Menyoal Efisiensi “UN CBT”

loading...
loading...
UN CBT
Ilustrasi UN CBT

NadiGuru-Sistem Ujian Nasional dengan Computer Based Test (UN CBT) akan dimulai pada 7 April 2015 mendatang. Pelaksanaannya sepekan lebih awal dibandingkan dengan UN tertulis. Hal ini disesuaikan dengan ketersediaan komputer di sekolah yang perbandingannya minimal satu komputer untuk tiga siswa.
Menurut Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pelaksanaan UN CBT dianggap lebih dinamis karena tidak harus terjadwal secara nasional pada jam yang sama. Sementara UN tertulis, harus dilakukan serentak pada jam yang sama karena soal ujian bisa bocor ke peserta ujian lainnya.
Sebagai seorang pendidik, secara pribadi penulis menyambut baik langkah yang dilakukan oleh Mendikbud untuk menerapkan UN CBT tersebut. Pasalnya, bisa dijadikan sebagai langkah untuk menjujurkan hasil ujian yang diperoleh siswa. Tanpa adanya unsur kecurangan yang dilakukan oleh oknum terkait di dalamnya.
Namun, disini penulis akan mengomentari kebijakan yang diterapkan oleh Mendikbud dari aspek keadilan. Sejatinya, kebijakan yang sifatnya positif untuk memajukan pendidikan di tanah air harus bersifat menyeluruh. Artinya, kebijakan itu harus diterapkan di semua sekolah secara merata tanpa adanya unsur diskriminasi (perbedaan) di tiap sekolah.
Hal ini, berdasarkan data dari Kemendikbud berkenaan dengan jumlah sekolah yang siap menjalankan UN CBT, yaitu sekitar 458 sekolah di seluruh Indonesia. Dari data tersebut, kebanyakannya dari jenjang pendidikan SMA dan SMK sementara pada jenjang SMP tidak lebih dari seratus sekolah yang siap. Semuanya merupakan sekolah unggulan atau sekolah percontohan bagi yang lainnya.
Apabila mengartikan “sekolah percontohan” berarti UN CBT juga akan diterapkan di sekolah lainnya. Tentunya, hal itu menjadi sesuatu yang menarik untuk dibahas oleh kalangan guru yang bertugas di sekolah biasa (non-unggulan). Pasalnya, lambat laun kebijakan itu akan diterapkan juga di sekolah tempat kerjanya. Oleh karena itu, tak ada salahnya bagi guru untuk segera memulai dan membuka diri dalam mempersiapkan UN CBT. Dengan mempelajari bagaimana UN CBT itu diterapkan.
Sehingga, ketika nanti UN CBT tiba pada waktunya diterapkan secara menyuluh. Para guru, tidak lagi merasa kebingungan dan mengalami stres karena tidak bisa mempraktekannya sendiri di sekolah. Untuk itu, bagi dinas pendidikan yang bertugas dalam memberikan bimbingan dan pengarahan kepada guru. Diharapkan lebih peka dan bersiap diri sejak sekarang, untuk mempersiapkan tenaga guru yang ada di bawah naungannya. Agar menjadi guru yang terampil terhadap segala bentuk perkembangan zaman, termasuk teknologi.
Kewajiban bagi pemerintah untuk bisa merapkan UN CBT dengan memegang prinsip keadilan bagi seluruh sekolah adalah menyiapkan perangkat komputer. Dengan jumlah dan kapasitas di sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. Hal ini penting, agar masyarakat tidak memandang sebelah mata bagi sekolah “biasa”. Karena, setiap sekolah memiliki prinsip dan tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat UUD 1945 dan Undang-undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 

Ket : Tulisan ini dibuat pada Maret 2015
loading...

Artikel Terkait

Menyoal Efisiensi “UN CBT”
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!