NADI GURU BLOG

Menyoal Passing Grade Dalam PPDB 2014

Posted by Dede Taufik on Saturday, 14 November 2015

ppdb
NadiGuru-Pada umumnya di setiap sekolah negeri untuk tingkat SMP dan SMA dalam melaksanakan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tahun 2014, menggunakan sistem passing grade. Penerapan sistem ini disesuaikan dengan kondisi dan kebijakan instansi pendidikan di tiap daerah. 
Ada yang secara murni mengambil dari nilai Ujian Nasional (UN) untuk tingkat SMA dan dari nilai Ujian Sekolah/Madrasah (US/M) untuk tingkat SD. Selain itu, ada pula yang menentukan passing grade dengan menggabungkan hasil persentase nilai UN dan nilai US/M dengan nilai Ujian Sekolah (US). 
Penggunaan sistem passing grade dalam PPDB 2014 ini memunculkan berbagai persoalan, apalagi dengan menerapkan pola “satu pilihan” saja. Persoalan yang muncul diantaranya, pertama; bisa membuat kecemasan dan kekhawatiran bagi orang tua secara berlebihan. Dalam hal ini, orang tua harus selalu aktif mencari berbagai informasi tentang perkembangan passing grade di semua sekolah sesuai dengan jenjang pendidikan yang ada di daerah tersebut, terutama untuk sekolah yang dituju. Jika nilai akhir anaknya dibawah nilai passing grade, maka orang tua harus dengan segera mencabut kembali berkas pendaftarannya dan dialihkan kepada sekolah yang nilai passing gradenya dibawah nilai anaknya tersebut.
Kedua, terbentuknya pewujudan nilai secara kuantitas. Maksudnya, hampir dari setiap sekolah terutama untuk tingkat SD meraih rata-rata nilai ujian secara fantantis, baik nilai UN maupun nilai US. Nilai yang didapatkan siswa hampir terjadi keseragaman, sehingga hal tersebut mampu mendobrak pula munculnya nilai passing grade yang fantantis. Dari situ timbullah pertanyaan, apakah nilai yang didapat siswa tersebut secara murni hasil dari pengerjaan sendiri? Atau adanya campur tangan dari “tim sukses” ujian di sekolah? Jika memang murni hasil dari pengerjaan sendiri, berarti pendidikan kita telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran secara klasikal (menyeluruh). Namun, jika hal itu berkat adanya campur tangan dari “tim sukses” berarti pendidikan kita dengan sengaja sedang menyiapkan generasi bangsa yang hanya mampu bersaing secara kuantitas bukan secara kualitas.
Ketiga, terjadinya penumpukan pendaftar di sekolah pavorit. Hal ini tentunya memiliki alasan yang jelas, seiring dengan anggapan orang tua bahwa dengan masuk ke sekolah pavorit ke depannya akan mempermudah untuk bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Terutama untuk lulusan SMA, peluang mengikuti jalur undangan lebih besar dibandingkan dengan sekolah non pavorit. Namun, hal itu sungguh tidak adil bagi sekolah non pavorit. Karena bisa jadi akan kebagian siswa yang merupakan limpahan dari pendaftar sekolah pavorit yang tidak memenuhi passing grade di sekolah tersebut.
Menurut hemat penulis, permasalahan di atas diambil dari sisi negatif penggunaan sistem passing grade dalam PPDB 2014. Sebenarnya banyak juga sisi positifnya, seperti transfaransi nilai sehingga meminimalisir terjadinya titip menitip dari kalangan oknum pejabat. Selain itu, dalam pelaksanaan PPDB di sekolah tersebut juga terjadi persaingan secara sehat. Karena peserta didik yang akan diterima telah diurutkan berdasarkan nilai akhir mulai dari yang terbesar hingga terendah. Sesuai dengan kapasitas jumlah siswa dan rombongan belajar yang telah ditentukan oleh pemerintah melalui dinas pendidikan.  

Previous
« Prev Post

Related Posts

23:36:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!