Orang Tua Membutuhkan Sosialisasi Kurikulum 2013

loading...
loading...
 
K13


NadiGuru-Kurikulum terus mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Kurikulum yang sekarang baru diterapkan secara serentak di semua sekolah, mulai jenjang Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas (sederajat) adalah kurikulum 2013. Dalam kurikulum ini, sumber pembelajaran tidak hanya terisolasi dari guru, melainkan siswa harus aktif membangun jejaring dengan berbagai sumber yang ahli di bidangnya termasuk orang tua.
Namun kenyataannya, para orang tua masih sangat kebingungan dalam memahami pembelajaran dari kurikulum 2013 ini. Pembelajaran yang secara signifikan berbeda dengan kurikulum terdahulu, dimana materi yang diajarkan tidak bermuatan mata pelajaran, melainkan berbentuk tematik integratif. Hal ini membuat para orang tua mengalami kesulitan dalam membantu dan menemani putera-puterinya belajar.
Sebagai salah seorang pengajar dan akademik SD Bimbingan Belajar Ganesha Operation, penulis seringkali mendengar keluhan dari para orang tua terutama orang tua kelas 4 dan 5 SD. Kebanyakan dari mereka mengaku dan merasa kebingungan saat membimbing putra-putrinya, sehingga mereka juga mengatakan harus terlibat aktif belajar seperti putra-putrinya. Agar mereka bisa paham dan tidak menemukan kesulitan lagi.
Apabila dianalisis dari tujuan kurikulum itu sendiri, kurikulum 2013 memang sangat luar biasa karena disiapkan untuk menciptakan generasi emas 2045, seratus tahun Indonesia merdeka. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan manusia agar memiliki kemampuan hidup sebagai warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif dan afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan peradaban dunia.
Meskipun demikian, tujuan kurikulum 2013 tersebut tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, sekolah, masyarakat, termasuk orang tua di rumah. Seperti yang kita ketahui bersama, hujatan demi hujatan terus terlontarkan mulai dari ketidakmerataan pemahaman guru sampai pada keterlambatan datangnya bahan ajar di sekolah-sekolah.
Mengutip dari Darmaningtyas, Marzuki Alie (ketua DPR) saat konferensi pendidikan yang digelar PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), juga melontarkan kritikan tajam terhadap penerapan kurikulum 2013. Marzuki menyatakan, mestinya Kemdikbud merevisi kurikulum terdahulu saja, misalnya materi yang kurang pendidikan karakter tinggal tambahkan saja dan tidak perlu bikin kurikulum baru.
Selain itu, Retno Listyarti (Sekjend Forum Serikat Guru Indonesia) dengan tegas menolak penerapan kurikulum 2013 pada sistem pendidikan. Hal tersebut disebabkan karena tidak diimbanginya dengan pembenahan yang baik oleh pemerintah, sehingga mutu pendidikan dianggap menjadi rendah.
Kalau menurut hemat penulis sendiri, setiap perubahan pasti akan menimbulkan permasalahan. Tapi terkadang yang sering terlupakan oleh kita adalah mencari solusi. Seharusnya solusi tersebut dicari dan ditemukan dengan cepat dan tepat agar permasalahan-permasalahan yang timbul tidak terus meruncing. Salah satu caranya yang bisa penulis sarankan adalah melakukan sosialisasi kepada orang tua tentang penerapan kurikulum 2013 dan sistem pembelajaran yang diterapkan dalam kurikulum 2013 tersebut.
Dengan begitu, orang tua akan memahami permasalahan yang sedang terjadi dan menyadari betapa pentingnya peranan dirinya terhadap perkembangan dan pembelajaran anaknya dalam kurikulum 2013 tersebut. Sehingga tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum 2013 dapat tercapai dan terciptanya generasi sekarang menjadi generasi emas 2045.
loading...

Artikel Terkait

Orang Tua Membutuhkan Sosialisasi Kurikulum 2013
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!