#13 Opini Guru Menulis di Kabar Priangan

Nadi Guru – Pada kesempatan sebelumnya sempat dipublish #Guru Menulis dan 10 Karya Guru. Nah untuk sekarang, saya juga akan mempublikasikan #13 Opini Guru Menulis di Kabar Priangan. Tujuan publikasi kembali tulisan-tulisan itu (sebagian bentuk gambar) dalam blog Nadi Guru ini adalah mengabadikannya saja.
Selain itu, bisa juga dipergunakan sebagai referensi bagi bapak dan ibu guru sekalian yang berminat untuk menulis dan mempublikasikannya juga di surat kabar. Oh ya, bagi bapak dan ibu guru yang mau mencoba mengirimkan artikelnya, bisa kirim lewat email: gogumeulis@gmail.com dan hal yang perlu diketahui juga, jika panjangan tulisannya sekitar satu halaman A4 dan spasi 1,5. Jika dihitung dengan kata yaitu sekitar 300-400 kata.

Di bawah ini adalah #13 Opini Guru Menulis di Kabar Priangan yang dipublikasikan kembali untuk melengkapi yang sebelumnya.

1. Dari Guru Kreatif Menuju Guru Profesional 


Tulisan ini dimuat di Harian Umum Kabar Priangan, edisi Kamis (!5/10/2015)

2. Hak Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus 


Ket : Tulisan ini dimuat di Harian Umum Kabar Priangan, edisi Jumat (9/10/2015).

3. Cegah Sadisme Anak Usia Dini


Ket : Tulisan ini dimuat di Harian Umum Kabar Priangan, edisi 8 Oktober 2015. 

4. Kontribusi Pendidikan Madrasah untuk Kemajuan Bangsa


Ket : Tulisan ini dimuat di Harian Umum Kabar Priangan pada Rubrik Pendidikan Kolom Guru Menulis, edisi Jum'at (2/10/2015)

5. Permainan Bakiak Tumbuhkan Karakter Anak


Ket : Tulisan ini dimuat di Harian Umum Kabar Priangan, Kolom Guru Menulis, edisi 01 Oktober 2015.

6. Belajar Untuk Sabar 



Ket : Tulisan ini dimuat di rubrik Pendidikan “Guru Menulis” Harian Umum Kabar Priangan, edisi Selasa, 29 September 2015.

7. Penghargaan yang Membuat Galau



Ket : Tulisan ini dimuat di rubrik Pendidikan “Forum Guru” Harian Umum Pikiran Rakyat, edisi Selasa, 22 September 2015.

8. Operator Sekolah, Motor Baru Penggerak Sekolah



Ket : Tulisan ini dimuat di rubrik Kabar Pendidikan Harian Umum Kabar Priangan, edisi Rabu, 23 September 2015.

9. Guru Eksis Guru Menulis



Ket : Tulisan ini dimuat di rubrik Kabar Pendidikan Harian Umum Kabar Priangan, edisi Rabu, 16 September 2015.

10. Kebijakan yang bijak sana bijak sini



Ket : Tulisan ini dimuat di rubrik Kabar Pendidikan Harian Umum Kabar Priangan, edisi Jumat, 11 September 2015.

11. Ketika Guru Enggan Membaca dan Menulis



Ket : Ket : Tulisan ini dimuat di rubrik Kabar Pendidikan Harian Umum Kabar Priangan, edisi (10/09/2015).

12. Ladang Mengekspresikan Gagasan Para Guru


Ket : Tulisan ini dimuat di rubrik Kabar Pendidikan Harian Umum Kabar Priangan, edisi (09/09/2015). Tulisan perdana Pak Ketua Forum Guru Menulis (Gumeulis), Bapak Caswita. Beliau adalah seorang praktisi pendidikan di Kota Tasikmalaya. Instansi kerjanya saat ini di SD Pengadilan 1 Kota Tasikmalaya. 

13. Menanamkan Nilai-nilai Sumpah Pemuda Pada Pelajar


Setiap tanggal 28 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Sebuah hari yang sangat istimewa dan patut direnungkan oleh kita semua. Mengapa? Karena berawal dari Sumpah Pemuda, kita bisa menikmati kemerdekaan pada sekarang ini. Tentunya,  dengan adanya rasa senasib dan sepenanggungan yang dibangun pada saat itu. Melalui cita-cita atau tujuan yang sama yaitu menuju Indonesia merdeka. Hingga akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, cita-cita tersebut dapat terwujudkan.
Sejatinya, hari Sumpah pemuda jangan hanya menjadi bentuk peringatan semata. Melainkan, harus menjadi momentum untuk meningkatkan jiwa kebangsaan dan solidaritas. Seperti yang telah tertuang dalam sumpahnya, yaitu mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia; mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia.
Tiga sumpah yang singkat dan dapat disederhanakan kembali menjadi sumpah untuk satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Tetapi dengan kesederhaan sumpah itu, telah menumbuhkan spirit yang luar biasa pada jiwa para pemuda pada masa itu. Dan itulah salah satu makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga nilai-nilai Sumpah Pemuda harus ditanamkan kepada para pemuda masa kini, khususnya para pelajar.
Jika zaman dahulu, para pejuang rela berkorban harta dan nyawa. Pantaskah kita merusak dan menghacurkannya di masa ini dengan berbagai perilaku penyimpangan? Seperti tawuran antar pelajar, bolos ketika masuk sekolah dan memilih nongkrong di jalanan, serta begadang di warnet hanya sekedar bermain game online. Padahal tugas utama seorang pelajar adalah untuk belajar.
Dengan belajar yang rajin, untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang relevan dengan zamannya. Sebenarnya, seorang pelajar sedang berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan dan sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa yang telah dilakukan para pahlawan.
Agar menjadi pelajar yang berprestasi di sekolahnya masing-masing, atau lebih jauhnya bisa berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Sesungguhnya, nilai-nilai dari Sumpah Pemuda tak bisa diabaikan. Salah satu nilai yang bisa diteladani adalah sikap pantang menyerah.
Selain itu, menerapkan aturan disiplin waktu belajar. Dalam hal ini, kegiatan belajar di rumah lebih baik dijadwalkan. Misalnya pukul 19.30 WIB sampai 21.00 WIB, sepulang mengaji di masjid. Tujuannya adalah agar belajar menjadi suatu kebiasaan dan kebutuhan. 
Dengan tertanamnya nilai-nilai Sumpah Pemuda pada jiwa pelajarDiharapkan, para pelajar ini bisa mempertahankan nilai-nilai yang terkandung pada satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa yaitu Indonesia. Tanpa terpecah-pecah oleh tindakan sabotase apapun. Semoga… Ket : Tulisan ini dimuat di Harian Umum Kabar Priangan, edisi Rabu, 28 Oktober 2015

Artikel Terkait

#13 Opini Guru Menulis di Kabar Priangan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Berkomentarlah dengan bijak pada form di bawah ini!

loading...