NADI GURU BLOG

Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Posted by Dede Taufik on Saturday, 14 November 2015


hardiknas
NadiGuru-Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap tanggal 2 Mei. Berbagai perlombaan diselenggarakan untuk memeriahkannya. Namun sebenarnya, ada yang lebih penting dari peringatan Hardiknas, yaitu dijadikan sebagai momentum untuk melakukan refleksi terhadap sejauh mana keberhasilan pendidikan kita. Dari mulai perencanaan, proses, dan mengevaluasi hasil pembelajaran, serta merefleksi kepribadian guru itu sendiri.
Belakangan ini, pendidikan kita seringkali ditempa oleh berbagai bencana, seperti kenakalan remaja, kekerasan s3ksual, bul1ying, hingga kekerasan fisik yang menewaskan. Belum lama ini juga, kita sebagai pendidik pastinya dikagetkan oleh informasi pesta bikini bagi pelajar yang telah melaksanakan Ujian Nasional (UN) pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Informasi yang disebar di media sosial tersebut, memudahkan para pelajar dari daerah lainnya untuk mengakses.  
Menurut Komisi Perlindungan Anak, saat ini Indonesia telah sampai pada titik darurat kejahatan anak. Sebagaimana dinyatakan oleh Pusat Data dan Informasi Komnas PA, tercatat sekitar 21.689.797 kasus pelanggaran terhadap anak. Data tersebut diambil dari kurun waktu tahun 2010 hingga 2014, di 34 provinsi dan 179 kota/kabupaten di seluruh Indonesia.  
Tak heran jika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, menyebutkan kondisi pendidikan Indonesia saat ini sedang mengalami gawat darurat. Pasalnya, menurut lembaga The Learning Curve, Indonesia menjadi peringkat 40 dari 40 negara dalam pemetaan kualitas pendidikan. Selain itu, menjadi peringkat ke 103 di dunia karena pendidikannya banyak diwarnai oleh aksi suap menyuap dan berbagai pungutan liar.  
Oleh karena itu, sudah semestinya bagi kita sebagai guru untuk melakukan refleksi terhadap pendidikan. Manfaatnya, untuk melakukan perbaikan terhadap segala sesuatu yang masih buruk atau kurang, serta mempertahankan prestasi dan keunggulan positif yang selama ini pernah diraih.
Berbicara tentang Hardiknas, tentu kita selalu ingat pada Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara (Raden Mas Soewardi Soeryaningrat) yang telah berhasil menerapkan sistem pendidikan dengan baik. Tiga pilar yang hingga kini melekat pada dunia pendidikan, yaitu ing ngarso sung tulodho (di depan memberikan teladan), ing madya mangun karso (di tengah memberikan bimbingan), dan tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan).  
Dalam pemikirannya, pendidikan bertujuan untuk penguasaan diri. Artinya, pendidikan berperan penting untuk memanusiakan manusia. Saat ini, istilah tersebut dikenal sebagai pendidikan karakter. Taman Siswa merupakan sekolah yang didirikannya, menerapkan sistem Among. Sistem yang berdasarkan jiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan.  
Dalam hal ini, guru berperan menjadi orangtua kedua yang diharuskan selalu memerhatikan perkembangan peserta didik. Perhatian yang diberikan guru, tidak terbatas oleh jarak dan waktu. Selama hal tersebut masih berada dalam batas pemenuhan kebutuhan pendidikan, guru harus bersiap diri untuk melayaninya dengan maksimal. Meskipun dilakukannya di luar jam pembelajaran atau di luar lingkungan sekolah.
Nampaknya, hal tersebut perlu dijadikan sebagai bahan renungan untuk melakukan refleksi pendidikan pada kesempatan Hardiknas di tahun sekarang. Sesungguhnya, jika saat ini tiga pilar pendidikan dan sistem Among diberlakukan dengan baik. Pasti sangat relevan, untuk memulihkan kembali kondisi pendidikan yang sedang gawat darurat. Sehingga, ke depannya pendidikan kita mampu menghasilkan generasi emas berkualitas dan siap berlaga pada masa Indonesia Emas. Masa seratus tahun kemerdekaan Indonesia, tahun 2045. Semoga...  

Previous
« Prev Post

Related Posts

23:48:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!