Mengapa Menjadi Guru?

Pertanyaan mendasar yang penting untuk direnungkan oleh seseorang yang bercita-cita menjadi guru maupun seseorang yang telah berprofesi menjadi guru adalah mengapa menjadi guru? Jawaban dari pertanyaan tersebut merupakan visi dalam menjalankan tugasnya sebagai guru. Tentunya setiap orang memiliki perbedaan jawaban, sesuai dengan maksud dan tujuannya mengapa memutuskan untuk menjadi guru.
Seorang guru Jepang misalnya, Masahiro, dari Nakatsu City, mengatakan sebagai penggeraknya menjadi guru adalah bahwa Ia pernah mempunyai seorang guru yang sangat baik pada tahun pertama sekolah menengah. Guru tersebut mengajar dengan penuh pengabdian dan sebagai alasan utama terus menjalani profesi guru adalah karena sangat menyukai anak-anak.
Bukan hanya itu, Yoshiya juga berasal dari Jepang, awalnya merupakan pekerja di pabrik yang memiliki gaji bagus. Namun, karena merasa diperbudak oleh pekerjaannya, akhirnya memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih berhubungan dengan orang dan bukan barang. Pekerjaan yang Ia pilih adalah guru, dengan alasan pekerjaannya unik dan bersifat manusiawi.
Berbicara tentang Jepang, tak ada salahnya kita menoleh sedikit sejarahnya pada saat Kota Hiroshima dan Nagasaki di bom atom. Pemimpin Negeri Sakura pada saat itu mempertanyakan, berapa jumlah guru yang masih hidup? Terlepas dari benar apa tidaknya, yang pasti pertanyaan itu menyebar luas dan memiliki konteks yang valid. Hal itu menandakan, jika pemimpinnya memikirkan pendidikan sebagai hal mendasar untuk bisa bangkit kembali. Terbukti, saat ini Jepang menjadi salah satu negara yang bisa menguasai perekonomian dunia.
Dengan begitu, betapa pentingnya peran guru dalam memajukan kehidupan bangsa dan negara. Melalui pembelajaran di sekolah, proses terciptanya manusia yang berkualitas di masa depan sedang berlangsung. Gambaran masa depan bangsa tergantung pada proses pendidikan saat ini, apabila proses saat ini bagus, maka dapat dipastikan hasilnya pun akan bagus.
Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, mengatakan kalau guru merupakan inti dari proses pendidikan dan menjadi kunci utama kualitas pendidikan. Di tangan guru, masa depan bangsa dititipkan untuk dididik menjadi manusia yang berakhlak mulia dan diajar menjadi manusia yang berpengetahuan.
Sesungguhnya, Indonesia saat ini memiliki banyak guru, baik guru yang telah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun guru honorer. Semua itu merupakan kekuatan besar bagi Indonesia, untuk bisa bangkit dari keterpurukan seperti halnya Jepang pada saat mengalami kehancuran pada zaman dahulu. Tentunya, para pemimpin harus bisa merangkul guru dan memerhatikan pendidikan sebagai modal dasar kebangkitan.
Dalam hal ini, pemerintah juga harus bersedia memikirkan kesejahteraan para guru, terutama guru honorer dan memberikannya peluang untuk bisa mengeksplor segala potensi dalam dirinya. Pasalnya, kebanyakan dari mereka merupakan guru-guru muda yang perlu dibina dan diarahkan oleh pemerintah. Semangatnya yang masih membara, jangan sampai dikhianati oleh janji-janji manis tapi realisasinya palsu.
Meskipun demikian, tidak selamanya pemerintah disalahkan akibat kesenjangan yang terjadi pada guru. Oleh karena itu, bagi seseorang yang bercita-cita ingin menjadi guru. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan menjawab pertanyaan “Mengapa menjadi guru?” Jawaban itu kemudian dijadikan sebagai visi dalam menjalani tugas sebagai guru, agar tidak timbul kegelisahan saat kesejahteraan belum didapat kecuali memang tujuan utama dari menjadi guru adalah menjadi PNS dan mengejar sertifikasi. 
Ket : Tulisan ini dibuat pada Februari 2015 

Artikel Terkait

Mengapa Menjadi Guru?
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...