Simbol Kurtilas Menuju Gerbang “Kur Tilas”


kurtilas
NadiGuru-Kurtilas merupakan kurikulum 2013 yang sedang fenomenal saat ini karena selalu menjadi buah bibir dikalangan masyarakat. Kurtilas adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang diterapkan secara serentak pada tahun 2013.
Berbagai hujatan dan kritikan terus dilontarkan pada kurikulum yang baru diterapkan ini. Mulai dari penerapannya yang terlalu cepat dan terbilang memaksakan, sampai pada implementasinya di sekolah, sehingga menyebabkan kurikulum ini dianggap sebagai kurikulum prematur yang belum layak diterapkan sekarang.
Namun apa boleh buat, hal ini telah terjadi di akhir penghujung masa bakti Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Mungkin saja perubahan tersebut baru terpikirkan karena melihat situasi dan kondisi yang seringkali terjadi. Misal, menjamurnya tindakan asusila seperti yang dilakukan oleh Emon dan kasus yang terjadi di Jakarta International School (JIS), maupun menjamurnya pula tindakan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) dikalangan para pejabat.
Selain itu, melihat kompleksitas masa depan menuntut masyarakat untuk mampu berfikir kritis dan bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi (IPTEK) tak bisa disangkal lagi sebagai salah satu pemicu cepatnya arus globalisasi. Juga pada 2010-2035 Indonesia memiliki jumlah usia produktif yang lebih banyak (demografi).
Seharusnya, guru sebagai garda terdepan pelaksana pembelajaran di sekolah bisa memahami betul aplikasinya di lapangan. Namun apa yang terjadi? Kebanyakan dari mereka masih kebingungan tentang bagaimana pembelajaran yang sebenarnya diinginkan oleh Kurtilas. Kurikulum yang menggunakan tematik integratif dalam setiap pembelajaran, dengan menekankan karakter bukan lagi kognitif seperti pada kurikulum terdahulu, apalagi dengan sistem penilaian yang deskriptif.
Kebingungan itu terjadi mungkin saja dikarenakan waktu penatarannya terlalu singkat, sekitar kurang lebih seminggu. Padahal, Darmaningtyas, selaku pengamat pendidikan sekaligus sebagai salah satu anggota tim penyusun Kurtilas merasa mengalami kesulitan dalam memahami maksud dan tujuan dari Kurtilas sendiri. Menurutnya waktu yang diperlukan untuk memahami betul maksud dari kurikulum 2013 ini, sekitar sembilan bulan dan itupun karena dibantu dengan membaca buku Susan M. Drake yang berjudul Creating Standards-Based Integrated Currikulum: The Common Core State Standards.
ICW (Indonesian Corruption Watch), melihat simbol (tanda-tanda) kegagalan kurikulum Kurtilas, mulai dari ketidaksiapan guru dalam mengajar dan masalah infrastruktur yang belum tersedia. Selain itu, pergantian rezim Presiden 2014 yang bisa memengaruhi penerapan kurikulum ini (PR, 29/8/2012). Dan selama tiga minggu, ICW melakukan pemantauan terhadap penerapan kurikulum di Jakarta, ICW menemukan permasalahan, yaitu: buku pelajaran siswa belum tersedia seluruhnya di jenjang pendidikan dasar dan menengah, pelatihan yang belum merata terhadap guru, metode penilaian siswa dianggap memberatkan. Selain itu, permasalahan buku yang tidak sepenuhnya gratis untuk SMA, karena hanya disediakan buku teks  mata pelajaran, sementara untuk jurusan ditanggung sendiri.
Bukan hanya itu saja, Marzuki Alie (ketua DPR), saat konferensi pendidikan yang digelar PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) juga melontarkan kritikan tajam terhadap penerapan kurikulum 2013. Marzuki menyatakan, mestinya Kemdikbud merevisi kurikulum terdahulu saja, misalnya materi yang kurang pendidikan karakter tinggal tambahkan saja dan tidak perlu bikin kurikulum baru.
Sepertinya bukan rahasia umum lagi, jika banyak yang beranggapan kalau setiap ganti menteri pasti ganti pula kurikulumnya. Anggapan tersebut merupakan hal yang wajar karena belum juga memahami kurikulum sebelumnya, kurikulum telah berubah kembali. Oleh karena itu, melihat persoalan di atas memunculkan pertanyaan dari penulis, apakah Kurtilas dapat bertahan? Atau malah sebaliknya, Kurtilas akan menuju pada gerbang “Kur Tilas”? (hanya bekas, bahasa Sunda). 

Artikel Terkait

Simbol Kurtilas Menuju Gerbang “Kur Tilas”
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...