NADI GURU BLOG

Solusi Persoalan Sampah Akhirnya Ditemukan

Posted by Dede Taufik on Saturday, 21 November 2015

Sumber : Antaranews.com

NadiGuru-Berbicara tentang sampah, sudah tak asing lagi bagi kita semua. Ada pepatah yang mengatakan, jika disitu ada kehidupan maka di situ akan ada sampah. Keberadaan sampah tak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Manusia yang menyembabkan timbulnya sampah dimana-mana. Akibatnya, juga manusia yang akan menanggung segala resiko yang diakibatkan oleh sampah tersebut.  
Ada kabar gembira bagi kita semua dalam menyelesaikan persoalan sampah. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengembangkan kombinasi teknologi insinerator plasma, yang bisa menjadi solusi dari persoalan sampah di perkotaan, seperti halnya di Jakarta.
Anto Tri Sugiarto, selaku Peneliti Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan, mengatakan jika teknologi insinerator selama ini tidak digunakan karena menghasilkan gas buang dioxin yang bisa mematikan. Terlebih dengan adanya suhu pembakaran kisaran antara 800 sampai 1000 derajat celsius kontaminasi cukup tinggi. Padahal menurutnya, teknologi pembakaran sampah dengan insinerator ini sangat cocok untuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan sampah perkotaan. Bahkan bisa sampai ke tingkat kecamatan atau kelurahan. Sehingga, tak perlu lagi mengirim sampah menuju tempat pembuangan akhir.
Selain itu, Ia juga menuturkan jika persoalan gas buang ini dicoba untuk diselesaikan dengan menciptakan plasma yang ditempatkan di incinerator. Hal itu bertujuan untuk menghambat terjadinya varian gas buang dioxin, NOx, dan SOx. Dengan plasma, dioxin dapat ditekan hingga 99 persen, sedangkan NOx dan SOx dapat ditekan hingga 90 persen.
"Paling buruk dioxin bisa ditekan 70 persen lah kira-kira dengan plasma. Untuk baku mutu, contohnya SOx tadi 250 ppm bisa jadi 32 ppm," ujar dia. Dilansir dari antaranews
Beberapa Negara seperti Jepang, dikatakannya telah menggunakan insinerator untuk membakar 70 % sampahnya, dan sisanya recycle, serta sisa gas buangnya tersebut diatasi dengan memasang plasma. Kemudian Tokyo, menggunakan insinerator berskala besar di 20 distrik. Sehingga bisa menghasilkan listrik melalui pembakaran minimal 800 ton sampah /hari dengan insinerator bisa menghasilkan dua megawatt (MW).
Sementara di Jakarta, dikatakannya paling tidak membutuhkan sekitar sepuluh insinerator dengan skala besar dan plasma agar sekaligus bisa menghasilkan energi. Namun sayangnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tak mau menggunakan insinerator dengan alasan karena persoalan gas buang. Susahnya, ketika awal 2000, sudah mulai yang menggunakan dalam skala kecil.
"Ini justru rawan gas buang, karena dengan ukuran kecil butuh waktu lama memanaskannya. Karena itu bagusnya pakai insinerator skala besar, selain bisa membakar sampah juga menghasilkan energi," ujar dia. Dilansir dari antaranews
Kendati demikian, insinerator skala kecil memang masih dibutuhkan, misalnya untuk mengatasi limbah patogin dari rumah sakit. Adanya plasma, maka pihak rumah sakit tak perlu membawa sampah keluar lokasi, karena sudah  langsung bisa diproses di sana.
Terdapatnya sampah yang mencapai 8000 ton /hari. Jakarta sebenarnya bisa mampu menghasilkan 20 MW listrik dengan menggunakan insinerator skala besar. Jadi, potensi DKI Jakarta sebenarnya besar dan berhubungan dengan biaya tak terlalu menjadi masalah untuk Jakarta.
Dana yang dibutuhkan untuk Insinerator skala kecil yang mampu mengolah sampah hingga 3000 ton /hari adalah hingga Rp 500 juta. Sementara bagi berskala besar membutuhkan dana puluhan miliar.

Previous
« Prev Post

Related Posts

20:08:00

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!