itu sendiri. Seperti halnya, kebocoran-kebocoran soal Ujian Nasional (UN) dari awal diterapkan hingga pelaksanaan UN pada jenjang SMA belakangan ini.
Padahal, Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional pernah menyatakan, jika harus memilih antara karakter dan kognitif. Maka beliau terlebih dahulu akan memilih pendidikan karakter. Alasannya, jika karakter positif telah terbentuk sejak dini niscaya akan mengantarkan pada pencapaian kognitif lebih baik baik.
Oleh karena itu, Ki Hajar Dewantara membagi empat tingkatan pendidikan karakter yang sesuai dengan nila-nilai keagamaan. Pertama, syari’at  yang relevan diterapkan untuk anak TK. Metodenya melalui pembiasaan melakukan kegiatan positif seperti, mencium tangan ketika berhadapan dengan orangtua, mengucapkan salam ketika bertemu teman, memberikan hormat ketika bertemu guru, dll.
Kedua, hakikat yang relevan diterapkan untuk peserta didik SD. Peserta didik dibiasakan melakukan kegiatan positif dan kemudian dijelaskan alasan harus melakukan kegiatan tersebut. Misalnya, kebiasaan mengucapkan salam agar menimbulkan keakraban secara lahir dan batin dengan teman.
Ketiga, tarikat yang relevan diterapkan untuk peserta didik SMP. Peserta didik dibiasakan melakukan kegiatan positif, penjelasan, dan dilengkapi aktivitas yang mendukung. Misalnya, mereka melakukan kegiatan olahraga sepakbola dengan menjungjung tinggi nilai kerjasama tim dan bermain dengan baik sesuai aturan.
Keempat, makrifat yang relevan diterapkan untuk peserta didik SMA dengan menyentuh kesadaran dan pemahaman bukan lagi sebatas pembiasaan. Kegiatan tersebut dilakukan atas kesadaran diri yang bisa berdampak besar terhadap kehidupan dirinya dan juga orang lain. Bisa pula diartikan, tingkatan makrifat ini dilakukan sebagai suatu kebutuhan hidup bagi seseorang.
Dengan begitu, penanaman nilai-nilai keagamaan di sekolah harus menjadi prioritas setiap sekolah. Bukan hanya terpampang jelas dalam sebuah “visi misi sekolah” melainkan harus benar-benar diaplikasikan. Sehingga, bisa terbebas dari perilaku-perilaku kejahatan pada anak-anak sekolah. Kemudian, mampu mewujudkan generasi emas berkualitas untuk dijadikan sebagai “kado” terindah seratus tahun Indonesia merdeka seperti yang diharapkan oleh pemerintah, masyarakat, praktisi dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Semoga...

Previous
« Prev Post

Related Posts

23:33:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!