NADI GURU BLOG

Menciptakan Pembelajaran yang Menggembirakan

Posted by Dede Taufik on Friday, 20 November 2015

gembira
Pembelajaran Gembira
Penulis : Dede Taufik, S.Pd.
Secara khusus hasil laporan Center on the Developing Child tahun 2007, menunjukkan jika efek belajar yang menggembirakan bisa meningkatkan kapasitas arsitektur otak anak. Pada saatnya otak tersebut akan memberikan pengaruh yang baik dalam membentuk perilaku sosial dan emosi anak yang cerdas.
Kegiatan belajar yang dilakukan secara tepat akan membentuk jalan untuk tumbuhnya motivasi belajar pada anak secara tepat. Dengan begitu, guru harus menjadi pendamping yang setia agar terwujudnya karakter anak yang positif. Yaitu karakter yang menunjukkan perilaku baik dan berpengetahuan luas (cerdas).
Dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang menggembirakan. Mungkin saja, tak sedikit yang menyimpang atau keluar dari tema dan materi yang sedang diajarkan. Sehingga, tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran tersebut tidak tercapai sebagaimana yang diharapkan.
Hal itu memang tak bisa disalahkan, karena tujuannya agar siswa tidak mengalami kejenuhan saat melakukan pembelajaran. Namun, alangkah baiknya jika pembelajaran yang menggembirakan tersebut berdasarkan tema dan materi yang diajarkan.
Maksudnya, penyampaian materi ajar dilakukan sambil bermain atau dengan kondisi yang menggembirakan. Dalam hal ini, bisa menjadikan otak siswa merasa nyaman ketika menyerap materi yang diajarkan. Pasalnya, tanpa adanya tekanan dalam diri siswa yang menyebabkan materi cuma numpang lewat. Artinya, materi yang diberikan oleh guru hanya masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan pembelajaran yang gembira adalah tetap memegang teguh unsur disiplin dan sopan santun. Kedua unsur ini sangat penting dan tidak boleh diabaikan dalam setiap pembelajaran, baik pada mata pelajaran Matematika, IPA, PKN, dan lain-lain. Apalagi pada mata pelajaran Agama dan PKn, yang secara khusus mengajarkan sikap disiplin dan sopan santun.
Disiplin adalah perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya, termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. Sementara sopan santun adalah bagian dari perilaku budi pekerti, yaitu sikap saling menghargai dan menghormati. Baik sopan santun terhadap guru maupun terhadap teman-teman di dalam kelas atau di sekolahnya.

Dengan begitu, terciptanya kegiatan pembelajaran yang menggembirakan dan tetap memerhatikan unsur kedisiplinan dan sopan santun. Diharapkan bisa mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter dan berpengetahuan luas (cerdas) di masa depan. 

Ket : Tulisan ini dimuat di Harian Umum Kabar Priangan, edisi Jumat (20/11/2015)

Previous
« Prev Post

Related Posts

10:35:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!